- Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyatakan Presiden Prabowo Subianto lebih mengutamakan banyak kawan daripada memiliki lawan politik.
- Prabowo menunjukkan sikap merangkul setelah Pilpres 2024, terbukti dengan pemberian abolisi dan amnesti kepada tokoh berseberangan.
- Menurut Bamsoet, kepemimpinan Prabowo menghasilkan parlemen yang kondusif, mendorong demokrasi substansial, bukan transaksional.
Suara.com - Anggota DPR RI fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo (Bamsoet) menilai Presiden RI Prabowo Subianto ogah memiliki lawan politik. Ia menyebut kalau politikus Partai Gerindra itu lebih memilih banyak kawan ketimbang lawan.
"Yang seringkali Pak Prabowo katakan, seribu kawan terlalu sedikit, satu kawan terlampau banyak," kata Bamsoet saat peluncuran buku 'Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung' di Parle Senayan, Jakarta, Minggu (15/2/2026).
Bamsoet menilai kalau Prabowo bisa menyatukan perbedaan, khususnya setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 lalu. Setelah dirinya terpilih jadi Presiden, Prabowo justru lebih merangkul lawan-lawannya yang berbeda pilihan.
Ia mencontohkan, sikap Prabowo ini terjadi pada eks Menteri Perdagangan Tom Lembong dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto. Presiden lebih memilih membebaskan mereka setelah ditangkap.
“Siapa yang tidak kenal juga misalnya Tom Lembong, Hasto, itu adalah orang-orang berseberangan ketika Pilpres. Tapi tiba-tiba kita dihentakkan oleh suatu keputusan, Tom Lembong dikasih abolisi, Hasto dikasih amnesti. Itulah yang ingin kita gambarkan,” lanjutnya.
Dari sisi politik, Bamsoet juga menyebut kalau Prabowo cenderung lebih memilih banyak kawan. Di pemerintahannya, ia menilai parlemen sekarang tidak lagi menimbulkan kegaduhan dan kebrutalan.
"Sehingga betul-betul kita berjalan di demokrasi yang substansial, bukan demokrasi transaksional," jelasnya.




