JAKARTA, KOMPAS.com - Jembatan penyeberangan orang (JPO) dibangun sebagai fasilitas keselamatan bagi pejalan kaki untuk menyeberangi jalan di tengah padatnya lalu lintas Jakarta.
Namun, di lapangan, keberadaan JPO belum sepenuhnya ramah bagi semua kalangan. Tangga yang tinggi, akses terbatas, serta kebutuhan mobilitas yang cepat membuat sebagian warga tetap memilih menyeberang langsung di badan jalan.
Dalam kondisi tersebut, keberadaan lift dan eskalator menjadi harapan agar JPO benar-benar dapat digunakan oleh semua orang.
Baca juga: Potret Pejalan Kaki di Jakarta: Tetap Menyeberang Sembarangan meski Ada JPO
Suyanto (52), pedagang buah yang sehari-hari beraktivitas di Tanah Abang, Jakarta Pusat, merasakan langsung keterbatasan akses JPO. Hampir setiap hari, ia harus memindahkan barang dagangan dalam jumlah besar dari satu sisi jalan ke sisi lainnya.
Ia memahami bahwa JPO disediakan untuk keselamatan. Namun, kondisi tangga JPO yang tinggi tanpa fasilitas bantu membuatnya kesulitan memanfaatkan jembatan tersebut.
“Walaupun tahu sebenarnya lebih aman lewat JPO, saya sering memilih menyeberang langsung karena lebih cepat dan tidak terlalu menguras tenaga,” kata dia.
Suyanto mengaku pernah mencoba menggunakan JPO sambil membawa barang dagangan. Namun, pengalaman itu justru memperlihatkan keterbatasan fasilitas yang ada.
“Tangganya tinggi, dan tidak ada lift atau eskalator. Kalau cuma jalan kosong mungkin masih sanggup, tapi kalau sambil bawa beban berat rasanya tidak kuat. Kadang juga kondisi JPO sepi, jadi kurang nyaman,” tutur dia.
Ia berharap fasilitas penyeberangan di kawasan ramai dapat dilengkapi lift atau jalur landai agar ramah bagi pedagang, lansia, maupun penyandang disabilitas.
“Kalau aksesnya mudah, saya yakin banyak orang juga mau pakai JPO. Jadi bukan cuma aman, tapi juga nyaman untuk semua,” ucap Suyanto.
Dikejar Waktu, Pekerja Pilih Jalan SingkatCerita berbeda datang dari Karina (29), karyawan toko ritel di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Mobilitas kerja yang padat membuat setiap menit perjalanan terasa penting.
“Kalau lewat JPO, saya harus naik dulu lalu turun lagi. Itu memakan waktu lebih lama, apalagi kalau sedang buru-buru masuk kerja,” kata Karina saat ditemui di Pasar Minggu, Kamis.
Baca juga: Jadi Sisa Kejayaan VOC, Kasteel Batavia Kini Terkubur di Antara Truk dan Sampah
Ia mengaku tetap menggunakan JPO pada kondisi tertentu, misalnya saat arus kendaraan sangat padat.
Namun, dalam situasi normal, ia cenderung memilih menyeberang langsung ketika melihat ada celah.
“Kadang refleks saja menyeberang di bawah karena lebih cepat. Memang deg-degan, tapi sudah jadi kebiasaan,” ujar dia.
Karina mengatakan kebiasaan tersebut juga dipengaruhi lingkungan sekitar. Banyak pejalan kaki lain melakukan hal serupa sehingga menyeberang langsung terasa sebagai sesuatu yang wajar.
“Kalau sudah kebiasaan, orang lain juga jadi ikut-ikutan,” ucap Karina.
Ia menilai penambahan eskalator bisa menjadi solusi realistis di kawasan dengan mobilitas tinggi pekerja.
“Kalau ada eskalator atau tangganya tidak terlalu tinggi, mungkin saya dan banyak orang lain akan lebih memilih lewat atas,” tutur dia.





