Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyegel gudang kimia di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) milik PT Biotek Saranatama yang sebelumnya mengalami kebakaran. Pestisida di gudang tersebut tercampur dengan air sisa pemadaman api hingga mengalir ke Sungai Cisadane.
Penyegelan disaksikan langsung Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq. Papan bertuliskan ‘Peringatan Area Ini Dalam Pengawasan Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup’ di pasang di bagian depan gedung beralamat di kawasan pergudangan Taman Tekno, Kecamatan Setu.
Sementara pintu gudang tersebut diberi garis polisi. Sebab penyidik masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut.
Hanif mengatakan, KLH telah melakukan peninjauan sejak awal kejadian dan berkoordinasi dengan aparat kepolisian dalam proses penanganan kasus tersebut.
“Kami melakukan peninjauan terkait dengan kasus ini sejak awal kejadian, Bapak Kapolres telah melakukan langkah-langkah Kepolisian dalam waktu yang cepat untuk menangani ini,” ujarnya, dikutip Minggu (15/2).
Menurutnya, KLH bersama pemerintah daerah terus melakukan upaya penanganan, termasuk pemantauan kualitas air dan pengambilan sampel dari aliran sungai yang terdampak pencemaran. Berdasarkan informasi sementara aliran air yang tercemar pestisida telah mencapai wilayah Teluk Naga, Kabupaten Tangerang.
Cegah Paparan Gas BeracunTidak hanya pencemaran Sungai Cisadane, KLH juga menurunkan Tim Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) untuk mengecek gudang yang terbakar.
Tim itu dikerahkan demi mengantisipasi potensi paparan gas beracun dari sisa zat kimia pascakebakaran. Dikhawatirkan gas tersebut dapat membahayakan masyarakat maupun pekerja di sekitar kawasan.
“Kami menugaskan tim yang punya pengalaman dalam mendeteksi dan juga pemulihan bahan-bahan kimia dengan menggunakan beberapa alat khusus,” kata Deputi Bidang PPKL KLH, Rasio Ridho Sani.
Rasio menjelaskan, tim melakukan pengujian udara dengan mengukur beberapa parameter gas berbahaya, di antaranya Hidrogen Sulfida (H2S), Karbon Monoksida (CO), dan Amonia (NH3).
Dari hasil pemeriksaan sementara, ketiga kandungan gas tersebut terdeteksi di area gudang pestisida yang terbakar. Karena itu, tim segera melakukan langkah penanganan dengan mengevakuasi sejumlah bahan kimia yang masih tersisa di dalam gudang.
“Kita mengambil langkah-langkah percepatan penanganan, termasuk juga mengecek di dalam gudang itu ada apa saja bahan-bahan kimia yang harus segera kita pindahkan. Ini langkah-langkah yang kita lakukan saat ini,” ujarnya.
Ridho menyebut, berdasarkan hasil pengamatan awal, kadar gas yang terdeteksi di lokasi masih cukup tinggi dan berpotensi memicu pencemaran udara.
“Ya kan kita bisa merasakan di lokasi bahwa terhirup bau dari sisa bahan kimia. Jadi kami ingin memastikan bahwa udara di sini itu benar-benar aman,” katanya.
Ia menegaskan, pengujian dan mitigasi perlu dilakukan secepat mungkin untuk mencegah penyebaran paparan gas secara meluas yang bisa membahayakan warga.
Karena itu, KLH juga mempertimbangkan langkah pembatasan akses di sekitar lokasi, terutama bila hasil pengujian menunjukkan adanya kandungan zat berbahaya dalam kadar tinggi.
7 Orang DiperiksaDalam kasus kebakaran tersebut, polisi juga masih melakukan penyelidikan. Sejauh ini sebanyak 7 orang telah diperiksa sebagai saksi.
"Untuk sementara sudah 7 saksi. Iya, karyawan di sini,” kata Kapolres Tangsel AKBP Boy Jumalolo saat ditemui, Kamis (12/2).
Boy menyebut, pihak kepolisian masih mendalami apakah terdapat unsur pidana dalam peristiwa kebakaran tersebut. Proses penyelidikan dilakukan sembari menunggu hasil pemeriksaan sampel di lokasi.
“Kita masih mencari peristiwa pidana sambil jalan, nanti karena masih proses penyelidikan,” ujarnya.
Langkah Pemilik GudangTerkait pencemaran lingkungan yang terjadi akibat kebakaran tersebut, Manager Operasional PT Biotek Saranatama, Luki, menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangerang Selatan untuk melakukan upaya penetralan, baik terhadap kualitas udara maupun kondisi air sungai yang terdampak.
“Untuk di udaranya kita menggunakan produk bantuan dari Kementerian Pertanian, kemudian untuk di sungainya kami menyediakan absorben pestisida, untuk penetral pestisidanya itu sendiri,” ujar Luki.
Selain penetralan, pihak perusahaan juga mengeklaim telah melakukan upaya pemulihan ekosistem dengan menebar ribuan ikan ke aliran sungai.
“Hari ini kita juga melakukan pengembalian ekosistem biota yang ada di sungai dengan penebaran sekitar 5.000 ikan yaitu ada ikan lele, gurame, dan nila,” jelasnya.
Luki menambahkan, perusahaan akan melakukan pengecekan berkala terhadap kondisi air Sungai Cisadane dan membentuk tim khusus untuk memantau perkembangan kualitas lingkungan pascakejadian.
“Ya berkala. Kita setiap ini juga ada pengecekan air berkala jadi kita nanti ada tim juga yang menangani itu sendiri,” katanya.
Ke depan, PT Biotek Saranatama juga berencana menggandeng DLH Tangsel untuk memperkuat penanganan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), termasuk langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kita harus menggandeng dari dinas lingkungan hidup karena yang lebih kompeten dengan limbah B3, ini termasuk kalau untuk pencegahan seperti K3 segala macam, kita akan menggandeng juga dinas-dinas terkait,” pungkas Luki.





