Pramono Sebut Bir Pletok Kini Mulai Mendunia: Banyak yang Tanya Halal Gak?

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan minuman tradisional khas Betawi, bir pletok, kini mulai dikenal dan diterima oleh tamu-tamu luar negeri yang berkunjung ke Jakarta.

Hal ini disampaikannya dalam acara Silaturahmi Akbar Kaum Betawi di Museum MH Thamrin, Senen, Jakarta Pusat, Minggu (15/2).

“Bahkan sekarang yang namanya Bir Pletok itu mulai mendunia. Karena selama ini setiap tamu pasti nanya, ini haram atau halal?” ujar Pramono.

Ia menjelaskan, keraguan awal tersebut perlahan hilang setelah para tamu memahami bir pletok tidak mengandung alkohol dan merupakan minuman tradisional Betawi.

“Dan sekarang mereka sudah mau untuk meminumnya. Karena apa? Karena memang sesuatu itu kalau dari awal semua orang curiga. Tetapi kalau dijalani, saya yakin pasti kita akan bisa bersama-sama,” kata dia.

Pramono menegaskan, pengenalan budaya Betawi kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari berbagai kegiatan resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, termasuk dalam penyambutan tamu-tamu asing.

“Sekarang ini, hampir semua kegiatan di Balai Kota, enggak ada yang enggak Betawi. Semuanya,” ucap Pramono.

“Bahkan ketika kami menyambut tamu-tamu luar negeri, pasti warna Betawinya itu tidak lagi ragu-ragu. Dari ujung ke ujung kami sampaikan,” lanjutnya.

Selain soal budaya, Pramono juga menyinggung komitmennya dalam mendukung keputusan-keputusan Fauzi Bowo (Foke) sebagai Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi demi menjaga persatuan masyarakat.

“Saya sampaikan ke Bang Foke. Bang, udahlah. Saya sama Abang ini sami’na wa atho’na. Ikut aja. Apa yang akan diputuskan oleh Bang Foke, saya pegang dan saya yang bertanggung jawab di luar, di dalam pemerintah,” ujar Pramono.

“Sehingga apa yang menjadi keputusan itu enggak boleh lagi mau lonjong mau persegi, Bang, udah, putuskan. Saya yang tanggung jawab. Karena saya memang menginginkan bahwa masyarakat Betawi itu betul-betul menjadi satu,” tambah dia.

Pramono juga mengungkapkan dua gagasannya. Gagasan pertama adalah memperingati Haul Ulama dan Tokoh Masyarakat Betawi.

“Yang pertama, saya ingin bahwa Haul Ulama dan Tokoh Masyarakat Utama, seperti Husni Thamrin tetap kita peringati. Tapi kalau kemudian seluruh warga di Jakarta yang hadir lebih dari 20, 50 ribu di Monas, kemudian kita shalawatan sama-sama bersama dengan Kaum Betawi, kepada ulama-ulama yang mempunyai jasa, itulah yang akan saya inginkan,” katanya.

Ia menilai Monumen Nasional seharusnya juga dimanfaatkan oleh masyarakat Betawi untuk kegiatan keagamaan.

“Jangan kemudian Monas digunakan shalawatan hanya untuk yang lain. Kenapa enggak digunakan oleh Kaum Betawi sendiri?”

Gagasan kedua yang disampaikan Pramono adalah penguatan kegiatan keagamaan melalui Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).

“Saya yakin kalau ini bisa kita adakan, kemudian kita mengadakan MTQ dari bawah. Karena saya melihat salah satu kelebihan Kaum Betawi ini adalah kekuatan keagamaannya itu tidak terbantahkan,” jelas dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rilis Buku How to Prosper Like Emperors, Rezza Anggara Bedah Logika Imperial Feng Shui untuk Bisnis Modern
• 10 jam lalujpnn.com
thumb
Hasil Proliga 2026 Putra: Permalukan Medan Falcons Tirta Bhagasasi, Samator Resmi Lolos ke Babak Final Four
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
PDIP Respons Usulan Abraham Samad yang Disetujui Jokowi soal UU KPK Dikembalikan ke Versi Lama
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Ayo Cari Tahu: Keberuntungan di Tahun Kuda Api
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hadapi Angkutan Lebaran 2026, KAI Daop 2 Bandung Siapkan Layanan dan Pengamanan Maksimal
• 6 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.