Pramono: Saya Ingin Masyarakat Betawi Betul-betul Menjadi Satu

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan keinginannya agar masyarakat Betawi dapat bersatu dan tidak lagi terpecah dalam perbedaan pandangan.

Ia menyatakan siap memegang dan bertanggung jawab penuh atas setiap keputusan yang diambil oleh Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi, Fauzi Bowo atau Foke.

“Apa yang akan diputuskan oleh Bang Foke, saya pegang dan saya yang bertanggung jawab di luar di dalam pemerintah. Sehingga apa yang menjadi keputusan itu enggak boleh lagi mau lonjong mau persegi, Bang, udah, putuskan,” ujar Pramono dalam acara Silaturahmi Akbar Kaum Betawi di Museum MH Thamrin, Senen, Jakarta Pusat, Minggu (15/2).

“Saya yang tanggung jawab. Karena saya memang menginginkan bahwa masyarakat Betawi itu betul-betul menjadi satu,” tambahnya.

Pramono menekankan, persatuan Kaum Betawi menjadi hal penting dalam menjadikan Betawi sebagai identitas kota Jakarta yang kuat dan bermartabat.

“Saya sebagai Gubernur Jakarta ingin sekali menjadikan Betawi itu adalah menjadi identitas kota yang kuat sekali,” kata Pramono.

“Pemerintah DKI Jakarta akan terus berkomitmen menjaga dan mengembangkan budaya Betawi. Dengan yang kita lakukan di antaranya, yang pertama adalah pelestarian budaya Betawi,” lanjutnya.

Pramono menyebut pelestarian tidak hanya dilakukan pada situs besar, tetapi juga cagar budaya Betawi berskala kecil.

“Cagar-cagar budaya Betawi, mari kita cari kembali, yang kecil-kecil juga enggak apa-apa kita rawat kembali. Jangan hanya yang besar-besar seperti museum ini saja menurut saya. Dengan nama besar Husni Thamrin harusnya lebih dari ini. Termasuk jalan masuk ke dalam, harusnya lebih dari ini,” ujarnya.

Selain itu, pembinaan sanggar-sanggar seni juga menjadi perhatian utama.

“Yang berikutnya adalah pembinaan sanggar-sanggar seni. Sekarang ini sudah begitu heboh banget seperti tadi yang kita saksikan bersama. Karena apa? Semua kegiatan pemerintah daerah, pemerintah pusat di Jakarta sekarang ini semuanya pasti menggunakan sanggar-sanggar seni yang ada di Jakarta. Dan mereka setiap hari pasti ada kegiatan,” jelas Pramono.

Pramono juga menyampaikan kritik terhadap karakter Kaum Betawi terkait pentingnya persatuan.

“Dan yang istimewa Kaum Betawi ini, kalau boleh saya mengkritik, masa muji terus kan boleh kritik. Kaum Betawi ini kalau enggak ada lawan, temennya pasti jadi lawan. Tapi kalau ada lawan, waduh semuanya kayak jadi Si Pitung semua,” kata dia.

Ia menambahkan, perhatiannya terhadap Betawi juga tercermin dalam kecintaannya terhadap Persija Jakarta sebagai simbol identitas kota.

“Bahkan saya sekarang ini dikritik dianggap Gubernur terlalu ngurusin Persija. Ya masa saya ngurus yang lain? Ya pasti Persija saya urusin,” ujar Pramono.

“Kemarin kalah 2-0 lawan Arema aja enggak bisa tidur saya,” lanjutnya berseloroh.

Monas-Lapangan Banteng Dipenuhi Acara Betawi

Pramono juga ingin masyarakat Betawi bisa jadi tuan rumah di Jakarta. Berbagai kegiatan bisa dilakukan di tempat-tempat yang jadi pusat kota.

“Yang pertama, saya ingin bahwa Haul Ulama dan Tokoh Masyarakat Utama, seperti Husni Thamrin tetap kita peringati. Tapi kalau kemudian seluruh warga di Jakarta yang hadir lebih dari 20, 50 ribu di Monas. Kemudian kita shalawatan sama-sama bersama dengan Kaum Betawi, kepada ulama-ulama yang mempunyai jasa,” kata Pramono.

Ia menilai Monas seharusnya juga dapat dimanfaatkan oleh Kaum Betawi untuk kegiatan keagamaan. Juga berbagi kegiatan lain.

“Jangan kemudian Monas digunakan shalawatan hanya untuk yang lain. Kenapa enggak digunakan oleh Kaum Betawi sendiri?” tutur Pramono.

“Bahkan saya mengatakan masyarakat Madura saja yang mengadakan shalawatan, tahlilan di Monas saya izinkan, bahkan Jakmania. Masa ini yang punya rumah, yang punya tempat, yang punya segalanya enggak mengadakan untuk itu? Saya enggak habis pikir,” tambah dia.

Eks Seskab era Jokowi itu juga meyakini, penyelenggaraan kegiatan tersebut dapat diperkuat dengan agenda keagamaan lainnya, termasuk Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).

“Saya yakin kalau ini bisa kita adakan, kemudian kita mengadakan MTQ dari bawah. Karena saya melihat salah satu kelebihan Kaum Betawi ini adalah kekuatan keagamaannya itu tidak terbantahkan,” ungkapnya.

Selain itu, Pramono mengusulkan agar pelaksanaan Lebaran Betawi yang biasanya diadakan di Monas, tahun ini dipindahkan ke Lapangan Banteng.

“Dan termasuk nanti Lebaran Betawi yang biasanya diadakan di Monas, kali ini saya mengusulkan, kenapa di Lapangan Banteng?” ujar Pramono.

“Lapangan Banteng sekarang ini sedang direnovasi dan mudah-mudahan segera selesai. Akan terhubung dengan AA Maramis. Tempatnya jadi luas dan bagus,” sambungnya.

Ia berharap Kaum Betawi menjadi pihak pertama yang memanfaatkan Lapangan Banteng setelah renovasi rampung.

“Saya pengin bener nganyari. Yang memakai pertama kalau ini sudah selesai adalah Kaum Betawi. Sebagai tuan rumah,” ucapnya.

Menurut Pramono, pemilihan Lapangan Banteng sebagai lokasi Lebaran Betawi memiliki makna strategis karena kawasan tersebut akan berkembang ke depan.

“Sehingga itu akan mempunyai makna karena saya tahu salah satu hal yang akan berkembang ke depan adalah Lapangan Banteng,” kata dia.

Berharap Betawi Lebih Maju

Sementara itu, Fauzi Bowo (Foke) menyampaikan apresiasi atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan Pramono.

“Bang Anung telah secara ikhlas memberi kepercayaan dan jembatan emas pada Kaum Betawi melalui Majelis Kaum Betawi untuk mengekspresikan kultur budaya dan tradisi di kampungnya sendiri. Kaum Betawi bertekad untuk memanfaatkannya dengan penuh tanggung jawab,” ungkap Foke.

Foke juga menegaskan kesiapannya memegang amanah sebagai Ketua Dewan Adat.

“Saya sebagai Ketua Dewan Adat yang didaulat tadi, memang enggak ada cerita mundur katanya. Cuman satu, saya minta dikasih catatan. Kalau saya tidak bertanggung jawab, suruh saya mundur. Dan saya akan mundur dengan teratur,” tegas dia.

Ia menekankan seluruh keputusan yang diambil Majelis Kaum Betawi bersifat konsisten dan merupakan hasil kebulatan tekad bersama.

“Posisi kesepakatan dan keputusan yang diambil sejak awal, kalau istilah temen-temen saya di sini ini, enggak bergerak Pak Gubernur. Jadi tidak berubah, konsisten. Mau konferensi beberapa kali juga lagi, tetap akan seperti itu katanya. Dan ini merupakan kesepakatan dan kebulatan tekad kami,” katanya.

Foke juga memaparkan berbagai program yang telah disusun, mulai dari kegiatan Ramadan hingga Lebaran Betawi.

“Rencana kegiatan di bulan Ramadan juga sudah tersusun. Buka puasa bersama, andilan, potong kerbau bersama. Kemudian acara puncaknya adalah Lebaran Betawi, yang sesuai arahan Bang Anung bakal kita rayain di Lapangan Banteng kali ini,” ungkap Foke.

Ia menyebut langkah-langkah tersebut sebagai upaya membawa Kaum Betawi semakin maju dan sejajar dengan kelompok masyarakat lainnya di Jakarta.

“Langkah-langkah ini insya Allah akan membawa Kaum Betawi lebih maju lagi, sejajar dengan kaum-kaum lainnya yang ada di Jakarta kota global ini,” jelas Foke.

“Kalau Betawi pada rukun, insya Allah kaum yang lain pada hormat,” tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arema Hajar Semen Padang 3-0, Marcos Santos: Taktik Kami Berjalan
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Super League: Sempat Terganggu Flare, Persija Kalahkan Bali United
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Profil Kim Ju Ae, Putri Kim Jong Un yang Jadi Calon Penerus Ayahnya Pimpin Korea Utara, Sering Diajak Hadiri Acara Internasional
• 18 jam lalugrid.id
thumb
Akpol Resmikan Lobby Parama Satwika, Bakti Angkatan 1998
• 10 jam laludetik.com
thumb
Update Harga iPhone 15 Series per 15 Februari 2026, Makin Terjangkau
• 18 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.