Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas dunia diproyeksikan mencetak rekor baru hingga menembus level US$6.500 per troy ounce pada akhir 2026, didorong oleh akumulasi sentimen geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan optimisme itu didasarkan pada akumulasi sentimen global yang kian memanas, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga pergeseran arah kebijakan bank sentral AS.
"Dengan berbagai faktor pendukung yang ada, harga emas berpeluang melanjutkan penguatan. Bahkan hingga akhir tahun, tidak menutup kemungkinan harga logam mulia dapat menuju level US$6.500 per troy ounce," ungkap Ibrahim dalam proyeksi terbarunya, Minggu (15/2/2026).
Untuk perdagangan 16—20 Februari 2026, Ibrahim memproyeksikan bahwa harga logam mulia domestik akan bergerak menguji level resistance pertama di angka Rp3 juta per gram. Namun, apabila momentum penguatan berlanjut, harga emas batangan lokal berpotensi melaju ke Rp3,15 juta per gram.
Sebaliknya, jika terjadi koreksi, dia menuturkan bahwa support pertama harga emas dunia diperkirakan berada di level US$4.947 per troy ounce, yang dapat menyeret harga logam mulia domestik ke level Rp2,92 juta per gram.
Ibrahim menggarisbawahi bahwa ketegangan di Timur Tengah menjadi motor utama penggerak harga. Pengiriman kapal induk kedua AS, USS Gerald R. Ford, ke wilayah tersebut mengindikasikan adanya eskalasi militer yang serius.
Baca Juga
- Harga Emas Perhiasan Hari Ini 15 November Termurah Rp472 Ribu per Gram
- Harga Ekspor Konsentrat Tembaga dan Emas Naik Lagi hingga Akhir Februari 2026
- Harga Emas Spot Melaju Usai Inflasi AS Terkendali, The Fed Pangkas Suku Bunga?
Situasi tersebut, lanjutnya, akan memicu ketidakpastian global dan mendorong para investor untuk mengalihkan aset mereka ke emas selaku safe-haven.
Selain itu, melambatnya data inflasi inti AS pada Januari 2026 ke 2,4% membuka peluang bagi The Fed untuk kembali memangkas suku bunga yang dapat memberikan sentimen positif bagi emas karena indeks dolar AS melemah.
“Permintaan global juga tetap solid seiring dengan langkah bank sentral China yang terus melakukan penambahan cadangan emas mereka sebagai bagian dari diversifikasi devisa,” pungkas Ibrahim.
Melansir Bloomberg, pada perdagangan spot hingga Jumat (13/2/2026), harga emas naik 2,2% ke US$5.031,52 per troy ounce. Perak melonjak 2,5% ke US$77,16 per troy ounce, sementara platinum dan paladium juga meningkat.
Secara historis, emas sempat mencetak rekor di atas US$5.595 per ounce pada akhir Januari 2026, didorong gelombang aksi beli spekulatif. Namun, reli berbalik arah di akhir bulan, menyeret harga kembali di bawah US$5.000 per ounce.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan meski pergerakannya fluktuatif, emas tetap berpeluang bergerak positif ke depan.
“Harga emas pekan depan diperkirakan berkisar di rentan US$4.900 hingga US$5.100 per troy ounce pekan depan,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).
Menurutnya harga emas di pasar spot ditutup pada perdagangan akhir pekan lalu dengan rebound cukup kuat setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan memicu meningkatnya prospek pemangkasan suku bunga.
Walaupun data ekonomi AS terutama tenaga kerja yang masih kuat, tetapi The Fed dinilai akan merespons inflasi dalam menentukan kebijakan suku bunga.
***
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual emas. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





