Jurnalisme Berkualitas: Menjawab Kegelisahan Publik?

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Pernyataan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria tentang pentingnya jurnalisme di tengah banjir konten berbasis kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) menyentuh kegelisahan mendasar publik hari ini. Ia pun meyakini publik akan rela membayar jurnalisme berkualitas. Pertanyaannya: bagaimana membedakan kebenaran dari ilusi yang tampak meyakinkan?

Di era ketika AI mampu menulis berita, membuat foto, bahkan memproduksi video yang nyaris tak terbedakan dari peristiwa nyata, kebenaran tidak lagi hadir secara otomatis. Ia harus dicari, diverifikasi, dan dipertanggungjawabkan. Di titik inilah jurnalisme menemukan kembali martabat dan peran historisnya.

AI Cepat, Jurnalisme Bertanggung Jawab

Konten berbasis AI bekerja dengan kecepatan, pola, dan probabilitas. Ia tidak memiliki nurani, empati, atau tanggung jawab moral. AI hanya mengolah data—tanpa memahami luka korban, kompleksitas konteks sosial, atau dampak etis sebuah narasi. Ia beroperasi setelah ada perintah dari manusia.

Sebaliknya, jurnalisme sejati bekerja dengan kesadaran etis: memeriksa fakta, menghadirkan konteks, menjaga keutuhan peristiwa, dan memberi ruang bagi suara yang sering terpinggirkan. Ia berpihak pada kebenaran, demokrasi dan hak asasi manusia

Ketika AI dapat “mengarang” peristiwa, jurnalis justru dituntut menghadirkan realitas apa adanya, meski pahit, kompleks, dan tidak sensasional. Inilah pembeda mendasar antara konten dan jurnalisme. AI bisa diarahkan, jurnalisme harus mengikuti prinsip yang menjadi konsensus bersama

Analogi Pendidikan: Membayar untuk Mutu

Keyakinan yang disampaikan Nezar Patria—bahwa publik akan rela membayar mahal jurnalisme berkualitas—sangat relevan. Menurut penulis, seperti pendidikan bermutu tidak hanya soal gedung atau fasilitas, tetapi tentang proses pembentukan manusia. Demikian pula jurnalisme berkualitas bukan sekadar berita cepat, tetapi kerja Panjang, check and recheck, membangun kepercayaan publik.

Di tengah banjir informasi gratis, justru yang menjadi mahal adalah: kebenaran yang diverifikasi, laporan yang berimbang, dan narasi yang adil. Oleh karena jurnalisme berkualitas adalah jurnalisme yang dapat dipertanggungjawabkan integritasnya dan keberpihakannya pada kepentingan publik.

Jurnalis senior Andreas Harsono kerap menegaskan bahwa jurnalisme sejati menuntut keberanian moral, bukan sekadar kecakapan teknis. Ia mengingatkan bahwa: jurnalisme harus berpihak pada fakta, memberi suara pada yang tak terdengar, dan menolak tekanan kekuasaan maupun pasar. Dalam era AI, keberanian ini justru semakin penting, karena hoaks dan disinformasi sering tampil lebih menarik daripada kebenaran.

Jika orang tua rela berinvestasi demi masa depan anak dengan membayar mahal pendidikan anaknya, maka masyarakat pun perlu berinvestasi demi kesehatan demokrasi dan ruang publik yang waras. Berlangganan jurnalisme berkualitas bukan gaya hidup elit, melainkan tanggung jawab warga negara.

Penelitian Dandi Supriadi (Jurnal Kajian Jurnalisme, Vol. 3 Nomor 2, 2020) tentang Kompas.id (media digital berbayar dari Kompas) menunjukkan bahwa dari 348 responden, lebih dari 65 % memiliki motif tinggi untuk berlangganan berbayr karena alasan kualitas dan pengalaman pengguna, meskipun informasi serupa juga tersedia secara gratis. Ini memberikan contoh lokal bahwa sebagian pembaca memang rela membayar untuk layanan berita yang mereka anggap bernilai tinggi.

Mayoritas konsumen berita secara global masih enggan membayar untuk akses berita online, terutama apabila ada banyak pilihan gratis, rendahnya kepercayaan terhadap media, atau kurangnya persepsi nilai tambah dari konten berbayar.

Namun, segmen pembaca tertentu menunjukkan kesiapan untuk membayar, terutama bila kontennya dianggap lebih berkualitas, bebas iklan, atau memberikan pengalaman lebih baik — seperti yang terlihat dalam penelitian Kompas.id di Indonesia.

Tantangan di Indonesia: Literasi dan Kepercayaan

Di Indonesia, tantangan jurnalisme bukan hanya AI, tetapi juga: rendahnya literasi media, budaya viral yang mengalahkan akurasi, serta polarisasi sosial-politik. Publik menghendaki ada arus utama yang menjadi pegangan bersama dari otoritas seperti jurnalisme berkualitas ini.

Dalam kondisi ini, jurnalisme berkualitas berperan sebagai penjaga kewarasan kolektif. Ia tidak sekadar melaporkan apa yang ramai, tetapi apa yang penting. Tidak hanya siapa yang benar, tetapi mengapa sesuatu terjadi dan apa dampaknya bagi masyarakat luas. Ia menjadi acuan publik dalam kewarasan berpikir.

Hal ini selaras dengan pendapat pakar jurnalisme publik Jay Rosen. Ia menekankan bahwa jurnalisme bukan sekadar penyampai informasi, melainkan penjaga kualitas ruang publik (public sphere). Dalam konteks AI dan banjir konten, Rosen mengingatkan bahwa: tanpa jurnalisme bermutu, ruang publik akan dikuasai manipulasi, emosi akan mengalahkan nalar, dan warga kehilangan dasar bersama untuk berdialog. Artinya, membayar jurnalisme berkualitas sama dengan merawat ruang hidup demokrasi.

Masa Depan Jurnalisme: Manusia di Pusat

AI seharusnya menjadi alat bantu jurnalisme—mempercepat riset, mengolah data, atau memperluas jangkauan—bukan menggantikan penilaian moral manusia. Masa depan jurnalisme justru menuntut jurnalis yang: lebih reflektif, lebih berani bersikap etis, dan lebih setia pada kebenaran daripada klik.

Pernyataan Nezar Patria mengingatkan kita bahwa di tengah kecanggihan teknologi, nilai manusia tetap tak tergantikan. Kebenaran tidak lahir dari algoritma semata, melainkan dari integritas.

Hal ini selaras dengan pandangan ahli etika pers Indonesia Ignatius Haryanto. Ia menekankan bahwa krisis jurnalisme hari ini bukan hanya soal teknologi, tetapi hilangnya kesabaran etis. Menurutnya, jurnalisme yang tergesa-gesa mudah menjadi alat manipulasi. AI mempercepat segalanya, tetapi jurnalisme berkualitas justru membutuhkan jeda reflektif: memastikan akurasi, dampak sosial, dan martabat manusia dalam setiap berita. Integritas menjadi syarat mutlak.

Pandangan para Jay Rosen, Andreas Harsono dan Ignatius Haryanto di atas memperkuat tesis Nezar Patria bahwa: jurnalisme manusiawi tidak tergantikan AI, verifikasi, konteks, dan keutuhan peristiwa adalah nilai premium, dan publik pada akhirnya bersedia membayar untuk kepercayaan.

Seperti pendidikan, mutu jurnalisme tidak lahir dari kecepatan dan sensasi, tetapi dari integritas dan tanggung jawab.

Di tengah banjir konten AI, jurnalisme berkualitas bukan sekadar produk informasi, melainkan institusi moral. Membayar jurnalisme bermutu berarti: melindungi kebenaran, menjaga kewarasan publik, dan merawat demokrasi. Tanpa itu, kita mungkin akan kaya informasi—namun miskin makna dan kepercayaan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita bisa mendapatkan informasi gratis, tetapi apakah kita masih mau membayar harga untuk kebenaran. Jika publik menginginkan demokrasi yang sehat, pemberitaan yang berimbang dan adil, empati sosial yang terawat, dan ruang digital yang manusiawi, publikasi suara mereka yang terpinggirkan, maka jurnalisme berkualitas bukan pilihan tambahan—melainkan kebutuhan bersama.

Dan seperti pendidikan, mutu jurnalisme selalu menuntut investasi: dari media, dari jurnalis, dan dari kita semua sebagai publik.

Selamat Hari Pers Nasional 2026.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indonesia Jadi Tuan Rumah Tinju Asia U-23 2026, Hillary Lasut Siap Cetak Juara Muda
• 12 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Foto: Serunya Fun Run Bareng Teman kumparan Edisi Bulan Februari
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Mahalini Sukses Gelar KOMA Live in Concert Kerinduan Penggemar Akhirnya Terobati di Hari Kasih Sayang
• 29 menit laluparagram.id
thumb
Kasus Pelajar Tewas di Kampung Gajah: Motif Dendam, Pelaku Gunakan Ponsel Korban untuk Alibi
• 34 menit lalukompas.tv
thumb
Minggu 15 Februari 2026: SIM Keliling Layani Perpanjangan di Jakarta dan Tangsel
• 15 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.