AI Jadi Instrumen Geopolitik Baru, Kecepatan Adopsi Tentukan Kemenangan Global

wartaekonomi.co.id
5 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kecerdasan buatan (AI) kini telah bergeser dari sekadar teknologi komersial menjadi instrumen geopolitik krusial yang menentukan keamanan nasional dan keseimbangan kekuatan global. Kecepatan sebuah negara dalam mengadopsi AI diprediksi akan menjadi faktor penentu kemenangan di panggung dunia.

CEO Palo Alto Networks Eropa, Timur Tengah dan Afrika, Helmut Reisinger mengungkapkan bahwa AI secara fundamental telah mengubah lanskap keamanan dan strategi pertahanan negara.

Baca Juga: Samsung S26 Ultra Bawa Kemampuan Fotografi Malam Terbaik, AI Night Vision dan Optical Zoom Canggih Jaminan Jernih!

“AI benar-benar mengubah banyak hal. Dari kebijakan nasional, pertahanan negara, hingga cara operasi di medan perang. Seperti perang drone mengubah battlefield, AI juga berdampak besar pada keamanan siber,” ujar Helmut dalam keterangannya, Minggu (15/2/2026).

Era Agentic AI

Dunia saat ini disebut tengah bertransisi dari gelombang pertama AI menuju fase agentic AI. Jika sebelumnya AI hanya berfungsi menghasilkan atau merangkum teks, kini sistem AI mampu bertindak sebagai agen yang menjalankan tugas secara mandiri.

“Kita datang dari gelombang pertama AI yang membentuk ulang teks dan input. Sekarang kita masuk ke agentic AI yang benar-benar mendorong adopsi, lalu menuju AI dalam produksi,” tambahnya.

Baca Juga: Tren Karikatur ChatGPT di Indonesia jadi Ketiga Terbesar Asia-Pasifik, Bukti Antusiasme Tinggi pada Teknologi

Meski demikian, Helmut menekankan bahwa keunggulan strategis suatu negara tidak hanya bergantung pada kepemilikan teknologi, melainkan pada kecepatan dan pengawasan adopsinya.

“Bukan semata teknologinya, tetapi kecepatan dan adopsinya harus dipantau secara hati-hati. Di situlah keunggulan besar bisa tercipta," tandasnya.

Regulasi Sebagai Senjata Strategis

Kini, regulasi AI bukan lagi sekadar aturan teknis, melainkan bagian dari strategi nasional. Uni Eropa telah mengambil langkah awal melalui EU AI Act, regulasi komprehensif pertama di dunia yang mengklasifikasikan risiko AI, terutama di sektor kritikal dan infrastruktur publik.

“Regulasi besar pertama yang disahkan secara global adalah European AI Act. Saya pikir itu pendekatan yang seimbang,” kata Helmut.

Langkah serupa mulai diikuti Amerika Serikat, di mana negara bagian seperti Illinois, Texas, dan California telah menerbitkan aturan mandiri. Hal ini mempertegas bahwa AI telah menjadi isu kepentingan nasional (national interest).

Posisi Indonesia

Bagi Indonesia, tren ini menjadi sinyal penting untuk memandang AI sebagai instrumen strategis dalam transformasi digital. Kecepatan dalam membangun kerangka regulasi dan perlindungan keamanan siber akan menentukan posisi Indonesia: menjadi pemain aktif di kancah global atau hanya sekadar menjadi pasar bagi teknologi asing.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perubahan dan Gambar Bentuk Payudara Saat Hamil Muda
• 10 jam lalutheasianparent.com
thumb
Viral Mobil Dinas di Tuban Diduga Ubah Pelat Hitam agar Bisa Isi Pertalite
• 15 jam laludetik.com
thumb
Harga Ekspor Konsentrat Tembaga dan Emas Naik Lagi hingga Akhir Februari 2026
• 15 jam lalubisnis.com
thumb
Marah-Marah kepada Wasit usai Dikalahkan Inter Milan, Giorgio Chiellini dan Damien Comolli: Kami Bersatu Melawan Ketidakadilan
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Hal-Hal yang Tidak Membatalkan Puasa, tapi Merusak Pahalanya
• 15 menit lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.