Dari Balik Dapur MBG, Eks Narapidana Menata Ulang Hidupnya

liputan6.com
2 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Siang itu, di sudut meja persiapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ramadana, Kecamatan Laura, Sumba Barat Daya, Frederick Norewa berdiri dengan pisau di tangan. Potongan ayam, irisan wortel, kacang panjang, buncis, hingga tempe tertata rapi menunggu tim juru masak Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Saya potong-potong ayam kalau ada menu ayamnya, terus wortel, kacang panjang, buncis, tempe. Bawang ada juga, bawang putih, bawang merah,” ujarnya saat ditemui di tempatnya bekerja, Jumat (13/2/2026).

Advertisement

BACA JUGA: Efisiensi Terbukti Efektif, Prabowo: 4 Kali Lipat Dibanding 2024

Frederick adalah bagian dari tim persiapan dapur program MBG. Tugasnya mungkin terlihat sederhana, tetapi dari tangannya ribuan porsi makanan bermula. Ia memperkenalkan diri dengan tenang. “Saya Frederick Norewa, asal dari Desa Letekonda.”

Di balik ketenangan itu, ada cerita panjang yang tak mudah. Tahun 1991 silam menjadi titik gelap dalam hidupnya. Frederick terseret kasus penganiayaan berat akibat sengketa batas tanah dengan sepupu jauhnya. “Itu masalah perbatasan tanah. Bukan karena ekonomi,” katanya.

Awalnya hanya adu mulut. Namun situasi memanas. “Yang pertama itu kita masih sempat bersilat lidah, terus kita masih baku ancam, payu kudung, terus kali ketiga itu sempat terjadinya kriminal itu. Mereka ada empat orang. Saya sendirian. Saya takut, begitu saya ayun langkah, satu kali. Tangannya putus,” jelasnya.

Vonis delapan tahun dijatuhkan hakim. Ia mengajukan keringanan dan akhirnya menjalani hukuman enam tahun, yang dipotong remisi menjadi empat tahun enam bulan.

Kini peristiwa itu telah lama diselesaikan secara adat. Hubungan mereka pun kini kembali membaik. “Kemarin sudah damai. Dengan satu ekor kuda dan satu ekor kerbau”. Nada suaranya datar. Tak ada lagi amarah, hanya sisa kenangan.

Keluar dari penjara bukan berarti bebas dari hukuman sosial. Frederick kembali ke kebun. Jika ada proyek bangunan di sekitar desa, ia bekerja sebagai tukang pasang batu.

“Kalau kerja bangunan, 60 sampai 80 ribu per hari. Tapi itu pun kalau ada panggilan,” ujarnya.

Hasil kebun lebih tak menentu lagi. “Setahun paling sekitar 7-8 juta. Itu pun kalau panennya bagus”. Curah hujan yang tak pasti kerap membuat gagal panen. Ia menyebutnya sederhana: “Alam yang berkuasa.”

Tak mudah memulai lagi dengan label mantan narapidana. “Secara pribadi memang sulit. Tapi apapun dan bagaimanapun, saya jalani,” katanya tegar.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sony Luncurkan A7 V, Kamera AI untuk Foto dan Video Berkecepatan Tinggi
• 5 jam lalugenpi.co
thumb
Tips Memasak Mie Instan Kuah yang Lebih Sehat, Gunakan Bumbu Dapur
• 10 jam lalugenpi.co
thumb
BRIS Super League: Kalah Telak di Kandang Arema FC, Pelatih Semen Padang Bongkar Kesalahan Timnya
• 40 menit lalubola.com
thumb
Membanggakan! Pembalap Indonesia, Qarrar Firhand Juara WSK Euro Series 2026
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Unisba Kukuhkan Lebih dari 1.200 Wisudawan
• 1 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.