Kapitil dan Beberapa Contoh Kata Baru dalam KBBI

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bahasa Indonesia bukanlah entitas statis; ia bergerak dinamis selaras kehidupan manusia yang terus berubah. Kamus besar berfungsi merekam perubahan itu, baik kosakata baku maupun yang berasal dari ragam percakapan. Bukan sekadar daftar, Kamus Besar Bahasa Indonesia mencerminkan sejarah, praktik sosial, budaya, dan teknologi masyarakat yang menggunakannya.

Kata kapitil yang baru masuk KBBI misalnya, memantik diskusi hangat tentang peran kamus. Kapitil berarti huruf kecil lawan kapital. Kata ini diberi label ragam cakapan, bukan kata baku formal. Ungkapan ini menunjukkan bahwa KBBI bukan hanya milik akademisi atau penulis resmi saja. Penyusunnya mencatat kosa kata yang hidup dan dipakai masyarakat luas.

Pernyataan itu ditegaskan oleh Ivan Lanin, anggota tim penyusun KBBI edisi V. Dalam cuitannya di X, Ivan menjelaskan bahwa kamus besar memang merekam ragam tidak baku dan ekspresi sehari-hari. Kepustakaan leksikografi modern juga menempatkan kamus besar sebagai dokumen linguistik deskriptif, bukan preskriptif.

Kata kapitil menarik secara linguistik karena termasuk fonestem. Istilah ini mengacu pada pola bunyi yang berhubungan dengan makna. Menurut Kepala Redaksi KBBI, Dewi Puspita, vokal i dalam bahasa Indonesia sering diasosiasikan dengan makna kecil, sedangkan a atau o sering terasa lebih besar.

Keterlibatan publik dalam penetapan entri baru juga menarik. Beberapa warganet menganggap kapitil sebagai kata lucu atau tidak senonoh. Namun, Dewi menegaskan bahwa tanggapan masyarakat tetap dipertimbangkan oleh tim redaksi KBBI. Evaluasi terhadap kosa kata baru dilakukan secara hati-hati berdasarkan data penggunaan nyata.

Proses kata baru masuk KBBI mengikuti syarat tertentu. Menurut laman resmi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, kata tersebut harus unik dan belum memiliki makna serupa dalam bahasa Indonesia. Kata baru juga harus eufonik atau nyaman dilafalkan, serta bisa dibentuk atau membentuk kata lain. Syarat penting lain adalah tidak berkonotasi negatif.

Kriteria lazim dipakai menjadi penentu utama. Kata yang sering muncul dan digunakan secara berulang dalam media sosial, percakapan, maupun konteks lain berpeluang dicatat dalam KBBI. Hal ini terlihat jelas dalam pembaruan entri KBBI pada Oktober 2025. Dalam Kompas (3/10/2025) disebutkan bahwa ribuan entri baru disahkan mengikuti perguliran penggunaan nyata itu.

Berikut ini adalah beberapa contoh kata baru yang masuk KBBI per Oktober 2025.

1. Kapitil: Huruf kecil (lawan kapital).

2. Galgah: Rasa lega di kerongkongan setelah minum.

3. Palum: Kondisi tidak haus lagi setelah minum.

4. Saltik: Salah tik dalam mengetik teks.

5. FYI: Singkatan For Your Information.

6. Hadeh: Kata seru untuk ekspresi frustrasi ringan.

7. Hiks: Onomatope suara sedih kecil.

8. Bucin: Singkatan budak cinta, orang tergila-gila pada pasangan.

9. Alay: Gaya berlebihan untuk menarik perhatian.

10. Kepo: Keingintahuan berlebihan terhadap urusan orang lain.

11. Lebay: Berlebihan dalam ekspresi atau tindakan.

12. Mager: Malas gerak, enggan bergerak atau beraktivitas.

13. Julid: Iri atau dengki, sering muncul dalam komentar negatif.

14. Ambyar: Keadaan hancur atau terpecah-pecah, kehilangan fokus.

15. Gebetan: Seseorang yang dikagumi atau ditaksir.

16. Cie: Kata seru untuk memuji atau menggoda.

17. Pansos: Panjat sosial, mencari perhatian untuk menaikkan status.

18. Bokap: Istilah slang untuk ayah.

19. Jastip: Jasa titip barang bagi orang lain.

20. Oalah: Kata seru untuk ekspresi kejutan.

Kata-kata ini mencerminkan ragam kosakata yang hidup di masyarakat urban dan digital. Fenomena munculnya FYI atau pansos menunjukkan bagaimana bahasa Indonesia menyerap istilah asing dan pergeseran makna sosial ke dalam sistem bahasanya.

Namun, bukan semua kata populer otomatis dimasukkan ke KBBI. Redaksi Kamus Besar tetap menekankan bahwa bukti penggunaan harus konsisten, bukan sesaat di media sosial. Bahasa media sosial sering berubah cepat, tetapi kata yang masuk KBBI biasanya menunjukkan ketahanan dan distribusi penggunaan yang luas.

KBBI memperbarui entri setiap April dan Oktober secara rutin. Pembaruan ini merupakan bagian dari komitmen Badan Bahasa untuk menjaga relevansi bahasa Indonesia dengan perkembangan sosial, teknologi, dan budaya. Ribuan entri baru yang masuk menunjukkan adaptasi bahasa terhadap kehidupan zaman now.

Fenomena pergeseran bahasa ini bukan hanya soal kata baru. Ia mencerminkan perubahan cara manusia berkomunikasi. Media sosial dan komunikasi digital menjadi laboratorium bahasa yang tak terhindarkan. Kata baru seperti mager dapat merefleksikan gaya hidup era gig economy, sedangkan kepoi menunjukkan kecenderungan ekspresi emosional online.

Memahami kata-kata baru dalam KBBI artinya memahami dinamika budaya dan hubungan sosial. Bahasa yang hidup adalah bahasa yang terus berevolusi. Kamus besar merekam perubahan itu dengan metodis, evidensial, dan berorientasi pada kenyataan penggunaan.

Pembaruan KBBI menunjukkan bahwa bahasa Indonesia bukan warisan statis yang dikunci dalam prasasti formal, tetapi tubuh hidup yang bernafas bersama masyarakatnya. Selama manusia berbicara, bahasa Indonesia akan terus bertambah, berkembang, dan kaya dengan kata-kata yang merekam sejarah linguistik kita.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rumor iPhone 18 Pro Mulai Terkuak, Ini Deretan Hal Baru yang Digosipkan
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
Digelar di Bali, Kemala Run 2026 Galang Donasi untuk Korban Bencana
• 1 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Raup Omzet Fantastis Jualan di Festival Ikan Bandeng Jakbar Dalam Sehari, Pedagang Full Senyum
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Anggota DPRD Makassar Yulianto Badwi Pastikan Kawal Aspirasi Warga Kecamatan Tallo
• 9 jam laluterkini.id
thumb
Link Surat Edaran Libur Sekolah Awal Puasa dan Lebaran 2026 dari Kemendikdasmen
• 21 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.