Kakatua Maluku atau Cacatua moluccensis adalah salah satu permata dunia burung endemik Indonesia. Kakatua ini hanya ditemukan di kepulauan Maluku Selatan. Habitat aslinya berada di pulau Ceram, Saparua, Haruku, dan Ambon, di mana ia hidup di hutan hujan dataran rendah dan hutan sekunder yang rimbun. Spesies ini panjang tubuhnya mencapai sekitar 46–52 cm dan berat hampir 850 gram. Ukuran ini menjadikannya salah satu kakatua putih terbesar di dunia.
Secara ilmiah Cacatua moluccensis pertama kali dideskripsikan oleh Johann Friedrich Gmelin pada tahun 1788. Sampai kini tetap menjadi satu-satunya anggota spesiesnya tanpa subspesies yang terdaftar. Dalam klasifikasi burung, ia termasuk dalam keluarga Cacatuidae dan ordo Psittaciformes yang dikenal luas sebagai kelompok burung paruh bengkok. Ciri khasnya yang paling menonjol adalah jambul besar yang tersembunyi di kepala, berwarna putih dari luar, dan merah-oranye cerah di bagian dalam yang hanya tampak ketika ditegakkan.
Keindahan fisiknya tidak hanya soal jambul yang memukau. Bulu keseluruhannya tampak putih dengan kilau merah-jambu halus seperti salmon, dan sayap bawah serta ekornya sering menampilkan semburat kuning lembut yang kontras. Paruhnya berwarna abu-abu gelap dan kaki kokohnya membantu ia berpegangan kuat saat mencari makanan di dahan atau tanah. Dalam ilmu ornitologi, kaki seperti ini disebut zygodactyl, dua jari menghadap ke depan dan dua ke belakang, memberi burung ini kemampuan memegang makanan layaknya tangan.
Jantan dan betina Kakatua Maluku sering kali sulit dibedakan dari kejauhan, tetapi ada perbedaan yang elegan di mata mereka. Jantan memiliki iris mata yang hitam pekat, sedangkan betina menunjukkan iris coklat kemerahan. Perbedaan ini membantu para peneliti dan pengamat burung di lapangan menentukan jenis kelamin tanpa harus melakukan intervensi invasif.
Dalam perilaku sosial, Kakatua Maluku terkenal sangat ekspresif dan berenergi. Suaranya termasuk salah satu yang paling keras dan melengking di antara semua burung paruh bengkok, sering terdengar sejak fajar hingga senja saat mereka berkomunikasi atau menandai wilayah. Di habitatnya, burung ini sering terlihat bergerombol kecil atau berpasangan, bergerak aktif mencari buah-buahan, biji-bijian, dan bahkan serangga kecil di tanah.
Makanan utama Kakatua Maluku terdiri atas biji, buah, kacang, dan kadang kelapa muda yang keras. Mereka memegang makanan dengan salah satu kakinya lalu dengan cekatan mematahkan kulitnya menggunakan paruh kuatnya. Kebiasaan makan ini bukan sekadar soal nutrisi, tetapi bagian dari strategi bertahan hidup yang membuat mereka mampu mengeksploitasi sumber makanan beragam di hutan tropis.
Peran ekologis burung ini sangat penting dalam regenerasi hutan di Maluku. Ketika mereka makan buah dan biji, beberapa biji terjatuh jauh dari pohonnya, membantu penyebaran tumbuhan yang berkontribusi pada dinamika dan keanekaragaman hutan. Tanpa peran ini, beberapa spesies pohon lokal mungkin akan lebih sulit tersebar, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi seluruh ekosistem hutan.
Reproduksi Kakatua Maluku biasanya terjadi satu kali dalam setahun, umumnya antara bulan Desember sampai Maret ketika makanan melimpah. Betina akan bertelur sebanyak dua hingga enam butir dalam sarang yang dibangun di lubang pohon besar. Telur-telur ini dierami selama sekitar 30 hari sebelum menetas, dan anak burung akan tetap bergantung pada orang tuanya selama beberapa minggu hingga siap mandiri.
Jika bertahan di alam liar, burung ini bisa hidup puluhan tahun bahkan mencapai lebih dari setengah abad. Di penangkaran yang terawat baik, beberapa individu tercatat hidup lebih lama dari 60 tahun, usia yang luar biasa di dunia burung.
Nama lokal burung ini di masyarakat Maluku beragam, tapi umumnya dikenal sebagai Kakatua Maluku atau Kakatua Jambul Salmon karena warna jambulnya yang eksotik. Ia telah menjadi bagian dari kebudayaan lokal, meskipun sayangnya tidak sepopuler dalam lagu anak-anak seperti beberapa jenis kakatua lain yang tersebar di Indonesia.
Sayangnya, keindahan dan kecerdasan burung ini membawa risiko besar terhadap kelangsungan hidupnya. Populasi Kakatua Maluku terus menurun karena hilangnya habitat hutan akibat deforestasi untuk pertanian dan penebangan kayu, serta penangkapan ilegal untuk perdagangan burung eksotik. Pada puncak perdagangan, lebih dari 6.000 burung telah ditangkap dari alam setiap tahunnya, dan meskipun kini perdagangan ilegal berkurang, ancaman ini masih terus berlangsung.
Status konservasi Kakatua Maluku tergolong rentan menurut Daftar Merah IUCN, dan burung ini juga masuk dalam Lampiran I CITES yang melarang perdagangan internasional satwa liar ini. Perlindungan hukum nasional Indonesia juga berlaku melalui Undang-Undang tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, yang menempatkan spesies ini dalam kategori dilindungi serta mewajibkan upaya pelestarian habitatnya.
Berbagai upaya konservasi telah dilakukan oleh pemerintah dan lembaga swadaya seperti translokasi burung yang diselamatkan dari perdagangan ilegal ke pusat rehabilitasi di Maluku. Contohnya, BKSDA Maluku menerima satwa Kakatua Maluku yang dipindahkan untuk perawatan dan adaptasi sebelum dilepasliarkan kembali ke alam liar sebagai bagian dari upaya menyelamatkan spesies ini.
Ancaman terhadap spesies ini tidak hanya soal populasi yang menyusut. Hilangnya pohon-pohon besar yang dibutuhkan untuk tempat bersarang, seperti matoa (Pometia pinnata) dan kayu-kayu besar lain, turut mengurangi peluang sukses reproduksi. Penelitian habitat menunjukkan bahwa vegetasi tertentu sangat penting bagi kelangsungan hidup dan aktivitas harian mereka, mulai dari tempat bersarang hingga mencari pakan di hutan tropis.





