Pasar Modal Masuk Fase Konsolidasi, Dana Asing Diproyeksi Kembali pada Semester II

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pasar modal Indonesia dinilai tengah memasuki fase konsolidasi setelah menghadapi tekanan bertubi-tubi dari sentimen global. Meski demikian, peluang penguatan dinilai tetap terbuka seiring proses reformasi pasar yang dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO).

Chief Economist BRI Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto menjelaskan potensi aliran dana asing ke pasar modal domestik masih mungkin terjadi pada paruh pertama 2026, terutama setelah rangkaian sentimen global mereda, termasuk langkah penyesuaian indeks oleh MSCI dan lembaga keuangan internasional lainnya.

Memasuki Februari, tekanan pasar memang masih terasa. Investor asing mencatatkan jual bersih Rp9,2 triliun pada awal bulan dan meningkat menjadi Rp16,48 triliun pada perdagangan Jumat (13/2/2026).

Peluang masuknya dana asing kembali ke pasar modal Tanah Air, dinilai dapat terjadi selepas OJK dan SRO memberikan kepastian ihwal upaya reformasi pasar yang tengah dijalankan. Dengan begitu, baru selepas Mei aliran dana asing diprediksi akan kembali masuk.

"Nah, FDI [foreign direct investment] ini kan long term money ya. Jadi pasti mereka melihat, kalau di pasar modal yang jangka pendek masih belum stabil. Ini yang ditakutkan, jadi FDI harus nunggu dulu," katanya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (13/2/2026) petang.

Selain faktor stabilitas, momentum pembagian dividen juga dipandang berpotensi menjadi katalis penguatan indeks. Fundamental emiten yang relatif terjaga membuat tekanan sentimen eksternal dinilai tidak mencerminkan kondisi dasar perusahaan.

Baca Juga

  • Arah IHSG dan Ramalan Saham Cuan di Tahun Kuda Api 2026
  • Suntikan Tenaga Pergerakan IHSG Setelah Liburan Imlek 2026
  • Asing Masih Net Sell, BBCA hingga BUMI Paling Banyak Dijual

Terlebih, di tengah harga saham yang tengah terdiskon, yield dividen yang tinggi dinilai bakal mendorong daya tarik yang lebih besar bagi investor.

"Jadi kalau asingnya buang, kita memilih saham yang fundamentalnya bagus dan relatif asingnya tuh tidak mau keluar karena tahu sahamnya bagus. Nah, biasanya kalau asing melihat sahamnya bagus, mereka akan memiliki posisi long [investment]," katanya.

Dalam konteks makroekonomi, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,1%–5,3% tahun ini. Indeks Keyakinan Konsumen tercatat di level 127, sementara pertumbuhan uang beredar mencapai 9,6%.

Tekanan eksternal seperti arah suku bunga global dan dinamika geopolitik memang masih menjadi faktor risiko. Namun, stabilitas domestik dinilai tetap cukup kuat menopang prospek ekonomi nasional.

"Pada tahun ini, dampak kebijakan ekonomi mulai terasa. Data beli membaik, likuiditas longgar, dan aktivitas usaha meningkat. Biasanya kondisi seperti ini diikuti penguatan pasar modal. Investor yang disiplin memiliki peluang besar untuk menangkap pertumbuhan tersebut," katanya.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kapolri dan Ketua Komisi IV Salurkan 16 Truk Bantuan Kemanusiaan di Tapteng
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polemik Wakaf Alquran 80 Riyal, Taqy Malik Buka Suara
• 1 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Hasil Inter Milan vs Juventus 3-2: Dramatis, Nerazzurri Menang dengan Bantuan Kartu Merah
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
Menangi giant salom, atlet Brasil sabet medali pertama Amerika Selatan di Olimpiade Musim Dingin
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Menjaga Tradisi, Kue Moho di Solo Laris Manis Jelang Imlek 2026
• 3 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.