Bisnis.com, JAKARTA — PT Astra International Tbk. (ASII) memproyeksikan kondisi pasar otomotif nasional akan lebih bergairah sepanjang tahun ini. Hal tersebut seiring target penjualan industri mobil yang dipatok oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sebesar 850.000 unit.
Target penjualan sejatinya dicanangkan di tengah kondisi pasar domestik yang masih lesu sepanjang tahun lalu. Gaikindo mencatat, penjualan mobil secara wholesales sepanjang Januari—Desember 2025 mencapai 803.687 unit.
Realisasi penjualan tersebut memperlihatkan koreksi sebesar 7,2% secara tahunan (year on year/YoY) jika dibandingkan dengan pencapaian pada periode sama tahun 2024 yang mampu menembus angka 865.723 unit.
Sejalan dengan itu, performa penjualan ritel atau distribusi dari dealer ke konsumen juga mengalami tekanan. Penjualan ritel tercatat 833.692 unit, turun 6,3% dari realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 889.680 unit.
Adapun pada pembukaan tahun 2026, total penjualan mobil nasional secara wholesales mencapai 66.446 unit pada Januari 2026. Realisasi ini tumbuh 7,02% jika dikomparasikan dengan Januari 2025 yang tercatat 62.084 unit.
Dari total pasar tersebut, Grup Astra berkontribusi sebanyak 34.867 unit. Volume penjualan perseroan ini mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,97% (YoY) dari capaian periode yang sama tahun lalu sebesar 34.531 unit.
Baca Juga
- Optimisme ASII Tatap Target Penjualan Mobil 850.000 Unit pada 2026
- Astra (ASII) Jual 34.867 Unit Mobil, Pangsa Pasar Tembus 52% Januari 2026
Kenaikan penjualan yang ditorehkan ASII pada awal tahun membuat pangsa pasar perseroan kini bertengger di level 52%. Jumlah ini mengalami kenaikan jika dikomparasikan dengan market share sepanjang 2025 yang mencapai 51%.
Secara rinci, performa penjualan Astra pada Januari 2026 didominasi oleh merek Toyota dan Lexus yang membukukan volume sebanyak 20.127 unit. Volume ini turun 9,05% dari capaian tahun lalu yakni 22.132 unit.
Kendati demikian, penurunan pada merek utama tersebut diimbangi oleh kinerja Daihatsu yang tumbuh signifikan. Penjualan Daihatsu tercatat mencapai 12.513 unit, melonjak 25,34% YoY dari tahun sebelumnya sebesar 9.983 unit.
Head of Corporate Communications Astra, Windy Riswantyo, menyatakan bahwa perseroan berharap kondisi ekonomi makro pada 2026 mampu menunjukkan tren perbaikan sehingga dapat mendorong daya beli masyarakat.
“Secara umum kami berharap consumer sentiment tahun 2026 akan lebih baik dibandingkan tahun 2025 sehingga dapat mendukung pencapaian target dari Gaikindo,” ujar Windy kepada Bisnis, Minggu (15/2/2026).
Terkait segmen kendaraan, Astra melihat model mesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) masih akan mendominasi pasar.
Namun, Windy menggarisbawahi pertumbuhan signifikan pada model kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) dan kendaraan hibrida (hybrid electric vehicle/HEV) dalam beberapa tahun terakhir.
Pertumbuhan segmen elektrifikasi, menurutnya, tidak lepas dari dukungan insentif pemerintah yang merangsang pasar. Perseroan meyakini setiap teknologi memiliki segmentasi pasar masing-masing, tergantung pada daya beli, kebutuhan tipe kendaraan, hingga kesiapan infrastruktur di berbagai wilayah.
“Untuk menjawab kebutuhan yang beragam, Astra menawarkan portofolio yang lengkap mulai dari ICE, hybrid, plug-in hybrid, hingga BEV yang tentu diharapkan dapat memperluas pasar otomotif nasional,” ucapnya.
Di sisi lain, guna menangkap momentum pertumbuhan industri, emiten berkode saham ASII ini terus memperkuat jajaran produknya. Windy mengungkapkan bahwa merek di bawah naungan Astra, seperti Toyota, secara konsisten menghadirkan penyegaran produk maupun model baru setiap tahun.
Beberapa langkah strategis yang telah dilakukan antara lain memperkenalkan Toyota Veloz HEV pada November lalu untuk menyasar pasar MPV dengan harga kompetitif. Selain itu, pada bulan ini, Astra juga memperkenalkan sejumlah lini hibrida terbaru, termasuk New Alphard, New Yaris Cross, hingga New Vios.
Ciptadana Sekuritas memprediksi sektor otomotif bakal mencatatkan pemulihan pada 2026 dengan volume penjualan mobil tembus 900.000 unit. Optimisme ini pun mendorong peringkat sektor otomotif menjadi overweight.
Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Christopher Rusli, menjelaskan bahwa kendati pasar otomotif domestik sempat tertekan sepanjang 2025, momentum perbaikan mulai terlihat pada pengujung tahun lalu. Penjualan Desember 2025 tercatat melompat 26,9% (month to month/MoM) menjadi 94.100 unit.
“Kami memperkirakan pemulihan yang lebih kuat pada 2026 didukung oleh latar belakang makro ekonomi yang membaik. Penangguhan sementara insentif EV [electric vehicle] juga diprediksi akan menguntungkan permintaan segmen ICE dan HEV,” tutur Christopher melalui publikasi riset terbarunya.
Ciptadana memproyeksikan pangsa pasar Grup Astra (ASII) akan kembali mendaki ke level 55% pada 2026, naik dari posisi 51% pada 2025. Hal tersebut didorong normalisasi permintaan serta posisi kuat Astra di segmen ICE dan HEV.
Sementara itu, Analis Maybank Sekuritas Paulina Margareta menunjukkan sikap optimistis yang konservatif terhadap sektor roda empat dengan ekspektasi pertumbuhan volume industri sekitar 5% pada 2026.
Sejumlah katalis positif yang membayangi industri, antara lain peluncuran berbagai produk baru, penurunan suku bunga, serta program unggulan pemerintah yang diharapkan mampu mengangkat permintaan domestik
“Kami tetap optimistis secara hati-hati terhadap sektor otomotif Indonesia,” ucapnya dalam publikasi riset yang terbit pada awal Februari 2026.
Paulina menilai bahwa sejumlah tren struktural diproyeksikan bertahan pada 2026. Pertama, produsen otomotif (original equipment manufacturer/OEM) asal China yang terus merebut pangsa pasar melalui strategi harga agresif.
Kedua, penetrasi kendaraan listrik yang terus meningkat. Ketiga, fenomena konsumen yang melakukan downtrading ke model entry-level yang dinilai lebih tahan banting dibandingkan dengan kendaraan segmen menengah ke atas.
Meski demikian, Maybank Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk ASII dengan target harga berada di level Rp6.700 per saham.
Adapun Ciptadana Sekuritas menetapkan ASII sebagai salah satu pilihan utama. ASII dinilai berada di posisi terbaik untuk menangkap peluang pemulihan sektor secara luas berkat kepemimpinan pasar yang jelas di segmen roda empat.
Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham ASII kini bertengger di level Rp6.650 per saham atau terkontraksi sebesar 0,75% (year to date/YtD). Adapun selama sebulan terakhir, saham perseroan tergerus 5,67%.
Di sisi lain, dari meja konsensus Bloomberg Terminal, sebanyak 26 dari 35 analis yang mengulas saham ASII menyematkan rekomendasi beli dengan target rata-rata harga 12 bulan ke depan mencapai Rp7.134,72 per saham. Estimasi harga tersebut mencerminkan potensi imbal hasil sebesar 7,3% dari level saat ini.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





