JAKARTA, KOMPAS.com - Stan Antam menjadi incaran banyak pengunjung dalam gelaran pameran logam mulia Jakarta International Jewelry Fair (JIJF) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat, yang berlangsung sejak Kamis (12/2/2026) hingga Minggu (15/2/2026).
Pada Sabtu (14/2/2026) pagi, ratusan orang sudah memadati teras Assembly Hall JCC. Mereka berdesakan untuk mendapatkan nomor antrean mengunjungi stan Antam.
Petugas keamanan bernama Bernard pun ditugaskan untuk mengatur kepadatan pengunjung.
Baca juga: Tembok SMPN 128 Jakarta di Kalibata Roboh, Halaman Sekolah Tertutup Reruntuhan
“Saat pagi tadi, saya datang jam 06.30 WIB, itu sudah rame, memang buat Antam doang. Jadi ya sudah kami atur kerumunannya,” kata Bernard saat ditemui di lokasi, Sabtu siang.
Menurut Bernard, penumpukan pengunjung juga terjadi hari sebelumnya di pintu lain. Di dalam pameran, stan Antam tetap menjadi yang paling ramai dikunjungi.
Pihak Antam memberlakukan pembagian nomor antrean mulai pukul 08.00 WIB, sebelum pameran resmi dibuka. Pengunjung diperbolehkan masuk sekitar pukul 08.30 WIB, lebih awal dari jadwal buka resmi pukul 10.00 WIB.
Bernard mengaku baru kali ini dirinya melihat antusiasme pembelian emas Antam begitu tinggi selama ia menjadi petugas keamanan untuk JIJF dalam tiga tahun terakhir.
“Saya juga selama 2-3 tahun jadi sekuriti (JIJF) tiap tahun dari 2023, itu tidak seperti ini membeludaknya,” ungkap dia.
Ia menambahkan, antrean sudah mulai terbentuk sejak malam sebelumnya karena kunjungan ke stan Antam dibatasi hanya 200 orang per hari.
Kalah “war” daringBernard menduga ada promo yang diberikan Antam. Namun, pengunjung tidak menyebutkan hal itu.
Baca juga: Praktik Tambal Sulam Jalan Rusak di Jakarta, Solusi yang Belum Sentuh Akar Masalah
Salah satu pengunjung, Engkos (55), mengungkapkan bahwa kepadatan ini dipicu oleh sulitnya mendapat antrean daring di situs resmi Antam.
Ia mengatakan, hanya tersedia 40 sampai 50 kuota harian untuk bisa membeli emas di butik resmi Antam.
Biasanya Engkos bisa mendapatkan antrean yang dibatasi dua kali sebulan per orang, tapi pada Februari ini, persaingan antrean daring semakin ketat.
Mengetahui adanya stan Antam di pameran ini, banyak warga memilih datang, seperti Engkos.
“Itu mental terus (karena sistem ‘war’), karena kan sekarang enggak bisa offline (belinya), harus (antrean) online dulu. Makanya kalau lagi ada pameran offline kayak gini datang, tapi sama aja ternyata,” ujar Engkos.




