Apa saja yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa wacana Prabowo dua periode kembali mengemuka?
- Apa alasan partai-partai politik hanya mendukung Prabowo dua periode tanpa Gibran?
- Siapa saja nama yang digadang-gadang mendampingi Prabowo di Pilpres 2029?
- Lantas, apakah ada yang mewacanakan Prabowo-Gibran dua periode?
- Apa dampak perbedaan pandangan elite terkait isu Prabowo-Gibran dua periode?
Kendati Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 masih 3 tahun lagi, perbincangan mengenai pencalonan presiden dan wakil presiden mulai menghangat. Setelah sempat beberapa bulan mereda, wacana agar Presiden Prabowo Subianto melanjutkan kepemimpinannya hingga dua periode kembali mengemuka pada awal tahun 2026 ini.
Sejumlah elite politik melontarkan dukungan kepada Prabowo untuk kembali berkontestasi di Pilpres 2029. Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, salah satunya. Bersama dengan sejumlah elite PKB lain, Muhaimin mendatangi Istana Kepresidenan Jakarta untuk menyampaikan dukungan kepada Prabowo untuk melanjutkan kepemimpinan hingga 10 tahun.
Dukungan terhadap Prabowo dua periode tidak hanya datang dari partai-partai politik parlemen, tetapi juga dari partai politik baru, salah satunya Partai Gema Bangsa. Dalam deklarasi, 17 Januari 2026, Partai Gema Bangsa menyatakan dukungannya terhadap Presiden Prabowo Subianto agar kembali dicalonkan pada Pilpres 2029. Ketegasan Prabowo menjadi pertimbangan partai baru itu memberikan dukungan.
Selain PKB, dukungan terhadap Prabowo untuk kembali maju di Pilpres 2029 sebelumnya juga disampaikan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia. Menurut dia, Golkar tidak perlu mencari sosok lain karena Prabowo dinilai sebagai sosok terbaik. Terlebih, Prabowo merupakan mantan kader Golkar.
Namun, dukungan untuk Prabowo maju di Pilpres 2029 itu belum disertai dengan sosok pendamping. Baik PKB maupun Golkar belum menyebut soal sosok calon wakil presiden yang bakal didukung. Nama Wakil Presiden Gibran Rakabuming belum masuk radar untuk kembali dicalonkan mendampingi Prabowo.
Guru Besar Ideologi Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta A Bakir Ihsan menengarai, partai-partai politik masih mencari peluang untuk menempatkan kader sebagai calon wapres untuk mendampingi Prabowo. Hal itulah yang membuat parpol hanya memberikan dukungan dini kepada Prabowo untuk menjadi calon presiden dua periode.
Sejumlah nama petinggi partai politik pendukung pemerintah digadang-gadang untuk mendampingi Prabowo dalam Pilpres 2029 nanti. Mereka, antara lain, Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan, dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.
Sinyal bahwa para ketua umum parpol pendukung pemerintah itu didorong masuk bursa pencalonan wapres pendamping Prabowo sempat dilontarkan Bahlil dalam acara Pengukuhan Akademi Partai Golkar dan Sarasehan Pengaderan di DPP Partai Golkar, Jakarta, Jumat (13/2/2026) malam. Ia mengaku tak ingin seperti ketua umum partai politik lainnya yang berambisi mengejar posisi prestisius lain di luar anggota legislatif saat pemilu.
”Jadi, saya jujur saja karena untuk itu, saya caleg. Eh, wartawan, kamu jangan tanya-tanya saya mau apa lagi, ya. Caleg, ya. Jangan kamu bikin seperti ketum partai lain, mau jadi ini, jadi ini. Enggak. Saya caleg,” tuturnya.
Meski partai-partai politik menyatakan dukungan Prabowo dua periode tanpa mencantumkan Gibran sebagai pendampingnya, masih ada suara yang mendorong Prabowo-Gibran tetap berpasangan pada Pilpres 2029. Dukungan itu salah satunya datang dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
”Kan, sudah saya sampaikan, Prabowo-Gibran dua periode,” ujar Jokowi, akhir Januari lalu.
Dukungan agar Prabowo-Gibran tetap bersama-sama menjalankan pemerintahan hingga dua periode juga datang dari kelompok sukarelawan pendukung Jokowi, Barisan Relawan Jalan Perubahan (Bara JP). Ketua Umum Bara JP Willem Frans Ansanay menegaskan, dukungan terhadap Prabowo-Gibran dalam satu paket itu telah ditetapkan sejak Juni 2025. Sikap itu pun tak lepas dari arahan Jokowi.
”Bara JP ini, kan, ormas. Bukan partai politik. Dan, ormas ini satu komando yang tunduk dan taat pada perintah Pak Jokowi. Kami enggak ada urusan lain-lain dengan partai politik dan sebagainya. Kami diperintah dua periode, ya, kami lakukan,” kata Frans.
Sikap elite politik yang terpecah terhadap isu Prabowo-Gibran dua periode dikhawatirkan akan mengganggu pemerintahan. Terlebih, para ketua umum parpol yang digadang-gadang menjadi calon wapres pendamping Prabowo di Pilpres 2029 kini juga duduk di Kabinet Merah Putih.
Peneliti senior dari Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, mengatakan, pernyataan dukungan dua periode itu berisiko mengganggu soliditas pemerintahan yang dipimpin Prabowo. Tanda-tandanya terlihat dari sikap dukungan partai politik yang tak menyertakan nama Gibran. Terusiknya soliditas sangat merugikan pemerintah. Lebih-lebih pemerintah sedang menghadapi sederet masalah krusial yang membutuhkan kekompakan segenap anggota kabinet.
Lili menilai, isu politik praktis yang muncul terlalu dini juga mengakibatkan program-program pemerintah justru terlupakan. Situasinya semakin sulit jika merujuk porsi kabinet yang didominasi elite-elite partai politik. Kontestasi politik juga masih cukup jauh untuk dibicarakan dalam waktu dekat.





