Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan layanan beli sekarang bayar nanti atau buy now pay later (BNPL) di industri multifinance diperkirakan akan tinggi pada 2026.
Meski begitu, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi membeberkan beberapa tantangan yang akan dihadapi, seiring meningkatkan permintaan layanan BNPL di multifinance.
“Tantangan utama menurut saya meliputi risiko over-indebtedness konsumen, potensi kenaikan NPF jika kondisi ekonomi melemah, serta persaingan yang semakin ketat antar pemain,” ungkapnya kepada Bisnis, dikutip pada Senin (16/2/2026).
Selanjutnya, penguatan regulasi dan pengawasan juga dia nilai dapat meningkatkan biaya kepatuhan. Dia meneruskan, isu perlindungan data dan keamanan siber pun turut menjadi perhatian besar.
“Seiring meningkatnya volume transaksi digital. Sebab itu, industri perlu menyeimbangkan ekspansi agresif dengan manajemen risiko yang disiplin agar pertumbuhan tetap berkelanjutan,” tegasnya.
Selain menyeimbangkan ekspansi dengan manajemen risiko yang disiplin, Heru turut menyarankan agar perusahaan dapat memperkuat credit scoring berbasis data alternatif, integrasi dengan biro kredit, serta pemantauan perilaku pembayaran secara real time.
Baca Juga
- Akulaku: Prospek Bisnis Paylater Cerah pada 2026
- Pinjaman Paylater Warga RI Melonjak 75,05%, jadi Pilihan saat Daya Beli Tertekan
Tidak hanya itu, dia menilai penetapan limit adaptif dan segmentasi risiko penting agar ekspansi tetap selektif dan edukasi literasi keuangan juga krusial dilakukan.
“Selain itu, kolaborasi dengan merchant untuk mengendalikan fraud serta strategi penagihan berbasis analitik dapat menjaga NPF tetap terkendali di tengah pertumbuhan tinggi,” tegasnya.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan layanan beli sekarang bayar nanti atau buy now pay later (BNPL) perusahaan pembiayaan terus mengalami pertumbuhan signifikan hingga akhir 2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan pembiayaan BNPL pada Desember 2025 meningkat 75,05% (year on year/YoY).
“Berdasarkan informasi pada SLIK, pembiayaan buy now pay later [BNPL] oleh perusahaan pembiayaan meningkat sebesar 75,05 persen YoY atau menjadi Rp11,94 triliun,” ujarnya dalam keterangan resmi Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) OJK, Jumat (6/2/2026).
Agusman melanjutkan non-performing financing (NPF) gross layanan BNPL masih dalam kondisi terjaga, yakni pada posisi 2,73%.





