EtIndonesia. Laporan terbaru dari media pertahanan The War Zone mengungkap bahwa Komando Serangan Global Angkatan Udara Amerika Serikat (Air Force Global Strike Command/AFGSC) menyatakan kesiapan teknis untuk mengonfigurasi ulang rudal balistik antarbenua (ICBM) Minuteman III ke mode hulu ledak majemuk atau Multiple Independently Targetable Reentry Vehicles (MIRV), apabila Presiden Amerika Serikat mengeluarkan perintah resmi.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks berakhirnya Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START), yang secara efektif kehilangan daya ikatnya pada 5 Februari 2026 setelah masa pembatasan dan mekanisme inspeksi tidak lagi berjalan penuh akibat memburuknya hubungan Washington–Moskow.
Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa Amerika Serikat tengah memasuki fase kebangkitan strategis nuklir yang berpotensi mengubah keseimbangan militer global.
400 Rudal di Silo, Siap Ditingkatkan Daya Hancurnya
Saat ini, Amerika Serikat menempatkan sekitar 400 rudal Minuteman III di silo bawah tanah yang tersebar di lima negara bagian: Montana, North Dakota, Wyoming, Colorado, dan Nebraska. Sesuai ketentuan perjanjian sebelumnya, setiap rudal hanya membawa satu hulu ledak nuklir jenis W78 atau W87.
Namun secara historis, Minuteman III pernah dilengkapi hingga tiga hulu ledak W78, masing-masing berkekuatan sekitar 335 kiloton TNT. Dengan konfigurasi MIRV, satu rudal dapat menyerang beberapa target berbeda secara simultan—meningkatkan fleksibilitas sekaligus daya gentar strategis.
Juru bicara AFGSC menegaskan bahwa personel telah memiliki pelatihan dan kapasitas teknis yang memadai untuk mengembalikan konfigurasi tersebut jika diperlukan.
Meski demikian, sejumlah tantangan tetap ada. Di antaranya adalah:
- Ketersediaan hulu ledak W87 dalam jumlah cukup
- Biaya dan waktu rekondisi sistem
- Potensi kebutuhan pemasangan ulang kendaraan penyalur tahap kedua
Mantan Komandan Komando Strategis AS, John Hyten, sebelumnya pernah menyampaikan dalam sidang Senat bahwa aspek teknis dan kelayakan langkah ini perlu ditinjau secara serius sebelum implementasi.
Bayang-bayang Peacekeeper dan Transisi ke Sentinel
Sebagai perbandingan historis, rudal LGM-118A Peacekeeper yang telah dipensiunkan mampu membawa hingga 11 hulu ledak W87, dengan daya ledak teoritis mencapai 475 kiloton TNT per unit.
Kini, perhatian juga tertuju pada pengembangan rudal generasi baru LGM-35A Sentinel, yang dirancang untuk menggantikan Minuteman III. Program Sentinel menghadapi lonjakan biaya dan keterlambatan teknis, serta awalnya dirancang hanya membawa satu hulu ledak. Perubahan konfigurasi strategis saat ini dapat memengaruhi arah pengembangan sistem tersebut.
Armada B-52 Siap Kembali ke Misi Nuklir Penuh
Selain ICBM, Washington juga mempertimbangkan pengembalian penuh kemampuan nuklir armada pembom B-52H Stratofortress.
Dari 76 unit aktif, sekitar 30 unit sebelumnya dibatasi hanya untuk misi konvensional sesuai ketentuan perjanjian pengendalian senjata. Menurut laporan The Wall Street Journal pada Februari 2026, jalur pengaktifan nuklir pada B-52 sebenarnya hanya dinonaktifkan secara fisik dan bersifat reversibel.
Secara teknis, pengembalian fungsi nuklir B-52 dinilai lebih sederhana dibanding rekonstruksi MIRV pada ICBM.
Saat ini, B-52 membawa rudal jelajah nuklir AGM-86B. Penggantinya, AGM-181A Long-Range Standoff Missile, tengah dikembangkan dan juga akan dipasang pada pembom siluman B-21 Raider.
Dengan modernisasi mesin dan radar, B-52 akan berganti nama menjadi B-52J dan diperkirakan tetap bertugas hingga pertengahan abad ke-21.
Dua Kapal Induk Nuklir Dikerahkan ke Timur Tengah
Tekanan Strategis terhadap Iran Meningkat
Washington, Februari 2026 — Di luar penguatan nuklir, Amerika Serikat juga meningkatkan kehadiran militer konvensionalnya di Timur Tengah.
Angkatan Laut AS secara resmi mengerahkan kapal induk bertenaga nuklir kelas Ford, USS Gerald R. Ford, untuk bergabung dengan USS Abraham Lincoln yang telah lebih dahulu berada di kawasan.
Pengerahan dua kapal induk sekaligus dalam satu kawasan operasi merupakan langkah yang jarang terjadi dan biasanya menandakan kesiapan menghadapi skenario eskalasi tinggi.
Menurut pejabat AS yang dikutip The Wall Street Journal pada pertengahan Februari 2026, langkah ini bertujuan:
- Mengantisipasi potensi aksi militer terhadap Iran
- Memberikan tekanan strategis tambahan di tengah negosiasi nuklir
- Memastikan kesiapan penuh jika situasi memburuk secara tiba-tiba
USS Gerald R. Ford merupakan kapal induk generasi terbaru dengan sistem tenaga nuklir canggih dan kapasitas operasi udara yang lebih tinggi dibanding pendahulunya. Kapal ini mampu membawa puluhan pesawat tempur, pesawat peringatan dini, serta drone pengintai, memungkinkan peningkatan frekuensi dan fleksibilitas serangan udara.
Fase Baru Kompetisi Strategis Global
Kombinasi antara:
- Potensi reaktivasi MIRV pada Minuteman III
- Pemulihan penuh kemampuan nuklir B-52
- Pengerahan dua kapal induk ke kawasan paling sensitif dunia menunjukkan bahwa Washington tengah memperluas opsi pencegahan—baik nuklir maupun konvensional—di tengah lingkungan keamanan internasional yang semakin tidak stabil.
Para analis menilai bahwa langkah ini bukan sekadar respons teknis atas berakhirnya New START, melainkan sinyal bahwa era pembatasan senjata strategis mungkin sedang memasuki babak baru—di mana fleksibilitas, kecepatan respons, dan daya gentar kembali menjadi prioritas utama dalam kalkulasi kekuatan global.





