Tren helatan Indonesia International Motor Show (IIMS) atau pameran otomotif lain sejenis umumnya jadi panggung kehadiran merek atau model-model baru, mulai hanya sekadar perkenalan awal hingga masuk resmi ke Tanah Air.
Namun tahun ini ada fenomena menarik, di mana setidaknya dua jenama batal lakoni debut di Indonesia lebih awal yaitu Leapmotor dari Stellantis Group dan Arcfox yang merupakan sub-brand dari BAIC. Meski keduanya paling tepat disebut menunda.
Seperti yang dikatakan Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu bahwa manuver tersebut lebih menggambarkan pergeseran fokus kemunculan merek baru dan bukan sekadar agen pemegang merek (APM) menahan diri.
"Di tengah pasar yang sedang mengalami market fatigue pasca pull-forward di akhir 2025 kemarin, wajar kalau sebagian jaringan diler atau APM lebih agresif memanfaatkan pameran ini untuk clearance menghabiskan stok NIK 2025, ketimbang memaksakan inovasi baru yang berisiko kurang terserap daya beli middle class," kata Yannes kepada kumparan, (13/2/2026).
Yannes menambahkan, khususnya beberapa pemain asal China yang baru datang dan ekspansi lebih agresif sepanjang 2025 kemarin masih berupaya menarik calon pembeli. Belum lagi, tidak sedikit produk-produk yang ditawarkan bermain pada kelas dan segmen yang sesak.
"Mereka harus berhitung ulang soal tingkat capaian TKDN-lokalisasi mereka dan penyesuaian harga pasca berakhirnya insentif impor CBU di 31 Desember lalu, agar penetapan harga baru tersebut tidak memukul proyeksi permintaan mereka sendiri di pasar," terangnya.
Senada dengan Yannes, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menambahkan soal manuver penundaan peluncuran merek baru pada awal 2026 juga tak terlepas dari efek ledakan pemain dan produk yang masif di Tanah Air dalam waktu singkat.
"Menurut saya itu sinyal bahwa pasar sedang memasuki fase penyaringan di mana masuk pasar ternyata bukan hanya soal membawa produk, tetapi juga soal kesiapan layanan purna jual, suku cadang, jaringan bengkel, kemampuan menjaga harga jual kembali, dan kemampuan menanggung biaya promosi saat pasar sedang lesu," ucapnya ketika dihubungi kumparan pekan ini.
Pandangan dari sisi lain, Josua melihat ukuran konsentrasi pasar yang menurun dan makin banyaknya pemain BEV yang berbagi pangsa pasar menunjukkan kompetisi sudah naik kelas, tidak lagi didominasi segelintir merek.
"Dampak positifnya, konsumen mendapat pilihan dan harga lebih kompetitif. Tetapi risikonya, jika perang harga terlalu agresif, margin industri tergerus, nilai jual kembali turun, dan itu bisa berbalik memperburuk kualitas pembiayaan karena cicilan tidak lagi sebanding dengan nilai aset," paparnya.
Saat ini, menurutnya setiap produsen diharuskan melancarkan disiplin strategi dengan cara membuktikan komitmen jangka panjang lewat lokalisasi dan pemenuhan TKDN. Sementara pemerintah menjaga arah kebijakan yang konsisten ke penguatan produksi lokal dan ekosistem, bukan sekadar mendorong penjualan sesaat.
Kendati demikian, awal 2026 tetap saja dimanfaatkan sebagian produsen untuk menghadirkan model-model terbarunya. Strateginya beragam, mulai dengan menawarkan varian baru, penyegaran produk, hingga merek yang benar-benar debut di dalam negeri.




