Jakarta, VIVA – Bursa Asia cenderung bergerak menurun pada perdagangan awal pekan ini, Senin, 16 Februar 2026. Penurunan dipicu sikap investor mencermati data ekonomi Jepang yang jauh di bawah ekspektasi.
Sentimen pasar tertekan setelah Jepang melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 yang sangat tipis. Produk domestik bruto (PDB) Negeri Sakura hanya tumbuh 0,1 persen secara tahunan pada bulan Desember 2025.
Kenaikan ini jauh di bawah proyeksi pasar sebesar 1,6 persen. Lemahnya belanja pemerintah menjadi faktor utama yang menahan laju ekspansi ekonomi.
Data PDB mempertegas tantangan berat yang dihadapi Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi. Di satu sisi, kondisi ini memperkuat dorongan terhadap stimulus fiskal yang lebih agresif guna menopang pertumbuhan.
Dikutip dari The Star, indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,2 persen melanjutkan reli hingga 5 persen pada pekan lalu. Sementara itu, indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik tipis 0,1 persen.
Di Korea Selatan, indeks Kospi melemah 0,28 persen atau 15,26 poin menjadi 5.507,01. Saham-saham teknologi melonjak 8,2 persen disusul kenaikan emiten teknologi di Taiwan naik hampir 6 persen dalam periode yang sama.
- Istock
Chief Investment Officer Vantage Point, Nick Ferres, mengingatkan adanya risiko jika perusahaan teknologi berkapitalisasi besar menahan belanja modal. Kondisi ini memicu kekhawatiran soal potensi koreksi, khususnya pada saham-saham teknologi memori yang sudah melonjak tajam sejak awal tahun.
"Ketakutan investor di Asia adalah jika perusahaan teknologi raksasa mengumumkan jeda belanja modal, itu bisa memicu koreksi tajam pada saham-saham memori yang telah reli kuat di pasar seperti Korea tahun ini," ujar Ferres.
Ia menambahkan, rotasi portofolio kemungkinan masih akan mengarah ke pasar negara berkembang, namun investor perlu lebih berhati-hati terhadap saham memori di Korea dan Taiwan. Khususnya setelah kinerja luar biasa dan re-rating yang signifikan.
Indeks Hang Seng Hong Kong dibuka menguat 0,09 persen. Sejalan dengan itu, indeks S&P?ASX 200 di Australia juga mencatat kenaikan sebesar 0,18 persen.
Di tengah minimnya katalis jangka pendek dan volume transaksi yang tipis akibat libur, pergerakan bursa Asia diperkirakan masih cenderung terbatas sambil menunggu arah baru dari data ekonomi global berikutnya.





