CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Badan Gizi Nasional (BGN) total anggaran BGN tahun 2026 mencapai Rp335 triliun. Angka tersebut terdiri dari Rp268 triliun anggaran utama dan Rp67 triliun dana cadangan.
Kepala BGN, Dadan Hinmereka merincikan setiap bulan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mendapatkan Rp1 miliar dengan alokasi 70 persen untuk bahan baku, 20 persen untuk karyawan, dan 10 persen untuk insentif mereka yang membangun SPPG.
Dadan juga menjelaskan pemerintah telah mencairkan anggaran sebesar Rp32,1 triliun pada awal tahun 2026. Dana jumbo tersebut diklaim menjadi salah satu pencairan anggaran tercepat dan terbesar dalam sejarah kementerian dalam kurun waktu 1,5 bulan.
"BGN sudah mencairkan Rp32,1 triliun. Belum ada sejarah kementerian yang mencairkan jumlah sebesar itu selama 1,5 bulan. Anggaran itu, 70 persen untuk bahan baku, 20 persen operasional, termasuk gaji karyawan SPPG, dan 10 persen insentif bagi mitra," ujarnya dalam Indonesia Economic Outlook 2026, dikutip dari Antara, Minggu (15/2).
Berdasarkan kajian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, setiap Rp1 yang dibelanjakan BGN diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga tujuh kali lipat.
Sedangkan Dadan mengatakan World Bank memprediksk, investasi terhadap nutrisi akan kembali 23 kali untuk jangka panjang.
"Maka investasi kita dengan MBG itu nanti return-nya akan tinggi," katanya.
Program MBG juga dinilai mampu mendorong Produk Domestik Bruto (PDB) melalui peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, serta belanja pemerintah.
MBG, katanya turut mengerek kebutuhan bahan pangan nasional. Misalnya pada 1 SPPG saja setidaknya akan membutuhkan 3.000 buah pisang sebab tiap SPPG menyediakan 3.000 paket MBG. Demikian pula kebutuhan susu per SPPG mencapai 450 liter per hari
"Petani hidroponik, pegawai pabrik tahu juga mulai bangkit kembali. Permintaan susu juga meningkat," ucap Dadan.
Lonjakan permintaan ini berdampak langsung pada kebangkitan sektor pertanian, peternakan, hingga pelaku UMKM lokal.
BGN disebut kini memegang dua peran penting dalam ekosistem ekonomi, yakni menciptakan permintaan (demand) sekaligus menjamin pembelian produk masyarakat.




