Bisnis.com, GARUT - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana pada awal Ramadan 2026. Imbauan tersebut disampaikan menyusul tingginya tingkat kerawanan bencana di wilayah itu, terutama tanah longsor.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Garut sejumlah kecamatan di wilayah selatan dan utara masuk dalam zona potensi bencana. Di wilayah selatan, titik rawan tersebar di Kecamatan Caringin, Cikelet, Cisewu, Pakenjeng, Bungbulang, Mekarmukti, dan Talegong.
Sementara di wilayah utara meliputi Kecamatan Cibiuk, Leuwigoong, Kadungora, Pasirwangi, dan Tarogong Kaler.
Peringatan dini ini relevan dengan data terbaru dari Badan Pusat Statistik Jawa Barat (BPS Jabar) yang menempatkan Kabupaten Garut dalam 10 besar daerah paling rawan longsor di Jawa Barat sepanjang 2025.
Dalam publikasi Statistik Potensi Desa Jawa Barat 2025 tercatat sebanyak 36,65% desa dan kelurahan di Garut mengalami kejadian tanah longsor. Angka tersebut menempatkan Garut pada kategori kerawanan tingkat tinggi karena melampaui ambang 30% desa terdampak.
Kepala Badan Pusat Statistik Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati menjelaskan bahwa persentase desa terdampak longsor menjadi indikator penting untuk mengukur tingkat kerentanan struktural suatu wilayah.
Baca Juga
- Garut Lampaui Target SPPG, Tapi Cakupan Penerima Minim
- Tempat Hiburan Malam di Bandung Wajib Tutup Selama Ramadan
- Jalur Pendakian Gunung Ciremai Ditutup pada 20 Februari hingga 20 Maret 2026
Menurut dia, jika lebih dari 30% desa atau kelurahan terdampak, maka wilayah tersebut membutuhkan perhatian serius dalam aspek mitigasi dan perencanaan tata ruang.
"Tingginya angka tersebut menunjukkan adanya kombinasi faktor geografis dan tata kelola lahan yang perlu dievaluasi secara berkelanjutan," kata Margaretha, Senin (16/2/2026).
Dalam daftar daerah rawan, Kota Bogor tercatat sebagai wilayah dengan tingkat terdampak tertinggi, yakni 75% kelurahan mengalami longsor.
Disusul Kota Sukabumi sebesar 51,52% dan Kabupaten Sukabumi 47,67%. Garut berada pada kelompok menengah atas bersama sejumlah daerah lain yang selama ini dikenal rawan bencana.
Wilayah lain dengan persentase di atas 30% antara lain Ciamis (43,77%), Tasikmalaya (41,03%), Sumedang (39,35%), Bandung Barat (36,36%), Cianjur (31,11%), serta Kabupaten Bogor (30,57%).
Secara geografis, Jawa Barat memang didominasi kawasan perbukitan dan pegunungan dengan kemiringan lereng tinggi serta curah hujan besar. Kondisi tersebut meningkatkan potensi terjadinya longsor, terutama di daerah dengan tata guna lahan yang tidak sesuai peruntukan.
Kabupaten Garut juga memiliki bentang alam pegunungan yang luas, terutama di wilayah tengah dan selatan. Selain faktor alam, aktivitas manusia seperti pembukaan lahan pertanian di lereng curam serta ekspansi permukiman turut memperbesar risiko bencana.
BPBD Kabupaten Garut meminta masyarakat yang berada di kawasan rawan untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat intensitas hujan meningkat pada awal Ramadan.
Warga diimbau memantau kondisi tanah dan lereng di sekitar tempat tinggal, serta segera melapor jika ditemukan retakan tanah atau tanda-tanda pergerakan lereng.





.jpg)