Jakarta, CNBC Indonesia- Generative AI sudah masuk ke aktivitas kerja harian. Temuan Microsoft memberi peta awal tentang profesi mana yang paling sering bersentuhan langsung dengan teknologi ini, berdasarkan penggunaan riil di lapangan, bukan asumsi atau survei sikap.
Microsoft Research mengolah lebih dari 200 ribu percakapan anonim pengguna Bing Copilot sepanjang Januari hingga September 2024.
Percakapan ini dibaca sebagai data kerja tugas apa yang diminta ke AI, seberapa sering tugas tersebut muncul, dan seberapa sering AI mampu menyelesaikannya.
Dari proses itu, Microsoft menyusun peringkat 40 pekerjaan dengan tingkat paparan generative AI tertinggi.
Posisi teratas diisi profesi berbasis bahasa dan informasi. Penerjemah dan juru bahasa berada di urutan pertama.
Sejarawan, penulis, customer service, sales jasa, penyiar radio, hingga operator telepon menyusul di bawahnya. Kesamaannya terletak pada jenis tugas membaca, menulis, merangkum, menjelaskan, dan menjawab pertanyaan dalam format teks.
Cara Microsoft mengukurnya relatif teknis. Ada tiga indikator. Pertama, frekuensi kemunculan tugas suatu profesi dalam percakapan Copilot. Kedua, tingkat keberhasilan AI menyelesaikan tugas tersebut.
Ketiga, skor gabungan yang merefleksikan kecocokan AI untuk membantu pekerjaan itu. Di banyak profesi bahasa, tingkat keberhasilan berada di kisaran tinggi, rata-rata mendekati 0,9.
Di ruang redaksi, pusat layanan pelanggan, dan divisi riset, tugas standar berpindah lebih cepat ke mesin. Draf awal, ringkasan dokumen, jawaban pertanyaan rutin, dan pengolahan informasi dasar tidak lagi memakan waktu panjang. Peran manusia bergeser ke pengambilan keputusan, penyuntingan akhir, dan penilaian konteks.
Daftar tersebut tidak berhenti di pekerjaan kreatif. Profesi teknis seperti programmer CNC, analis data, hingga pengembang web muncul dengan tingkat paparan menengah. Selama tugasnya berbentuk instruksi, pola, atau logika yang bisa dipetakan, AI dapat ikut masuk ke alur kerja.
Sebaliknya, pekerjaan yang bergantung pada kehadiran fisik dan kondisi lapangan jarang muncul dalam percakapan Copilot.
Operator mesin, teknisi perbaikan, dan perawat lapangan berada di luar kelompok teratas. Hambatan utamanya ada pada konteks dunia nyata yang sulit dipindahkan ke antarmuka digital.
Nilai pekerja bergeser ke kemampuan mengarahkan penggunaan AI, memeriksa hasilnya, dan mengambil keputusan akhir.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)




