01. Tidak Menepati Janji (Tidak Bisa Dipercaya)
Ketua Sin Yi Realty, Zhou Junji, mengatakan bahwa tidak menepati janji adalah kebiasaan kerja yang sangat buruk. “Manusia tidak akan berdiri tanpa kepercayaan.” Hal ini terlebih lagi berlaku di dunia kerja.
Hal kecil seperti datang tepat waktu saat ada janji, hingga transaksi bisnis bernilai puluhan bahkan ratusan juta, semuanya harus berlandaskan kepercayaan. Orang yang tidak bisa dipercaya bukan hanya akan dipandang rendah, tetapi juga sulit bertahan di tengah masyarakat.
Karena itu, di Shin Yi Realty, semua rapat—besar maupun kecil—harus dimulai tepat waktu. Ketepatan waktu adalah wujud nyata dari menepati janji. Siapa pun yang terlambat harus berdiri sebagai bentuk sanksi: terlambat berapa menit, berdiri selama itu pula. Aturan ini berlaku untuk semua, dari direktur hingga staf biasa.
02. Tidak Memiliki Rasa Ingin Tahu
Direktur Utama ING AnTai Life Insurance, Chen Piyao, mengatakan bahwa dalam pekerjaan, bukan hanya soal kecepatan atau kepatuhan pada target yang menentukan masa depan seseorang, melainkan cara berpikirnya.
Misalnya, ketika menerima keluhan pelanggan, dia tidak hanya fokus menenangkan dan menyelesaikan masalah di permukaan, tetapi akan menelusuri seluruh arsip lama untuk melihat apakah masalah tersebut benar-benar baru atau hanya kelanjutan dari persoalan lama. Dengan begitu, dia bisa menemukan inti masalah dan menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi, bukan sekadar mengulang cara lama.
Untuk melakukan hal ini, seseorang harus memiliki rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu mendorong kita untuk berpikir lebih dalam dan berbuat lebih banyak. Jika sejak muda tidak membiasakan sikap ini, maka di kemudian hari akan sulit untuk mengubahnya.
03. Terlalu Percaya Diri (Sombong)
Direktur Utama Daewoo Information, Li Yongjin, menyebutkan bahwa persaingan industri kini semakin ketat dan kerja tim menjadi semakin penting.
Dalam kerja tim, yang paling tidak disukai adalah orang yang terlalu sombong—kemampuan biasa saja, tetapi merasa paling hebat. Orang seperti ini tidak mau mendengarkan pendapat orang lain dan justru menjadi penghambat kerja sama tim.
04. Menang Jadi Sombong, Kalah Jadi Putus Asa
Direktur Utama Soft-World Technology, Wang Junbo, mengatakan bahwa industri gim menghadapi tantangan siklus hidup produk yang semakin pendek, sehingga kecepatan pengembangan harus terus ditingkatkan.
Yang paling dia benci adalah ketika emosi seluruh tim naik turun secara ekstrem hanya karena satu produk—berhasil lalu menjadi sombong, gagal lalu kehilangan semangat. Sikap seperti ini tidak membantu pengembangan produk selanjutnya. Yang terpenting adalah belajar dari pengalaman, baik sukses maupun gagal.
05. Berbuat Salah Tidak Berani Mengaku, Tidak Paham Tapi Pura-pura Tahu
Wakil Presiden Juniper Networks Wilayah Tiongkok Raya, Yu Zhaolie, mengatakan bahwa dalam dunia penjualan, kesalahan terbesar adalah berbuat salah tetapi tidak berani mengaku, malah mencoba menutup-nutupi.
Atau ketika tidak paham suatu hal, tetapi pura-pura mengerti. Misalnya, saat orang lain mengatakan “infrastruktur ini sangat bagus”, dia ikut mengangguk dan setuju, padahal sebenarnya tidak tahu apa maksudnya. Jika tidak mau bertanya dan belajar, maka pemahaman akan selalu dangkal. Dalam jangka panjang, kurangnya penguasaan informasi bisa membuat perusahaan mengambil keputusan yang salah.
06. Tidak Menyelesaikan Masalah dari Akar
Direktur Utama KFC Taiwan, Wu Meijun, menekankan bahwa perusahaan tidak ingin karyawan hanya menyelesaikan masalah di permukaan—sakit kepala diobati kepala, sakit kaki diobati kaki.
Sebelum menemukan akar masalah, solusi setengah-setengah hanya akan mengulang kesalahan. Karena itu, mereka mengembangkan metode High Impact Coaching, yaitu dengan terus mengajukan pertanyaan agar karyawan sendiri menemukan akar persoalan, sehingga rencana kerja bisa benar-benar matang.
07. Menganggap Diri Sendiri Adalah Merek Perusahaan
Direktur Utama Montblanc, Gu Jitao, mengatakan bahwa industri barang mewah sering berhubungan dengan selebritas dan tokoh terkenal. Sebagian orang tidak bisa membedakan apakah dirinya hanyalah penggemar atau seorang manajer profesional, bahkan salah mengira dirinya juga bagian dari kalangan elite.
Akibatnya, mungkin relasi bertambah, tetapi kemampuan inti kerja tidak berkembang. Harus disadari bahwa orang menghormati perusahaan dan mereknya, bukan pribadi kita. Jangan mengenakan mahkota sejarah di kepala sendiri—cukup genggam dengan hati-hati di tangan.
08. EQ Rendah, Wajah Masam
Direktur Utama Jianhu Mountain Group, Xiao Boxun, mengatakan bahwa industri jasa menuntut interaksi langsung dengan pelanggan. Setiap gerak-gerik karyawan diperhatikan, sehingga pengelolaan emosi sangat penting.
Jika suasana hati buruk langsung terpampang di wajah, kualitas layanan akan anjlok. Pelanggan yang melihat wajah masam tentu enggan kembali.
09. Datang Terlambat Saat Rapat
Wakil Direktur SDM Ford Lio Ho Motor, Ye Qinghuang, menjelaskan bahwa sebagai perusahaan multinasional, Ford sering mengadakan rapat lintas negara dengan perbedaan zona waktu. Ketepatan waktu menjadi sangat krusial.
Banyak karyawan muda menganggap terlambat 5–10 menit bukan masalah besar. Padahal kebiasaan ini mencerminkan sikap tidak menghormati orang lain dan bisa mengganggu seluruh jadwal kerja. Atasan pun akan meragukan profesionalisme dan kualitas kerja Anda.
10. Terlalu Sering Pindah Kerja
Wakil Direktur MSN Microsoft Taiwan, Lin Yan, mengingatkan bahwa industri internet memang menawarkan banyak peluang, tetapi juga membuat stabilitas kerja generasi muda rendah.
Sering kali, hanya karena iming-iming kecil, seseorang dengan mudah berpindah kerja. Dia menekankan agar sebelum pindah, seseorang menilai perkembangan jangka panjang perusahaan dan perencanaan karier pribadinya, jangan mengorbankan masa depan demi keuntungan sesaat.
11. Wajah Profesional yang Terlalu Kaku
Wakil Direktur Rumah Sakit Shutian, Lin Qiankun, menyebutkan bahwa dokter sering terbiasa menjaga citra profesional dengan wajah serius dan istilah medis, namun kurang menggunakan kata-kata sopan seperti “tolong”, “terima kasih”, dan “maaf”.
Padahal, pasien seharusnya diperlakukan seperti pelanggan. Pelayanan medis perlu dilihat dari sudut pandang pasien: suara lebih lembut dan wajah lebih ramah. Rumah sakit pun menerapkan kebijakan penyajian teh pada jam tertentu untuk mengurangi ketegangan suasana.
12. Berpenampilan Semrawut
Wakil Direktur 21st Century PR Consultant, Ding Lihong, mengatakan bahwa anak muda suka mengekspresikan kepribadian lewat pakaian, tetapi sering kali berlebihan hingga terlihat tidak rapi.
Masalah yang sering ditemui adalah keinginan tampil menonjol tanpa memperhatikan etika berpakaian dasar. Setiap pekerjaan memiliki standar citra profesionalnya masing-masing. Dalam dunia humas, berpakaian rapi dan pantas jauh lebih penting daripada sekadar tampil unik.
13. Pilih-pilih Pekerjaan
Wakil Direktur MUJI, Wang Wenxin, mengatakan bahwa kerja tim berarti tidak semua tugas itu menyenangkan atau sesuai selera.
Jika Anda tetap berusaha maksimal meski diberi tugas yang tidak disukai, atasan justru akan memberi penilaian positif. Setiap tugas adalah kesempatan. Terlalu sering memilih pekerjaan hanya akan membuat Anda kehilangan peluang belajar, berkembang, dan membangun kemampuan.
14. Mentalitas Pegawai Negeri
Direktur Chunghwa Telecom, Shi Mubiao, menegaskan bahwa mentalitas lama—minum teh, membaca koran, mengobrol saat jam kerja, dan menunggu pulang—harus ditinggalkan.
Di tengah persaingan ketat, perusahaan tidak bisa lagi pasif menunggu pelanggan. Karyawan harus aktif meningkatkan kemampuan, jika tidak ingin tersingkir saat efisiensi dilakukan.
15. Tidak Efisien
Senior Director MasterCard Taiwan, Yang Yating, mengatakan bahwa industri keuangan menuntut kecepatan tinggi. Dengan komunikasi instan melalui ponsel dan email, jika karyawan lamban—bahkan membalas email saja butuh satu jam—maka target kerja pasti tidak tercapai tepat waktu.
Renungan
Alasan atasan merekrut karyawan bukan hanya untuk membagi pekerjaan, tetapi juga untuk menutupi keterbatasan kemampuan pimpinan. Jika seorang karyawan masih harus terus diawasi secara ketat, maka kehadirannya justru melemahkan daya tempur perusahaan.
Di masa sulit, inilah saat terbaik untuk introspeksi. Lihatlah kebiasaan-kebiasaan buruk yang membuat para tokoh sukses menggelengkan kepala, lalu cermati diri sendiri—jika ada, perbaiki; jika tidak, pertahankan. Dengan begitu, daya saing kita di dunia kerja dan bisnis pasti meningkat.
Perusahaan mungkin bukan milik kita, tetapi pengalaman dan proses kerja adalah milik kita sepenuhnya. Dan pengalaman inilah yang kelak menjadi fondasi keberhasilan kita di masa depan.(jhn/yn)





