Membaca Rivalitas AS-Tiongkok dengan Kacamata René Girard

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Perang pada abad ke-21 tidak selalu dimulai dengan dentuman senjata. Ia bisa hadir dalam bentuk tarif impor, pembatasan teknologi, sanksi ekonomi, dan perang narasi. Dunia mungkin tidak sedang menuju Perang Dunia III, tetapi rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok menunjukkan satu realitas: stabilitas global sedang diuji oleh kompetisi dua kekuatan besar.

Filsuf Prancis, René Girard, dalam bukunya Battling to the End (2007), mengingatkan bahwa perdagangan dapat dengan cepat berubah menjadi konflik ketika arus moneter terganggu dan relasi ekonomi terputus. Bagi Girard, relasi komersial tidak sama dengan relasi moral. Perdagangan dibangun atas resiprositas yang diatur oleh uang, sementara relasi moral bertumpu pada nilai pengampunan dan komitmen etis yang lebih dalam.

Dalam konteks hari ini, tesis tersebut terasa relevan.

Perang Dagang sebagai Gejala Struktural

Ketegangan perdagangan dan teknologi antara Washington dan Beijing dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa ekonomi bukan lagi sekadar arena kerja sama, melainkan juga instrumen persaingan strategis. Pembatasan ekspor semikonduktor, pengetatan investasi, hingga kebijakan tarif merupakan bagian dari upaya mempertahankan keunggulan nasional masing-masing.

Kawasan Indo-Pasifik pun menjadi episentrum dinamika ini. Isu Taiwan, ketegangan di Laut China Selatan, serta pembentukan berbagai aliansi keamanan regional memperlihatkan bahwa persaingan tersebut memiliki dimensi militer dan geopolitik yang nyata.

Namun penting untuk ditegaskan: adanya risiko eskalasi tidak identik dengan kepastian perang. Struktur konflik memang terbentuk, tetapi keputusan politik tetap menjadi faktor penentu. Di sinilah ruang rasionalitas dan diplomasi memainkan peran penting.

Ketahanan Nasional dalam Bayang-Bayang Krisis.

Dalam situasi global yang semakin tidak pasti, banyak negara memperkuat ketahanan domestik, terutama pada sektor pangan, energi, dan industri strategis. Logikanya sederhana: ketika rantai pasok global terganggu, negara yang memiliki kapasitas produksi internal yang kuat akan lebih mampu bertahan.

Kebijakan penguatan ketahanan pangan atau industrialisasi domestik dapat dibaca sebagai bagian dari antisipasi terhadap risiko eksternal. Dalam skenario terburuk—misalnya konflik regional di Asia Timur—jalur perdagangan bisa terganggu secara signifikan.

Namun kebijakan strategis tidak cukup hanya benar pada tataran gagasan. Implementasi yang akuntabel, berbasis data, serta sensitif terhadap dampak sosial dan lingkungan menjadi syarat utama agar kebijakan tersebut benar-benar memberi manfaat jangka panjang. Tanpa tata kelola yang baik, kebijakan yang dimaksudkan untuk memperkuat ketahanan justru berpotensi menimbulkan persoalan baru.

Globalisasi dan Ilusi Perdamaian.

Selama beberapa dekade, globalisasi diyakini dapat meredam konflik. Argumennya, negara yang saling bergantung secara ekonomi akan berpikir dua kali untuk berperang karena biaya yang terlalu mahal.

Namun pengalaman sejarah menunjukkan bahwa interdependensi ekonomi bukan jaminan mutlak perdamaian. Ketika kepentingan strategis dianggap lebih mendasar daripada keuntungan ekonomi, perdagangan dapat berubah menjadi alat tekanan.

Dalam perspektif Girard, rivalitas muncul ketika dua pihak saling mencerminkan ambisi satu sama lain. Ketika keduanya ingin menjadi pusat pengaruh global, gesekan menjadi sulit dihindari. Tantangannya adalah bagaimana mengelola rivalitas tersebut agar tidak melampaui batas yang rasional.

Antara Kewaspadaan dan Kepanikan.

Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah Asia Timur akan menjadi arena konflik terbuka dalam dekade ini? Tidak ada jawaban pasti. Prediksi geopolitik selalu berada dalam wilayah probabilitas, bukan kepastian.

Yang dapat dilakukan adalah membaca tanda-tanda secara kritis tanpa terjebak pada kepanikan. Masyarakat perlu memahami dinamika global secara jernih, sementara pemerintah dituntut menyiapkan kebijakan yang adaptif dan berbasis perhitungan matang.

Kita hidup dalam sistem internasional yang semakin kompleks. Rivalitas kekuatan besar adalah realitas, tetapi konflik bersenjata tetap merupakan pilihan politik—bukan keniscayaan sejarah.

Di tengah ketidakpastian global, sikap yang paling rasional bukanlah menutup mata terhadap risiko, tetapi juga bukan menyerah pada determinisme. Kewaspadaan perlu dibarengi dengan komitmen pada diplomasi, tata kelola yang baik, dan penguatan ketahanan domestik secara berkelanjutan.

Apakah dunia sedang bergerak menuju eskalasi? Mungkin.

Apakah konflik tak terhindarkan? Belum tentu.

Yang jelas, membaca dinamika global dengan nalar kritis adalah langkah awal agar kita tidak sekadar menjadi penonton dalam perubahan zaman yang menentukan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Parma vs Verona, Gol Larut Matteo Pellegrino Pastikan Kemenangan Gialloblu
• 13 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Penjara Seumur Hidup Menanti Kapolres Bima Kota AKBP Didik
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
Sukses Kelola Komunikasi Berdampak, PNM Sabet 3 Penghargaan PR Indonesia Awards 2026
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Penyebab Tembok Pembatas SMPN 182 Roboh: Tanah Urukan, Strukturnya Labil
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Polres Garut Tangkap Komplotan Pencuri Mobil Pikap di Jawa Barat
• 16 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.