Danantara Indonesia Waste-to-Energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi resmi memasuki fase tender. Proyek tersebut diperebutkan oleh beragam raksasa, termasuk dari China, Eropa dan Jepang.
Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia, Fadli Rahman mengatakan skema konsorsium dirancang untuk memastikan transfer teknologi, baik kepada perusahaan dalam negeri maupun pemerintah daerah.
Baca Juga: Xi Jinping Ubah Arah Ekonomi China, Konsumsi Domestik Jadi Mesin Utama
“Untuk tahap awal, pengembangan difokuskan dalam empat wilayah yakni Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta,” kata Fadli dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (16/2/2026).
Ia menegaskan proses tender dilakukan dengan tata kelola yang ketat sejak tahap awal, termasuk pemilihan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
“Tender ini menunjukkan komitmen Danantara dalam memastikan transparansi dan mitigasi risiko sejak hulu,” ujarnya.
Dari total peserta, sejumlah perusahaan global menonjol, di antaranya berasal dari Prancis, China dan Jepang. Mereka adalah Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd (Eropa), China Conch Venture Holding Limited (China) dan Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (Jepang). Ketiga raksasa ini memiliki rekam jejak panjang dalam proyek WtE berskala besar.
Profil Tiga Perusahaan Global Peserta Tender WtE Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd (Eropa)Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd berdiri di Singapura. Ia merupakan bagian dari grup multinasional Veolia Prancis. Mereka bergerak di bidang pengelolaan air, limbah dan energi di lebih dari lima puluh negara.
PT Veolia Services Indonesia merupakan bagian dari perusahaan ini dan memiliki pabrik daur ulang dari Polyethylene Terephthalate (PET) di Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Jawa Timur.
China Conch Venture Holding Limited (China)China Conch Venture Holding Limited berasal dari Wuhu, Provinsi Anhui, China. Perusahaan ini merupakan perusahaan terbuka serta berafiliasi dengan Anhui Conch Group Co., Ltd.
Perusahaan ini memiliki lima lini bisnis utama, yakni proyek waste-to-energy, jasa logistik pelabuhan, material bangunan baru, energi baru serta investasi dan pengelolaan aset strategis.
Segmen waste-to-energy menjadi fokus utama perusahaan dengan fokus mulai dari teknologi insinerasi limbah, pengolahan limbah padat menjadi panas dan listrik, serta produksi peralatan pembangkit energi sisa panas.
Di Indonesia, Conch Venture pernah bekerja sama dengan PT Conch South Kalimantan Cement (PT CSKC). Ia aktif dalam program tanggung jawab sosial di Kalimantan Selatan.
Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (Jepang)Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (MHIECE) merupakan pemain lama dalam sektor lingkungan dan energi bersih. Perusahaan ini terlibat dalam proyek TuasOne Waste-to-Energy Plant di Singapura.
Di China, MHIECE mengembangkan proyek Lao Gang Phase II. Ia merupakan salah satu proyek WtE terbesar di dunia.
Baca Juga: China Ikut Jadi 'Target' Rencana Serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran
Di Indonesia, MHIECE dan PLN Nusantara Power bekerja sama dalam proyek PLTSa Bantargevbang. Fasilitas tersebut mengolah seratus ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sekitar 750 kilowatt per jam.





