Ekspedisi KKP dan WWF Temukan 32 Dugong Super Langka di Perairan Maluku

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Yayasan WWF Indonesia melakukan Ekspedisi Kawasan Konservasi Kepulauan Romang dan Damer 2025 selama satu bulan. Dalam periode tersebut, tim peneliti menemukan 32 ekor dugong.

Ekspedisi yang berlangsung pada 3 Oktober hingga 3 November 2025 itu mengungkap perairan Maluku Barat Daya (MBD) mendapat pasokan nutrisi dari Laut Banda dan Samudra Hindia. Kombinasi ini menjadikan kawasan tersebut sebagai benteng terakhir keanekaragaman hayati laut dunia di tengah ancaman perubahan iklim global.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, mengatakan hasil ekspedisi ini menjadi landasan penting dalam pengelolaan kawasan konservasi berbasis data ilmiah.

“Kementerian Kelautan dan Perikanan terus mendorong pengelolaan kawasan konservasi perairan yang berbasis data ilmiah, melibatkan masyarakat sebagai aktor utama, serta memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan sumber daya dan ekonomi lokal, sejalan dengan implementasi ekonomi biru,” ujar Koswara, dikutip di web resmi KKP.

“Dalam konteks tersebut, hasil Ekspedisi Romang - Damer 2025 menjadi kontribusi penting dalam mendukung pengambilan keputusan, baik di tingkat pusat maupun daerah.”

Salah satu temuan paling menarik adalah keberadaan habitat dugong terbesar di Indonesia. Dalam satu area pengamatan, peneliti menjumpai 32 ekor dugong, jumlah yang tergolong langka, bahkan dalam skala global.

Perairan MBD sendiri diketahui menjadi koridor migrasi bagi 24 spesies laut terancam punah dan dilindungi, mulai dari paus biru, orca, hiu martil, berbagai jenis penyu, hingga dugong. Kehadiran populasi dugong dalam jumlah besar ini menegaskan bahwa kualitas perairan MBD masih relatif terjaga.

Ekosistem lamun, rumah utama dugong, tercatat dalam kondisi sangat baik dengan tutupan di atas 50 persen. Tim ekspedisi juga menemukan sembilan dari total 14 jenis lamun yang ada di Indonesia, atau sekitar dua pertiga kekayaan lamun nasional.

Tak hanya itu, kondisi terumbu karang di perairan Kepulauan Romang dan Damer juga menunjukkan angka yang menggembirakan. Rata-rata tutupan terumbu karang tertinggi mencapai 51,4 persen, jauh di atas rata-rata regional yang berada di angka 34 persen. Analisis lanjutan bahkan menemukan sebagian koloni karang berusia sekitar 100 hingga 200 tahun.

Ekosistem tua ini berfungsi sebagai pelindung pantai, daerah pemijahan spesies penting bernilai ekonomis, serta penyokong keseimbangan ekologis perairan dangkal. Fakta tersebut memperlihatkan bahwa kawasan ini telah lama bertahan dan memberi manfaat ekologis tinggi bagi Indonesia.

Di balik ketahanan ekosistem tersebut, terdapat peran penting masyarakat adat Maluku Barat Daya. Di Pulau Romang dan Damer, larangan adat (pemali) terhadap perburuan spesies tertentu masih dijaga turun-temurun. Kearifan lokal ini menjadi fondasi keseimbangan alam sejak zaman leluhur.

Pejabat Sementara Direktur Program Kelautan dan Perikanan Yayasan WWF Indonesia, Candhika Yusuf, mengatakan pihaknya menyaksikan langsung bagaimana terumbu karang di wilayah ini tetap sehat dan tangguh ketika banyak kawasan lain mengalami pemutihan.

“Kita menemukan habitat terbesar dugong. Namun, keajaiban ini sedang dipertaruhkan oleh ancaman nyata praktik penangkapan ikan yang merusak oleh pihak luar, serta tidak lepas dari isu sampah plastik dan ghost net. Kita harus berkolaborasi memperkuat pengawasan berbasis masyarakat melalui Pokmaswas agar kekayaan ini tidak hilang,” ujarnya.

Ancaman tersebut nyata. Praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak dan racun, perburuan penyu, hingga polusi sampah plastik yang mulai menjangkau pesisir terpencil berpotensi merusak resiliensi ekosistem yang telah terjaga selama berabad-abad.

Mengingat posisi MBD sebagai pemasok nutrisi dari laut dalam dan samudera, kerusakan di wilayah ini akan berdampak luas pada ketahanan pangan dan keseimbangan ekologi regional. Karena itu, penguatan pengawasan kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan menjadi kunci untuk mencegah kerusakan permanen.

Berangkat dari temuan ilmiah dan komitmen bersama, WWF-Indonesia berencana menyusun program sosialisasi dengan pendekatan lokal Kalwedo. Istilah ini berasal dari bahasa setempat yang bermakna persaudaraan, kebersamaan, serta komitmen untuk saling menghormati dan menolong sebagai satu kesatuan.

Pendekatan berbasis budaya ini diharapkan menjadi sarana komunikasi efektif untuk menyampaikan pesan konservasi, terutama kepada generasi muda di MBD. Harapannya, rasa bangga dan kepemilikan terhadap kekayaan laut dapat tumbuh sejak dini.

Kini, Maluku Barat Daya tak lagi sekadar gugusan pulau terpencil di timur Indonesia. Ia berdiri sebagai simbol harapan, bahwa di tengah tekanan perubahan iklim dan eksploitasi sumber daya, laut Indonesia masih memiliki ruang yang tangguh. Tantangannya adalah memastikan ruang itu tetap terjaga, untuk generasi hari ini dan yang akan datang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggota DPRD Sulsel Rahman Pina Mulai Reses, Ini yang Akan Dilakukannya
• 10 jam laluharianfajar
thumb
KPAI Beberkan Faktor Penyebab Anak Bunuh Diri: Paling Banyak Bullying
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Update Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri24 Hari Ini, Senin 16 Februari 2026
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Sadewi Buka Pop-Up Store Mindful Beauty di Kota Kasablanka, Ruang Self-Care Baru Perempuan Urban
• 5 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Gong Xi Fa Cai 2026! Imlek 2026 Berapa Kongzili, Apa Shio Tahun Ini, dan Mengapa Kalender Kongzili Penting Diketahui?
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.