Dalam Kegelapan Tidak Ada Cantik dan Buruk, Hanya Baik dan Jahat

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Di dalam kereta yang melaju dari New York menuju Boston, saya menyadari bahwa pria tua yang duduk di sebelah saya adalah seorang tunanetra.

Kebetulan, dosen pembimbing disertasi doktoral saya juga seorang tunanetra, sehingga berbincang dengan orang buta bukanlah hal yang sulit bagi saya. Saya bahkan menuangkan secangkir kopi panas untuknya.

Saat itu sedang terjadi kerusuhan rasial di Los Angeles, sehingga pembicaraan kami pun mengarah pada masalah prasangka rasial.

Pria tua itu bercerita bahwa dia berasal dari wilayah selatan Amerika Serikat. Sejak kecil, dia dididik dengan keyakinan bahwa orang kulit hitam lebih rendah derajatnya. Di rumahnya, para pembantu adalah orang kulit hitam. Selama tinggal di selatan, dia tidak pernah makan satu meja dengan orang kulit hitam, dan juga tidak pernah bersekolah bersama mereka.

Ketika dia pindah ke wilayah utara untuk melanjutkan pendidikan, suatu kali dia ditunjuk oleh teman-temannya untuk mengurus sebuah acara piknik. 

Tanpa sadar, dia menuliskan di undangan kalimat: “Kami berhak menolak siapa pun.”

Di wilayah selatan, kalimat itu berarti “kami tidak menerima orang kulit hitam”. Akibatnya, seluruh kelas gempar, dan dia dipanggil serta dimarahi oleh ketua jurusan.

Dia juga mengaku bahwa ketika berhadapan dengan kasir kulit hitam, dia selalu meletakkan uang di atas meja agar diambil sendiri, dan sengaja menghindari kontak tangan secara langsung.

Saya tersenyum lalu bertanya kepadanya: “Kalau begitu, Anda pasti tidak mungkin menikah dengan orang kulit hitam, ya?”

Dia tertawa terbahak-bahak dan menjawab: “Saya bahkan tidak bergaul dengan mereka, bagaimana mungkin menikah? Terus terang, saat itu saya percaya bahwa pernikahan antara orang kulit putih dan kulit hitam adalah sebuah aib bagi keluarga.”

Namun, ketika dia sedang menempuh studi pascasarjana di Boston, dia mengalami kecelakaan mobil. Meski berhasil selamat, penglihatannya hilang sepenuhnya.

Dia kemudian masuk ke sebuah pusat rehabilitasi tunanetra, belajar membaca huruf braille, berjalan dengan tongkat, dan keterampilan hidup lainnya. Perlahan-lahan, dia kembali mampu hidup mandiri.

Dia berkata bahwa hal yang paling menyiksanya bukanlah kehilangan penglihatan, melainkan kenyataan bahwa dia tidak lagi bisa mengetahui apakah orang di hadapannya berkulit hitam atau putih.

Dia membicarakan kegelisahan itu dengan seorang konselor psikologi. Konselor tersebut berusaha menuntunnya dengan sabar. Dia sangat mempercayainya, menceritakan segala hal, dan menganggapnya sebagai guru sekaligus sahabat.

Suatu hari, konselor itu berkata kepadanya: “Sebenarnya, saya sendiri adalah orang kulit hitam.”

Sejak saat itu, prasangka dalam dirinya perlahan-lahan lenyap sepenuhnya.

Dia berkata kepada saya: “Sejak itu, saya tidak lagi bisa membedakan apakah seseorang berkulit putih atau hitam. Bagi saya, hanya ada satu perbedaan: dia orang baik atau orang jahat. Warna kulit sudah tidak berarti apa-apa lagi.”

Saat kereta hampir tiba di Boston, pria tua itu berkata dengan penuh perasaan: “Saya kehilangan penglihatan, tetapi juga kehilangan prasangka. Betapa bahagianya saya.”

Di peron stasiun, istrinya telah menunggu. Mereka berpelukan dengan penuh kehangatan.

Saat itulah saya tersadar— istrinya adalah seorang perempuan kulit hitam berambut perak.

Saya pun menyadari sesuatu yang menyentak hati: karena saya masih bisa melihat, prasangka saya justru masih ada—betapa malangnya.

Ini adalah sebuah kisah yang indah, dan mengingatkan saya pada Pangeran Kecil.

Rubah dalam Pangeran Kecil pernah menyampaikan sebuah rahasia: “Hal yang paling berharga tidak dapat dilihat dengan mata, melainkan harus dirasakan dengan hati.”

Apa yang kita dengar dan lihat, tidak perlu langsung dipercaya sepenuhnya. Hanya dengan hati—melalui perasaan, pemahaman, dan pengalaman—kita bisa mendekati kebenaran sejati.

Renungan

Masyarakat seperti apa akan membentuk rakyat seperti apa. Ketika para pemimpin di atas menunjukkan kebencian dan penghinaan terhadap kelompok tertentu, maka masyarakat di bawah pun mudah membentuk prasangka yang sama. Ini adalah wujud dari kesombongan dan keangkuhan.

Mata memang memungkinkan kita melihat banyak hal, tetapi juga membuat kita gagal melihat banyak hal yang lebih penting. Ada nilai-nilai yang hanya bisa dipahami melalui waktu, pengamatan, dan hubungan yang tulus.

Sering kali, setelah benar-benar berinteraksi, kita baru menyadari bahwa seseorang atau sesuatu tidak seburuk yang dikatakan orang lain. Banyak kebencian lahir dari prasangka atau perbedaan posisi, dan ketika posisi itu hilang, kebencian pun ikut lenyap.

Di dunia ini masih ada masalah diskriminasi ras, padahal pada hakikatnya, manusia tidak benar-benar berbeda.

Jika harus membedakan, seperti yang dikatakan dalam kisah ini: hanya ada orang baik dan orang jahat, bukan pembagian berdasarkan warna kulit, asal-usul, atau kelompok.

Demokrasi sejati adalah kebebasan yang disertai kedewasaan— mampu menerima kekurangan diri sendiri, dan bahkan mampu bertepuk tangan atas kelebihan pihak yang berseberangan.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pilihan Paket Data Hemat untuk Para Generasi Muda, Pas untuk Menyambut Bulan Ramadan!
• 11 jam lalugrid.id
thumb
Australia dan Uni Eropa Segera Teken Perjanjian Perdagangan Bebas Usai Rampungkan Negosiasi Akhir
• 1 jam lalupantau.com
thumb
Kepala Daerah hingga Kades Diminta Proaktif Pantau Perubahan Desil Warga
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Dugaan Penembakan Suami Anggota DPRD Jateng masih Terus Diselidiki
• 13 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Bayern Muenchen Kehilangan Manuel Neuer di Tengah Jadwal Krusial
• 15 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.