Sebanyak 24 perusahaan asing mengikuti tender tahap pertama Program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WtE). Di antara deretan perusahaan Cina dan Hongkong, terselip perusahaan Prancis dan Jepang yang ikut bersaing.
Perusahaan-perusahaan asing yang mengikuti tender wajib membentuk konsorsium dengan mitra lokal. Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia Fadli Rahman menjelaskan konsorsium yang nantinya dibentuk oleh peserta tender ini diharapkan bisa memberikan transfer teknologi kepada perusahaan lokal atau pemerintah daerah (pemda).
“Tender ini menunjukkan dalam menjalankan prosesnya Danantara selalu memastikan adanya tata kelola yang kuat sejak hulu,ˮ ujarnya melalui keterangan tertulis, Senin (16/2).
Tender tahap pertama adalah untuk program WtE di empat kota, yakni Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta. Pengumuman hasil tender direncanakan pada Februari ini. Berikut profil perusahaan Prancis dan Jepang yang mengikuti tender tahap pertama.
Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd (Prancis)
Berdiri di Singapura pada 13 Desember 1997, Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd merupakan perusahaan berbentuk Private Company Limited by Shares atau Perusahaan Terbatas. Perusahaan ini tergabung di dalam grup multinasional Veolia asal Prancis yang bergerak di bidang pengelolaan air, limbah, dan energi.
Perusahaan ini telah beroperasi di 50 negara. Di Indonesia, perusahaan ini hadir melalui entitas bisnis bernama PT Veolia Services Indonesia. Perusahaan ini mendirikan pabrik daur ulang Polyethylene Terephthalate (PET) atau plastik yang biasa digunakan sebagai botol minuman dan kemasan makanan. Pabrik tersebut berkapasitas 25 ribu ton per tahun dan berada di Kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Produk akhirnya antara lain PET food grade.
Perusahaan juga memiliki kerja sama bisnis daur ulang sampah plastik dengan PT Tirta Investama (Danone-AQUA). Keduanya mendirikan pabrik daur ulang botol plastik PET pada akhir Juni 2021. Peresmian pabrik ini dihadiri oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, CEO Veolia Southeast Asia Sven Beraud-Sudreau, dan Presiden Direktur Danone-AQUA Connie Ang.
Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (Jepang)
Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering adalah pemain lama dalam proyek lingkungan dan energi bersih di dunia. Anak usaha Mitsubishi Heavy Industries ini memiliki proyek WtE di Tuas South, Singapura. Proyek senilai 750 juta dolar Singapura yang dikenal dengan TuasOne Waste-to-Energy Plant Project ini adalah salah satu acuan bagi proyek pengolahan sampah menjadi energi di ebrbagai negara, termasuk Indonesia.
Di Tiongkok, perusahaan dikenal sebagai pengembang proyek Lao Gang fase kedua di Shanghai. Ini merupakan salah satu proyek WtE terbesar di dunia, dengan investasi senilai 11 miliar yen. Fasilitas ini mengolah 6.000 ton sampah setiap hari yang menghasilkan 144 megawatt listrik.
Di Jepang, perusahaan baru saja menandatangani kontrak baru untuk peningkatan efisiensi energi listrik di pusat insinerasi limbah padat di Kanazawa dan Miyazaki. Di Kanazawa, energi listrik yang dihasilkan dari sampah sebesar 3 megawatt dari 250 ton sampah per hari.
Indonesia juga dilaporkan sudah menggunakan mesin pengolah sampah milik perusahaan ini, yaitu untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Bantargebang. Fasilitas yang merupakan hasil kerja sama dengan PLN Nusantara Power ini, mampu mengolah 100 ton sampah per hari untuk memproduksi listrik 750 kilowatt per jam. Listrik ini cukup untuk penerangan di sekitar tempat pembuangan.




