Pernahkah kalian membayangkan sebuah masa depan di mana terdapat seorang guru biologi yang sudah menghabiskan umurnya puluhan tahun di pendidikan harus kalah debat dengan seorang anak remaja bermodalkan ring light dan filter wajah? Tidak usah heran. Selamat datang di tahun penuh kejutan. Sebagai informasi, kita tidak sedang menyinggung film fiksi ilmiah mana pun, melainkan realitas dunia pendidikan di Indonesia sekarang. Hari ini, ruang-ruang kelas mendadak hampa dari antusiasme penghuninya, sebab di hadapan algoritma, seluruh wibawa kepakaran dan nasihat guru tidak lagi terlihat istimewa.
Edelman Trust Barometer 2025 menyajikan hidangan data dengan gambaran yang mengkhawatirkan, bahwa kepercayaan publik terhadap institusi formal dan figur otoritas tradisional sedang merosot jatuh ke titik nadir, sebab terlindas oleh ketimpangan ekonomi dan ketakutan akan masa depan. Kabar buruk datang dari Generasi Z dan Alpha, bahwa kebenaran tidak lagi ditentukan dengan sakralitas gelar akademik atau riset mendalam. Kebenaran kini diukur oleh seberapa banyak likes, seberapa viral sebuah konten, dan sejauh mana penyampaiannya dapat mengetuk emosi dan bersatu dengan kegalauan mereka. Saat seorang guru yang justru sedang berbicara serius tentang masa depan dengan nada formal, mereka seolah mendadak tuli. Namun, ketika seorang influencer berbicara omong kosong dengan gaya santai di layar 6 inci, mereka dipatuhi bak nabi.
Matinya Kepakaran di Tengah Joget dan Konten ViralFenomena ini tentu bukan terjadi tanpa sebab. Kita sedang menyaksikan apa yang disebut Tom Nichols sebagai The Death of Expertise atau matinya kepakaran, namun dengan cita rasa lokal yang unik. Di Indonesia, bentuk kematian kepakaran ini dijewantahkan lewat joget TikTok dan kutipan motivasi instan. Statistik pada tahun 2025 sudah cukup menampar kita dengan keras, bahwa pengguna internet di negeri ini diperkirakan menembus 229,4 juta jiwa. Sayangnya, mayoritas dari mereka tidak berselancar di dunia maya untuk memvalidasi fakta sejarah, mengkritisi simpang siur berita, atau memperdalam sains. Sebagian besar waktu mereka habis untuk media sosial yang memabukkan.
Bayangkan kita harus menyaksikan kompetisi yang tidak seimbang ini, tentang seorang guru yang lelah setelah mengajar seharian harus bersaing memperebutkan atensi siswa melawan algoritma TikTok yang dirancang oleh insinyur terbaik dunia yang sukses membuat kecanduan. Dalam ekosistem media sosial, algoritma bekerja tanpa nilai etis, sementara sistem pendidikan masih berjalan dengan pola lama yang kaku dan satu arah. Data menunjukkan rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu lebih dari 3 jam setiap harinya hanya untuk media sosial, dengan TikTok sebagai juara bertahannya. Dalam durasi yang masif itu, otak siswa kita hari ini hancur dibombardir oleh konten yang memanjakan emosi mereka. Jadi, jangan heran jika mereka bisa lebih percaya pada “Ustaz Medsos” yang populer karena viralitas, atau influencer saham yang hobi pamer mobil mewah, ketimbang guru ekonomi yang mengajarkan prinsip kehati-hatian yang lebih realistis bagi mereka.
Lebih parah lagi, tren seperti “Sekolah Tidak Penting” yang sempat viral belakangan hari menemukan lahan subur di benak anak muda yang sedang mencari pembenaran atas rasa malas mereka. Influencer hadir sebagai angin segar yang memvalidasi perasaan lelah dan cemas siswa. Mereka menawarkan ilusi kesuksesan instan tanpa perlu melewati proses belajar yang berdarah-darah. Sementara itu, tidak bisa dipungkiri bahwa sekolah kerap kali gagal dalam beradaptasi. Metode pengajaran yang kaku, konservatif, dan satu arah yang terasa usang di hadapan konten digital yang dinamis, penuh warna, dan emosional. Akibatnya, nasihat guru hanya dianggap sebagai gangguan dari masa lalu, sementara celoteh influencer dianggap sebagai panduan hidup masa depan yang layak mereka kejar.
Jika Guru Tak Berubah, Kebenaran Akan Kalah oleh FYPDari bencana pendidikan ini, apakah berarti lonceng kematian bagi profesi guru? Tidak, jika kita mau mengubah pola dan strukturnya. Kita tidak bisa lagi mengandalkan otoritas “karena saya guru, maka saya benar”. Di era di mana informasi tumpah ruah bahkan di tepian selokan, guru harus bertransformasi dari sekadar penyampai materi menjadi kurator kebenaran. Kita harus mengajarkan siswa bukan tentang “apa” yang harus dipikirkan, tetapi “bagaimana” cara berpikir.
Literasi digital harus menjadi menu wajib yang siswa makan, bentuknya jangan sekadar seminar tempelan musiman. Siswa perlu diajarkan untuk skeptis, untuk mempertanyakan motif di balik setiap konten viral, dan membedakan antara popularitas dengan kredibilitas. Jika kita gagal melakukan ini, kita akan melahirkan generasi yang kenyang informasi namun busung lapar akan kebenaran. Generasi yang lebih percaya pada diagnosis kesehatan dari TikTok daripada dokter, dan lebih percaya pada sejarah versi Twitter daripada sejarawan. Saat omongan influencer menjadi satu-satunya kiblat, maka runtuhlah fondasi intelektual bangsa ini. Dan itu adalah harga yang terlalu mahal untuk ditebus dengan sebuah FYP.





