Grid.ID - Firasat konten kreator yang temukan jasad siswa SMP (Sekolah Menengah Pertama) di Kampung Gajah gegerkan publik. Polisi yang menyelidiki kasus tersebut diketahui juga sudah mengetahui identitas pelaku yang diduga telah merencanakan pembunuhan sejak awal.
Mulanya, konten kreator dari Tim Trobos Mitro (TTM) menceritakan kronologi penemuan jasad siswa SMP Negeri di Bandung Barat yang korban pembunuhan. Dimana tim TTM mulanya datang ke lokasi pada Kamis malam, (12/2/2026).
"Kita datang dari Banten hari Kamis, kita datang ke Bandung karena kita berangkat subuh, sampai mobil kita mogok diderek ke Bandung pakai towing kayak naik kora-kora," ungkap anggota TTM dikutip Grid.ID dari TribunnewBogor.com, Senin (16/2/2026).
Awalnya, anggota TTM sempat memiliki firasat. Di mana yang awalnya baru saja syuting di Banten, langsung bergegas pergi ke Bandung dalam waktu beberapa jam.
"Gue enggak tahu kenapa pengin eksplore di tempat pesugihan babi ngepet itu, enggak tahu kenapa aku pengin di sana, awal cerita kita datang ke lokasi, kita izin," pungkas anggota TTM.
Dan siapa sangka, saat tiba di Kampung Gajah, anggota mulai mencium aroma tak sedap yang awalnya diduga sebagai bau bangkai hewan.
"Pas kita datang, kita langsung nyium bau bangkai. Pertama kita datang ke lokasi itu emang kita langsung nyium bau bangkai, itu benar. Tapi aku masih berpikiran positif, ah mungkin bangkai tikus," ujar anggota TTM.
"Kelamaan ketika kita lagi baru mulai, sapa-sapa ngobrol, ini baunya tambah menyengat ketika ada angin dari titik korban ke arah kita. Baunya benar-benar menyengat, kita curiga, mang gege cek ke arah lokasi, takutnya ada bangkai apa yang aneh," imbuh salah seorang tim.
Namun saat dicari sumber baunya, anggota TTM menemukan bahwa bau itu dari jasad siswa SMP.
"Mang Gege nyamperin ke sana, cari titik bau tersebut. Ketika mang gege maju ke depan ke arah tempat eksplore kita ternyata menemukan mayat yang tergeletak ternyata baunya mang gege juga enggak kuat, dia balik teriak-teriak," beber anggota TTM.
Hingga singkat cerita, kasus tersebut dilaporkan ke polisi dan terungkap bahwa jasad siswa SMP yang ditemukan di eks Kampung Gajah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat adalah ZAAQ (14). Saat diperiksa, korban ditemukan dalam kondisi bersimbah darah dengan sejumlah luka tusuk.
Polisi juga telah mengantongi identitas dari pelaku yang membunuh jasad siswa SMP yang ditemukan di eks Kampung Gajah. Yakni seorang pelajar SMK asal Garut berinisial YA (16).
Kapolres Cimahi AKBP Niko N. Adi Putra juga membeberkan bahwa kasus ini sudah terencana dimana pertemuan pelaku dan korban sudah disusun sejak dua hari sebelum kejadian, namun baru terlaksana pada Senin karena AP masih bekerja.
"Jadi sebetulnya YA ini ingin menemui korban sejak hari Sabtu (7/2/2026) cuma tersangka AP ini masih ada pekerjaan sebagai tukang dekorasi di nikahan. Sehingga mereka baru bisa ke Bandung hari Senin," ungkap AKBP Niko dikutip Grid.ID dari Kompas.com.
Hingga singkat cerita, saat sudah sampai di lokasi YA mengajak temannya berinisial AP. Dan terjadi cekcok hingga pelaku melakukan panganiayaan kepada korban.
"Sementara tersangka AP menunggu di bagian luar. Perlu diketahui, tersangka YA ini sudah membawa pisau di motornya. Kemudian pisaunya dimasukkan ke jaketnya. Setelah korban terjatuh namun masih dalam keadaan sadar, tersangka lalu menghujamkan pisau yang dibawanya sebanyak delapan kali ke arah perut. Tersangka kemudian meninggalkan korban dalam keadaan masih hidup," beber AKBP Niko.
Setelahnya, pelaku sempat memakai ponsel korban danmengirim pesan ke keluarga dan teman, seolah korban diculik.
"Saat korban tidak kembali, ada kecurigaan dari keluarga. Di situ, pelaku yang menguasai ponsel korban mengirimkan pesan ke teman-teman dan keluarganya seolah-olah korban ini diculik," papar Niko.
Berdasarkan pengakuannya, YA merasa sakit hati karena ZA sudah tak mau berteman lagi dengannya. Paman korban, Undang Supriatna mengungkap tahun lalu korban juga pernah dipukul oleh YA.
"Ya sakit hati sehingga mengakibatkan sakit hati. Korban ini memberi pernyataan sikap untuk menghentikan pertemanan pada pelaku, sehingga pelaku sakit hati," ujar AKBP Niko.
"Sebenarnya pernah dulu hampir setahun pernah ketemuan sama keluarga, dulu pernah terjadi pemukulan pelaku terhadap korban. Yang dipukul matanya. Sampai ngumpul di rumah ini dimusyawarahkan keluarga sana juga hadir sama RTnya," tandas Undang Supriatna. (*)
Artikel Asli




