Muzani Tinjau Wisata Guci yang Rusak karena Banjir Bandang, Duga Ada Penebangan

kumparan.com
22 jam lalu
Cover Berita

Ketua MPR Ahmad Muzani menyoroti adanya kemungkinan penebangan menjadi salah satu pemicu banjir bandang di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Bencana itu merusak kawasan wisata Guci.

“Iya, ini sudah hulu. Ini sebenarnya sudah hulu. Tapi di atasnya terjadi hujan yang lebih besar, kemudian ada kayak sepertinya ada penebangan,” kata Muzani di kawasan wisata Guci, Tegal, Senin (16/2).

“Karena itu Pemerintah Kabupaten sedang berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan agar akan ada rencana penanaman kembali ya,” lanjutnya.

Muzani menegaskan upaya pemulihan lingkungan akan dilakukan pada kawasan lereng Gunung Slamet.

“Sama Perhutani, penanaman kembali di lereng-lereng gunung, di lereng Gunung Slamet agar terjadi reboisasi kembali,” kata dia.

Banjir bandang menerjang kawasan wisata tersebut pada Sabtu (20/12) dan Sabtu (24/1). Akibatnya, terjadi kerusakan parah pada infrastruktur serta akses utama menuju sejumlah objek wisata.

Tercatat tiga jembatan putus, yakni Jembatan Pancuran 13, Jembatan Pancuran 5, serta jembatan di kawasan Curug Jedor, sehingga mengganggu akses antar kawasan wisata dan permukiman warga.

Selain jembatan, banjir bandang juga merusak fasilitas pemandian air panas. Pancuran 5 dan Pancuran 13 dilaporkan hancur akibat derasnya arus banjir.

Menurut Muzani, masyarakat juga meminta pemerintah melakukan penataan menyeluruh terhadap kawasan wisata, termasuk perbaikan jembatan yang rusak serta pengelolaan objek wisata air panas.

“Karena itu masyarakat hari ini meminta agar pemerintah melakukan penataan terhadap objek wisata air panas Guci ini dengan baik. Kemudian masyarakat juga meminta agar jembatan yang hancur diperbaiki lagi,” kata Muzani.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Tegal telah merencanakan pembangunan kembali jembatan yang rusak setelah musim hujan berakhir.

Selain infrastruktur, Muzani juga menyampaikan aspirasi masyarakat terkait pengelolaan objek wisata utama di kawasan tersebut, yakni Pancuran 13.

“Yang kedua, masyarakat meminta agar Pancuran 13, air panas yang merupakan objek utama dari wisata air panas Guci ini, digratiskan,” ujar Muzani.

“Karena itu adalah ikon utama dari objek wisata Guci ini. Selama ini berbayar, dan bayarnya dua puluh tujuh ribu rupiah,” lanjutnya.

Muzani mengatakan, masyarakat meminta agar pengelola dan pemerintah terkait menggratiskan akses ke objek wisata tersebut.

“Karena itu masyarakat meminta menuntut agar Kementerian Kehutanan, dalam hal ini BKSDA, dan PT yang mengelola itu menggratiskan seluruhnya untuk objek wisata ini. Hanya masalahnya, objek wisata ini hutannya itu termasuk hutan TWA,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa kawasan tersebut masuk dalam kategori Taman Wisata Alam (TWA), sehingga memerlukan perhatian khusus dari pemerintah.

“Taman Wisata Alam. Karena itu kita ingin agar pemerintah memperhatikan persoalan objek yang vital ini, yakni air panas, bisa menjadi lebih baik lagi. Caranya dengan menggratiskan,” kata Muzani.

Menurut Muzani, kebijakan penggratisan diharapkan dapat membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat.

“Dengan menggratiskan ini diharapkan apa yang menjadi sumber inti dari Guci itu bisa dinikmati sebanyak-banyaknya untuk masyarakat umum. Bukan hanya orang lokal, tapi orang pendatang juga bisa menikmati objek wisata ini dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menyampaikan kawasan wisata Guci saat ini telah dibuka kembali untuk umum, meski dengan pembatasan di sejumlah titik rawan.

“Saat ini Guci masih dibuka untuk umum. Bahkan tiket masuk depan juga kami gratiskan dari Pemerintah Kabupaten,” ucap dia.

Ia menjelaskan kawasan wisata Guci tidak hanya berpusat di Pancuran 13, melainkan memiliki sejumlah objek wisata lain.

“Karena Guci ini lokasi wisatanya tidak hanya di Pancuran 13, tapi banyak objek-objek wisata lain. Ada Guci Forest, Ashafana, ada Gulala dan sebagainya,” katanya.

Terkait aspek keamanan, Pemerintah Kabupaten Tegal memastikan pengawasan diperketat di titik-titik rawan bencana.

“Tentunya bahwa di titik-titik rawan seperti di Pancuran 13, kami, Pemkab bersama TNI-Polri siaga. Jadi memastikan ketika titik-titik yang rawan bencana sebaiknya dihindari. Kami sudah ada petugasnya,” tutur dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ajarkan Peduli Lingkungan, Ditjen Polpum Kemendagri Ajak Mahasiswa Bersih-bersih Pantai di Bali
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Nasib Ole Romeny di Oxford United pada Musim Ini: Menit Bermain Minim, Gol Tak Kunjung Datang
• 1 jam lalubola.com
thumb
AKBP Didik Miliki Narkoba Diduga untuk Dikonsumsi
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Asuransi Jadi Metode Adaptasi Lonjakan Orang Kaya?
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Sinopsis ISTIQOMAH CINTA SCTV Episode 8, Hari Ini Senin 16 Februari 2026: Khansa Disiksa, Rahasia 25 Tahun Mulai Terkuak!
• 20 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.