EtIndonesia. Sekitar 200.000 orang berkumpul di Munich, Jerman, pada Sabtu (14 Februari 2026) untuk memprotes pemerintahan Iran saat ini dan menyerukan perubahan rezim. Aksi besar tersebut berlangsung di kawasan Theresienwiese, bertepatan dengan penyelenggaraan Konferensi Keamanan Munich ke-62.
Tokoh oposisi utama Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran, tampil di hadapan massa dan menyatakan tekadnya untuk memimpin Iran menuju masa depan yang demokratis dan sekuler.
“Saya datang ke sini hari ini untuk memastikan Iran bertransformasi menuju masa depan yang sekuler dan demokratis,” ujar Pahlavi di hadapan lautan demonstran yang bersorak.
Ia menambahkan bahwa dirinya berkomitmen menjadi pemimpin gerakan transisi tersebut, dengan tujuan agar rakyat Iran suatu hari dapat menentukan nasib negara melalui proses pemilu yang demokratis dan transparan.
Tekanan Internasional dan Situasi di Dalam Negeri Iran
Menurut laporan AFP, kemarahan publik terhadap kepemimpinan di Teheran terus meningkat setelah tindakan keras aparat Iran terhadap demonstrasi anti-pemerintah bulan lalu yang menimbulkan banyak korban jiwa.
Pada 13 Februari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyatakan bahwa perubahan rezim di Iran akan menjadi “situasi paling ideal.” Di saat yang sama, Amerika Serikat dilaporkan meningkatkan kehadiran militer di kawasan Timur Tengah.
Dalam aksi di Munich, Senator Amerika Serikat Lindsey Graham juga turut berpidato. Dengan mengepalkan tangan, ia menyampaikan kepada para demonstran, “Rakyat Iran pada akhirnya akan meraih kebebasan.”
Pada 14 Februari 2026, selama Konferensi Keamanan Munich Security Conference ke-62 yang diadakan di lapangan Theresienwiese, Munich, Jerman selatan, mantan putra mahkota Iran dan tokoh utama oposisi saat ini, Reza Pahlavi, berdiri di atas panggung bersama istrinya, Yasmine Pahlavi, dan membuat isyarat kemenangan dalam sebuah aksi demonstrasi oposisi Iran. (Michaela STACHE / AFP via Getty Images)Sebelumnya, Reza Pahlavi juga berbicara dalam forum Munich Security Conference, menyerukan kepada Presiden Trump untuk “membantu” rakyat Iran serta mendesak komunitas internasional melakukan intervensi kemanusiaan eksternal guna mencegah lebih banyak korban jiwa di Iran.
Klaim Korban dan Masa Depan Perundingan Nuklir
Organisasi yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency, pada 12 Februari menyatakan bahwa jumlah korban tewas akibat penindasan pemerintah Iran telah mencapai sedikitnya 7.002 orang, dan kemungkinan angka sebenarnya lebih tinggi.
Pada 14 Februari 2026, oposisi Iran mengadakan aksi demonstrasi di pusat pameran Theresienwiese di Munich, Jerman selatan. (Michaela STACHE / AFP via Getty Images)Sementara itu, Iran masih berupaya bernegosiasi dengan Amerika Serikat terkait program nuklirnya. Namun, hingga kini belum ada kepastian apakah putaran kedua perundingan antara Washington dan Teheran akan benar-benar terlaksana.
Aksi besar di Munich ini mencerminkan meningkatnya tekanan internasional terhadap pemerintahan Iran, sekaligus memperlihatkan kuatnya mobilisasi oposisi Iran di luar negeri di tengah dinamika geopolitik yang semakin memanas. (jhon)
Sumber : NTDTV.com





