Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Dalam rangka Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan (PJB) 2026, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) melalui Kelompok Kerja (Pokja) Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan menggelar program edukasi serta skrining PJB gratis bagi anak di bawah usia 18 tahun.
Kegiatan berlangsung serentak pada 24 Januari hingga 14 Februari 2026 di 29 kota dan kabupaten yang tersebar di 24 provinsi, mulai dari Banda Aceh hingga Jayapura. Sasaran utama program ini adalah siswa SD, SMP, SMA, sekolah luar biasa, serta pesantren.
Selain meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap PJB, skrining ini juga bertujuan menjaring kasus secara dini sekaligus menghimpun data awal untuk registri nasional PJB.
Raih Rekor MURI
Program skrining berskala nasional tersebut mencatatkan prestasi dengan meraih penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori “Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan Secara Serentak kepada Anak Terbanyak”. Penghargaan diserahkan dalam Malam Puncak CHD Awareness Week di RS Harapan Kita, 14 Februari 2026.
Dalam acara tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin turut hadir dan menyampaikan bahwa PJB masih menjadi persoalan serius di Indonesia.
“Setiap tahun puluhan ribu bayi lahir dengan PJB, dan banyak di antaranya dalam kondisi berat. Per 2025, hampir 1,7 juta bayi telah menjalani skrining, dan masih banyak yang belum tertangani optimal. Ke depan, kita harus lebih agresif, termasuk dengan memperkuat kapasitas layanan serta menambah jumlah spesialis jantung anak dan bedah jantung anak,”ujar Menkes Budi dalam keterangan tertulis, Senin, 16 Februari 2026.
Ia juga mengapresiasi inisiatif PERKI yang dinilai sejalan dengan komitmen pemerintah memperluas akses layanan kesehatan jantung bagi anak.
Prevalensi dan Tantangan Deteksi Dini
Ketua PERKI, Ade Median Ambari, menjelaskan bahwa PJB merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian anak, baik di dunia maupun di Indonesia. Berdasarkan data Asia Tenggara, prevalensi PJB berkisar 9–10 per 1.000 kelahiran hidup, atau sekitar satu dari 100 bayi yang lahir.
Ia menyebutkan, diperkirakan sedikitnya 45 ribu bayi lahir dengan PJB setiap tahun di Indonesia. Namun, keterlambatan deteksi masih tinggi, mencapai 60,8 persen.
“Kami berkomitmen mendukung pemerintah menurunkan angka kesakitan dan kematian anak melalui skrining nasional PJB gratis. Setiap detak jantung adalah harapan,”jelasnya.
Sementara itu, Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan PJB PERKI, Oktavia Lilyasari, menyampaikan bahwa hingga kini belum tersedia data nasional yang komprehensif mengenai prevalensi PJB.
Program skrining yang melibatkan PERKI cabang, rumah sakit, dinas kesehatan daerah, Yayasan Jantung Indonesia, serta dukungan industri ultrasonografi seperti GE Health Care dan Philips Indonesia ini diharapkan menjadi fondasi awal pembentukan registri nasional PJB.
53 Kasus Ditemukan
Selama periode pelaksanaan, sebanyak 2.702 murid menjalani pemeriksaan awal, dan 2.478 di antaranya mendapat pemeriksaan lanjutan berupa ekokardiografi. Skrining dilakukan di berbagai daerah, antara lain Surakarta, Semarang, Makassar, Medan, Bandung, Bogor, Kupang, Jayapura, Denpasar, hingga Tarakan.
Data yang dihimpun mencakup pengukuran antropometri, tanda vital, pemeriksaan fisik jantung, serta ekokardiografi. Dari hasil tersebut, ditemukan 53 kasus PJB dengan prevalensi 2,14 persen angka yang tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata global maupun kawasan Asia Tenggara.
Menurut Oktavia, kasus PJB cenderung lebih banyak ditemukan pada anak dengan berat badan rendah, stunting, faktor risiko tertentu, serta anak berkebutuhan khusus.
Anak-anak yang teridentifikasi mengalami PJB langsung diberikan edukasi kepada orang tua dan dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk penanganan lanjutan. Kegiatan ini juga dibarengi edukasi bagi siswa, guru, dan orang tua guna meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala PJB.
Mengusung tema “Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan, Selamatkan Masa Depan Anak”, program ini diharapkan dapat memperluas akses skrining, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta mendorong tatalaksana lebih cepat sehingga kualitas hidup anak dengan PJB di Indonesia semakin baik.
Editor: Redaksi TVRINews





