Mobil Listrik Bekas Banjir Bisa Berbahaya, Ini Cara Mengenalinya Sejak Awal

eranasional.com
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM – Meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik turut mendorong ramainya pasar mobil listrik bekas. Harga yang lebih terjangkau dibanding unit baru membuat banyak calon pembeli tertarik. Namun di balik peluang tersebut, ada risiko yang wajib diwaspadai, terutama kemungkinan kendaraan pernah terendam banjir.

Berbeda dengan mobil bermesin konvensional, mobil listrik memiliki sistem kelistrikan dan baterai bertegangan tinggi yang sangat sensitif terhadap air. Kerusakan akibat banjir tidak selalu terlihat secara kasat mata. Bahkan, dalam beberapa kasus, dampaknya baru muncul setelah kendaraan digunakan dalam jangka waktu tertentu.

Menurut Lung Lung, pemilik bengkel spesialis otomotif Dokter Mobil, mobil listrik yang pernah terendam banjir biasanya meninggalkan sejumlah tanda, terutama pada bagian yang jarang tersentuh dalam penggunaan normal.

“Kalau mobil listrik terendam banjir, biasanya akan terlihat karat di lokasi yang tidak wajar. Bukan hanya di bagian bawah, tapi juga bisa muncul di area tersembunyi,” ujarnya.

Salah satu indikasi paling mudah dikenali adalah munculnya bau apek atau lembap di dalam kabin. Bau tersebut umumnya tetap terasa meskipun interior sudah dibersihkan atau menggunakan pengharum.

Bau apek muncul akibat sisa air yang terjebak di dalam karpet, busa jok, atau peredam suara di bawah lantai kabin. Material tersebut sulit dikeringkan sempurna tanpa pembongkaran total.

“Kalau kabin masih berbau lembap walaupun terlihat bersih, patut dicurigai. Biasanya air pernah masuk dan meresap ke bagian interior,” jelasnya.

Selain mengganggu kenyamanan, kondisi ini juga bisa memicu tumbuhnya jamur dan mempercepat korosi pada komponen logam tersembunyi.

Calon pembeli disarankan tidak hanya melihat tampilan luar kendaraan. Periksa bagian karpet dasar, terutama di bawah lapisan pelindung. Jika ditemukan bercak lumpur halus, bekas garis air, atau karpet terasa kaku dan berbeda tekstur, bisa jadi mobil pernah terendam.

Bagian bawah dasbor juga perlu dicek. Area ini menyimpan banyak kabel dan modul elektronik penting. Bekas air biasanya meninggalkan jejak berupa karat pada baut, bracket, atau sambungan logam kecil.

Jok juga bisa menjadi petunjuk. Busa jok yang pernah terendam biasanya terasa lebih keras atau tidak kembali ke bentuk semula saat ditekan.

Risiko terbesar mobil listrik bekas banjir terletak pada sistem kelistrikan, termasuk sensor, modul kontrol elektronik (ECU), serta rangkaian kabel (wiring harness).

Air dapat menyebabkan oksidasi pada konektor dan sambungan kabel. Masalah ini sering kali tidak langsung terasa. Mobil mungkin masih bisa dinyalakan dan berjalan normal, tetapi gangguan seperti error pada panel instrumen, fitur mati mendadak, hingga penurunan performa dapat muncul kemudian.

“Kerusakan kelistrikan sering kali muncul bertahap. Awalnya terlihat normal, tapi beberapa bulan kemudian mulai muncul gangguan,” kata Lung Lung.

Komponen paling vital pada mobil listrik adalah baterai bertegangan tinggi. Sistem ini dirancang kedap air dengan standar tertentu. Namun jika kendaraan terendam dalam waktu lama atau melebihi batas aman, potensi kerusakan tetap ada.

Air yang masuk dapat merusak modul baterai, memicu korsleting, hingga meningkatkan risiko kebakaran. Selain itu, biaya penggantian baterai mobil listrik sangat mahal, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah tergantung model kendaraan.

Kerusakan baterai juga tidak selalu langsung terdeteksi. Penurunan kapasitas (degradasi) bisa terjadi lebih cepat dari seharusnya, membuat jarak tempuh kendaraan berkurang drastis.

Untuk menghindari risiko, calon pembeli sebaiknya meminta riwayat servis lengkap kendaraan. Pastikan mobil tidak pernah diajukan klaim asuransi akibat banjir.

Selain itu, lakukan inspeksi di bengkel yang memahami sistem kendaraan listrik. Pemeriksaan menyeluruh menggunakan alat diagnostik khusus dapat membantu mendeteksi error tersembunyi pada sistem elektronik dan baterai.

“Jangan hanya tergiur harga murah. Mobil listrik yang pernah terendam banjir sebaiknya dihindari karena risikonya besar, terutama menyangkut keselamatan,” tegas Lung Lung.

Tidak sedikit mobil bekas banjir yang sudah dipoles ulang sehingga tampak seperti baru. Interior bisa saja diganti sebagian, karpet dibersihkan, bahkan modul elektronik tertentu diperbaiki sementara.

Namun potensi masalah jangka panjang tetap ada. Korosi pada kabel dan konektor dapat menyebar perlahan. Dalam konteks mobil listrik, gangguan kecil sekalipun bisa berdampak serius karena seluruh sistem saling terintegrasi secara elektronik.

Membeli mobil listrik bekas memang bisa menjadi pilihan ekonomis, tetapi membutuhkan ketelitian ekstra. Tanda seperti bau apek, karat di lokasi tidak wajar, gangguan kelistrikan, hingga perubahan tekstur interior patut dicurigai sebagai indikasi kendaraan pernah terendam banjir.

Karena menyangkut sistem baterai dan keselamatan, mobil listrik dengan riwayat banjir sebaiknya tidak dijadikan pilihan. Melakukan inspeksi profesional dan memastikan riwayat kendaraan transparan adalah langkah penting agar tidak menyesal di kemudian hari.

Dengan semakin berkembangnya pasar kendaraan listrik di Indonesia, edukasi bagi konsumen menjadi kunci agar transaksi tetap aman dan menguntungkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Satu Tahun Pimpin NTT, Melki: Kadis Lambat, Kami Eksekusi Sendiri
• 13 jam lalukompas.id
thumb
Tak Perlu Rujukan Jauh, Wamenkes Sebut Cath Lab RSUD Tangerang Setara RS Nasional
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bundaran HI Bersinar, Ribuan Warga Serbu Perayaan Imlek
• 3 jam laludetik.com
thumb
Transjakarta Hadirkan Nuansa Budaya Imlek di Ruang Transportasi Publik
• 11 jam lalutvrinews.com
thumb
Dari Korea, Turki, hingga Proliga: Siapa Sangka Gaji Megawati Hangestri Sebelum Main di Red Sparks Segini
• 7 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.