Genap 26 tahun sejak jurnalis Belanda, Sander Thoenes, tewas di Timor Timur saat menjalankan tugas peliputan. Untuk mengenang keberaniannya, Pemerintah Belanda lewat Kedutaan Besar Belanda di Jakarta bersama Foreign Policy Community of Indonesia (@fpcindo) dan RNW Media (@rnwmedia) di Belanda meluncurkan Sander Thoenes Scholarship.
Beasiswa ini ditujukan bagi empat jurnalis muda, masing-masing dua dari Indonesia dan dua dari Timor-Leste, mereka adalah Retyan Sekar (kumparan), Juan Robin (Narasi), Antonia Kastono (Diligente), dan Ricardo Valente (Gen-Z Talk) untuk mengikuti program jurnalisme training selama dua pekan di Belanda yang berfokus pada isu media, demokrasi, dan kebebasan pers.
Peluncuran beasiswa ini menjadi bentuk penghormatan atas komitmen Thoenes dalam meliput konflik di Timor Timur pada 1999. Meski hingga kini kasus kematiannya belum sepenuhnya menemukan keadilan, semangatnya untuk menyuarakan fakta dan keberpihakan pada kebenaran diharapkan terus hidup melalui generasi jurnalis berikutnya.
“Sander Thoenes sampai sekarang mungkin tidak mendapatkan keadilannya, tapi semangatnya untuk meliput ingin ditularkan dan diberikan ke para jurnalis muda, terutama di Indonesia dan Timor-Leste,” ujar jurnalis senior Al Jazeera sekaligus co-founder beasiswa Sander Thoenes, Step Vaessen.
Ia berharap semakin banyak jurnalis muda yang memiliki keberanian seperti Thoenes.
“Aku harap banyak ‘Sander’ yang berani, fokus pada kebenaran. Saya harap mereka (para jurnalis terpilih) bisa melanjutkan Sander dan stay true to their journalism,” tambahnya.
Salah satu penerima beasiswa dari Timor-Leste, Antonia, mengaku terinspirasi oleh keberanian Thoenes saat meliput di negaranya.
“Keberanian yang dia miliki untuk meliput di Timor-Leste sangat menginspirasi saya dan memotivasi saya ikut mendaftar beasiswa ini. Saya akan terus menulis sebagai jurnalis dan menerapkan ilmu investigasi yang saya peroleh juga dari program ini,” ujarnya.
Sementara itu, jurnalis kumparan, Retyan Sekar, yang menjadi penerima beasiswa dari Indonesia, menilai program ini memperkaya kapasitas jurnalis dalam menghadapi tantangan era digital, khususnya disinformasi.
“Satu minggu terasa singkat, tapi kita belajar banyak hal dalam topik ‘countering misinformation with digital media’ ini, dari tools AI, scraping data, dan bagaimana ini bisa berdampak pada pemberitaan untuk generasi muda,” kata Retyan.
Selain lima hari sesi kelas yang membahas metode investigasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan, para peserta juga diajak mengunjungi Parlemen Belanda, States General of the Netherlands.
Dalam kunjungan tersebut, Retyan berkesempatan menyampaikan pidato dan mewawancarai anggota parlemen Belanda, Don Ceder. Keduanya membahas inovasi teknologi serta potensi ancaman kecerdasan buatan (AI), terutama terhadap anak-anak dan perempuan.
Selain itu, para peserta juga mengunjungi dan berdiskusi dengan European Commission Representation in The Netherlands, Dutch Ministry of Foreign Affairs, Dutch Association of Journalist (NVJ), dan visit media di Belanda seperti Follow The Money, Investico dan Volkskrant.
Program ini diharapkan tak hanya meningkatkan kapasitas teknis jurnalis muda, tetapi juga memperkuat komitmen pada etika dan independensi dalam kerja-kerja jurnalistik di tengah derasnya arus informasi digital.





