HARIAN FAJAR, PINRANG – Warga Tadang Palie Kecematan Cempa, Pinrang diduga menemukan buah salak yang rusak dan bolu kukus yang berjamur di menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin, 16 Februari.
MBG sajian balita, busui, bumil (3B) itu diedarkan oleh Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tadang Palie Pinrang.
Diketahui dapur ini belum cukup satu bulan beroperasi, pada Senin 26 Januari, tiga pekan yang lalu.
Pengawas Gizi SPPG Tadang Palie Pinrang, Nurhayati menjelaskan bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait buah yang rusak dan bolu kukus yang berjamur dari penerima manfaat SPPG Tadang Palie.
“Ada yang kirimkan-ka. Jadi saya telepon bilang, minta maaf-ka sebelumnya karena sudah disortir itu apa-apa. Tidak diganti karena hitungan pesanan itu sama dengan penerima manfaat,” ucapnya kepada FAJA pada Senin, 16 Februari.
Nurhayati menuturkan bahwa pihaknya juga sudah melakukan penyortiran sebelum menu MBG didistribusikan ke penerima manfaat. “Kalau masalah buah itu disortir, dilap dan sebagainya,” tuturnya.
Ia mengaku kaget saat menerima laporan adanya buah yang rusak dan bolu kukus yang berjamur.
“Salak bukan buah yang dibuka, dan kondisinya bagus dari luar. Saya juga kaget karena itu barang disortir semua sebelum sampai di penerima manfaat,” tambahnya.
Nurhayati menegaskan bahwa insiden ini merupakan human error. “Kentara juga salak kalau rusak, karena kalau dipegang pasti lembek. Tidak bisa kita hindari yang namanya human error,” tegasnya.
Nurhayati juga mengaku heran saat mengetahui adanya bolu kukus yang berjamur, karena sebelumnya menu bolu kukus sudah sering digunakan dan tidak pernah berjamur.
“Kalau bolu kukus, itu-mi heran ku, kenapa bisa seperti itu karena bukan-ka satu kali itu pakai bolu kukus. Sering-ka pakai bolu kukus. Baru ada kejadian kayak begini, bukan-ka hari ini pakai, minggu-minggu lalu pakai-ka selalu dengan suplayer yang sama,” herannya.
Disisi lain, Mitra SPPG Tadang Palie Mardiana mengklaim bahwa adanya temuan buah salak yang rusak dan bolu kukus yang berjamur merupakan human error.
“Bisa jadi human error, karena sudah dikonfirmasi di UMKM nya, fresh-ji itu. Jadi kayaknya cara perlakuannya itu bolu, kan tidak boleh lembab dan sebagainya. Human eror itu dari perlakuan dari relawan,” klaimnya.
“Caranya relawan saat pemorsian atau saat barang diterima di dapur tidak langsung ditempatkan di suhu yang ber-AC, kan kita juga belum berpengalaman karena dapur baru,” tambah Mardiana.
Mardiana menegaskan bahwa semua barang yang diterima di dapur ada barang yang masih segar.
“Yang jelas masih segar semua pada saat pengadaan barang. Mungkin cepat dibungkus itu di dapur karena mau cepat dipersiapkan,” tegasnya. (ams)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5504588/original/075475300_1771244237-WhatsApp_Image_2026-02-16_at_19.16.07.jpeg)



