DEPOK, KOMPAS.com - Ritual mandi menggunakan air tujuh sumur di Vihara Gayatri, Jalan Cilangkap, Tapos, Kota Depok, tidak hanya dilakukan etnis Tionghoa.
Pengelola Vihara Gayatri, Wira, menyampaikan bahwa tempatnya tidak membatasi kelompok tertentu untuk sembahyang, penghormatan terhadap leluhur, atau mengikuti ritual mandi di tujuh sumur.
Seluruh aktivitas di vihara dapat diakses oleh seluruh umat beragama lainnya selagi memahami dan mematuhi peraturan yang berlaku.
“Vihara terbuka untuk umum, siapapun bisa. Bahkan kalau di sini muslim juga suka datang karena kan biasanya suka mandi tujuh sumur itu. Jadi enggak cuma umat Buddha atau Khonghucu, umat lain pun banyak ke sini,” ucap Wira kepada Kompas.com, Senin (16/2/2026).
Baca juga: Ritual Mandi di 7 Sumur Vihara Gayatri Depok, Pembersihan Diri untuk Enteng Jodoh-Tolak Bala
Biasanya, ritual mandi dilakukan di luar rangkaian perayaan Imlek.
Sebab, Imlek justru berfokus pada sembahyang kepada dewa-dewi serta penghormatan terhadap leluhur.
Budaya ini dipercayai sebagai pembersihan diri sekaligus memohon berkah lewat masing-masing sumur yang mempunyai doa khusus.
Sedangkan pada momen khusus, ritual mandi dilakukan pada Senin malam menuju Selasa kliwon.
“Kalau tujuh sumur justru biasanya ada yang namanya Senin malam menuju Selasa Kliwon. Di tanggal itu, ritual mandi bisa dilakukan di tujuh sumur dan ini biasanya sekitar 35 hari sekali kalau enggak salah,” ujar Wira.
“Jadi di hari Senin itu kita sembahyang di sini, lalu orang pada mandi,” tambahnya.
Baca juga: Jelang Imlek, Vihara Bahtera Bhakti Bolehkan Warga Mengais Rezeki Asal Tertib
Oleh karena itu, ritual mandi di sumur Vihara Gayatri menjadi momen spiritual paling berharga, melihat kebersamaan lintas agama dalam satu ruang ibadah.
Untuk setiap satu kali mandi, pengunjung akan diguyur dari air sumur dengan cara berurutan yaitu dari sumur pertama hingga ke tujuh.
Setiap sumur harus mengguyur sebanyak tujuh gayung.
Lalu, pengunjung akan beralih ke kolam besar untuk menyelam delapan kali.