Setumpuk canang sari terlihat diletakkan oleh umat di pintu masuk Vihara Dharmayana Kuta, Bali, dalam menyambut Perayaan Imlek 2026 di Vihara pada Senin (16/2) sore. Canang sari merupakan salah satu sarana persembahyangan umat Hindu Bali.
Umat Vihara Dharmayana Kuta juga tampak meletakkan setumpuk canang sari di setiap altar atau tempat pemujaan dewa-dewi. Canang sari itu berisi buah, teh dan bunga kamboja, gemitir, pacar air, irisan pandan harum, permen dan uang.
Tak hanya itu, sejumlah umat Vihara Dharmayana Kuta tampak mempersembahkan Gebogan berisi buah-buahan berbentuk gunung di atas setiap altar. Hal ini membuat altar tak hanya dipenuhi Youlu besar yang di dalamnya terdapat puluhan hio terbakar.
Menariknya, ada begitu banyak umat perempuan Vihara Dharmayana Kuta mengenakan kebaya saat bersembahyang ke Pura. Bak Umat Hindu Bali, mereka juga mengikat selendang di pinggang melengkapi tradisi.
Penanggungjawab Vihara Dharmayana Kuta, Adi Dharmaja Kusuma mengatakan, tradisi Tionghoa dan kearifan lokal Hindu Bali di vihara Dharmayana Kuta memang melebur dalam harmoni yang kental.
"Orang Tionghoa yang penting dia lahir di Bali, sudah ada di Bali pasti dia bawa canang sari ke Vihara sebagai rasa hormat bakti," katanya kepada wartawan.
Akulturasi ini juga terlihat dalam tata cara persembahyangan untuk menyambut Perayaan Imlek di Vihara Dharmayana Kuta. Salah satunya perayaan tolak bala oleh Warga Tionghoa yang disesuaikan dengan tradisi upacara Hindu Bali.
Umat Vihara Dharmayana Kuta tak membakar kertas emas, menggantung lampion, melepas burung dan menggelar pertunjukan Barongsai dan Liong saat melaksanakan upacara tolak bala.
Umat Vihara Dharmayana Kuta juga menggelar kirab dari vihara menuju perempatan jalan desa untuk melaksanakan upacara bak umat Hindu Bali. Yakni, dari pawai dari Pura menuju perempatan jalan desa atau kota.
Persembahyangan ini disebut sebagai Catus Pata. Perempatan jalan dianggap sebagai titik sentral spiritual sehingga sering dijadikan upacara untuk menjaga keharmonisan alam dan lingkungan.
"Akulturasi ini sudah berjalan sejak tahun 1.700-an, sejak vihara ini dibangun," katanya.
Di dalam vihara, tidak hanya dewa-dewi Tionghoa yang dipuja, tetapi juga tokoh-tokoh besar sejarah Bali seperti Mahapatih Gajah Mada, Ida Bagus Tiying Kayu, dan Ida Ratu Putu.
"Keberadaan figur-figur ini menarik antusiasme yang luar biasa, tidak hanya dari umat Tionghoa, tetapi juga dari umat Hindu Bali yang datang untuk bersembahyang bersama," katanya.
Pada Imlek 2577 kali ini, pengelola berharap Indonesia bisa dijauhkan dari segala bencana seperti banjir dan longsor. Rakyat semakin sejahtera.
"Kita melihat situasi ekonomi yang segini-gini saja, semuanya harus seperti kuda yang enerjik, cepat dan tangkas sehingga semuanya bisa mengalami perubahan-perubahan," ucapnya.
"Kita mendoakan kepada semesta agar terhindar dari bencana alam, angin ribut dan banjir. Kita juga kita mendoakan kesejahteraan bangsa dan negara ini," pungkasnya.





