Di tengah dunia yang semakin terhubung, Dr. Klaus Schwab, tokoh pencetus Industri 4.0 dan World Economic Forum (WEF), mengingatkan kita tentang sebuah persoalan mendasar: krisis kepercayaan dan kebenaran. Ketika masyarakat tidak lagi berbagi pijakan informasi yang sama, maka perpecahan sosial mudah terjadi dan kerja sama menjadi mustahil.
Krisis ini bukan sekadar soal komunikasi, melainkan menyentuh inti kehidupan bersama: bagaimana kita memaknai realitas, membangun konsensus, dan menata masa depan.
Memperkuat Kepercayaan dan Produktivitas RisetIndonesia sesungguhnya memiliki modal besar untuk menjawab tantangan ini. Ekonomi digital kita diproyeksikan mencapai 146 miliar dolar AS pada 2025, menjadikannya yang terbesar di Asia Tenggara. Penetrasi internet yang sudah menembus 79 persen membuka ruang luas bagi partisipasi masyarakat dalam ekosistem digital.
Pemerintah pun telah meluncurkan program ambisius seperti Strategi Nasional Kecerdasan Buatan dan visi Indonesia Emas 2045. Semua ini adalah fondasi yang menjanjikan. Hanya saja potensi besar ini hanya akan bermakna jika diarahkan untuk memperkuat kepercayaan publik, bukan memperdalam jurang perbedaan. Teknologi harus menjadi jembatan yang menyatukan, bukan sekadar alat yang mempercepat polarisasi.
Di sisi lain, produktivitas riset Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Hingga 2019, dari 4.607 perguruan tinggi serta 177.000 dosen yang terdaftar di Sinta, Indonesia hanya menghasilkan 34.007 publikasi terindeks Scopus (AIPI, 2019). Pada 2025, jumlahnya memang meningkat: lebih dari 4.700 perguruan tinggi dan sekitar 190.000 dosen telah melahirkan 115 jurnal aktif terindeks Scopus dengan ribuan publikasi baru setiap tahun. Akan tetapi mayoritas jurnal kita masih berada di kuartil bawah (Q3–Q4), sehingga pengaruh ilmiah di tingkat internasional belum optimal. Memang secara kuantitas bertambah, tetapi kualitas dan dampak global masih perlu ditingkatkan.
Potensi untuk Meningkatkan Kualitas dan RelevansiJika dibandingkan dengan negara ASEAN lain, posisi riset Indonesia masih tertinggal. Malaysia menekankan mutu riset dengan mengintegrasikan teknologi Scopus AI di 20 universitas. Thailand menonjol dengan publikasi berkualitas tinggi di kuartil atas pada 2025. Sementara Vietnam berani menembus bidang frontier seperti kecerdasan buatan, blockchain, dan metaverse. Data ini menunjukkan bahwa Indonesia unggul dalam kuantitas, tetapi belum mampu menandingi kualitas dan relevansi global yang ditawarkan oleh negara tetangga.
Sesungguhnya justru di sinilah letak peluang kita. Peningkatan kuantitas publikasi dalam enam tahun terakhir menunjukkan adanya dorongan kebijakan pemerintah dan insentif akademik yang cukup efektif. Artinya, fondasi sudah terbentuk. Yang perlu dilakukan sekarang adalah menggeser orientasi dari sekadar mengejar angka menuju kualitas dan relevansi.
Tantangan struktural seperti keterbatasan dana riset, birokrasi yang berbelit, serta rendahnya kolaborasi internasional memang nyata. Tetapi semua itu bukan alasan untuk pesimis. Justru dengan kesadaran akan kelemahan ini, kita bisa merumuskan langkah reformasi yang lebih terarah.
Langkah-langkah StrategisLangkah yang perlu diperkuat adalah ekosistem pendanaan riset yang berkelanjutan. Peneliti harus memiliki dukungan nyata untuk melakukan penelitian mendalam, bukan sekadar memenuhi target administratif. Selain itu birokrasi akademik perlu disederhanakan agar beban administratif tidak menghambat kreativitas ilmiah. Peningkatan kapasitas metodologis harus ditingkatkan melalui pelatihan riset, mentoring internasional, dan akses terhadap literatur mutakhir, mutlak dilakukan. Kolaborasi internasional harus diarahkan pada kerja sama yang bermakna, bukan sekadar joint publication untuk memenuhi angka. Integritas akademik harus diperkuat dengan menekankan etika riset dan relevansi penelitian terhadap kebutuhan lokal maupun global.
Indonesia dapat belajar dari tetangga. Dari Malaysia, kita bisa mencontoh integrasi teknologi riset. Dari Thailand, kita bisa mengambil pelajaran tentang fokus pada mutu publikasi di kuartil atas. Dari Vietnam, kita bisa terinspirasi keberanian menembus bidang frontier yang relevan dengan perkembangan global.
Dengan memperkuat integritas akademik, membangun jaringan riset lintas negara, serta menekankan relevansi penelitian terhadap kebutuhan masyarakat, Indonesia dapat keluar dari jebakan “produktivitas semu” dan menjadikan riset sebagai pilar utama pembangunan bangsa.
Reformasi dan InovasiPada akhirnya, krisis kepercayaan yang diperingatkan Dr. Schwab harus menjadi refleksi mendalam bagi kita. Potensi digital dan ambisi pembangunan tidak akan berarti jika masyarakat kehilangan kepercayaan pada institusi, informasi, dan pengetahuan.
Riset yang berkualitas, teknologi yang inklusif, dan kebijakan yang berorientasi pada kebenaran adalah fondasi untuk membangun masa depan yang berkelanjutan. Indonesia Emas 2045 bukan sekadar visi, melainkan panggilan untuk menjadikan kepercayaan sebagai inti dari pembangunan nasional.
Optimisme kita bukanlah optimisme kosong. Ia lahir dari kesadaran bahwa Indonesia memiliki modal besar, baik dalam bentuk ekonomi digital maupun sumber daya manusia. Tantangan yang ada bukan untuk melemahkan, melainkan untuk menguatkan tekad kita.
Kita haruslah memahami secara utuh, bahwa dengan langkah reformasi pendidikan tinggi yang jelas, dengan keberanian untuk berinovasi, dan dengan komitmen pada kepercayaan serta kebenaran, kita sebagai bangsa dapat menjadikan riset dan teknologi sebagai jalan menuju masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berdaya saing global.





