Jakarta, tvOnenews.com - Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia, Shayne Pattynama mengungkapkan alasannya tak fasih berbahasa Indonesia.
Berbeda dari pemain naturalisasi lainnya yang mendapatkan darah Indonesia dari kakek-nenek dan bahkan berstatus sebagai blijvers, Shayne Pattynama memiliki darah Indonesia langsung dari darah sang ayah yang lahir dan besar di Semarang.
Nama belakang Pattynama pun didapatkan Shayne Pattynama dari sang ayah yang keturunan Maluku. Namun dengan luasnya Indonesia, Shayne Pattynama justru lebih kental dengan darah Jawa tepatnya Semarang.
"Ceritanya panjang (nama Pattynama), saya memang punya darah Maluku, tapi saya punya lebih banyak darah Jawa," kata Shayne Pattynama dikutip dari kanal YouTube Sport77 Official, Senin (16/2/2026).
Shayne Pattynama bahkan sudah tahu dari awal dia memiliki darah keturunan langsung. Sang ayah yang berasal dari Semarang menikah dengan ibunya yang berdarah Belanda membuatnya terbiasa dengan budaya dan bahkan makanan Indonesia.
"Saya langsung tahu saya berdarah Indonesia karena saya dibesarkan dengan cara ini, ayah saya adalah pria Indonesia asli dan makanan, budayanya juga diceritakan dia pada kami, termasuk bagaimana dia dibesarkan di Semarang," kata Shayne.
Shayne pun kenal baik dengan keluarganya yang berasal dari Indonesia karena sempat mengunjungi Belanda beberapa kali.
"Saya sudah tahu sejak masih muda bahwa akar saya adalah orang Indonesia," katanya.
Bahkan sang ayah sempat menggunakan bahasa Indonesia dalam keluarganya. Menariknya, ini justru yang membuat Shayne Pattynama tak fasih berbahasa Indonesia.
"Alasan mengapa saya tidak berbicara bahasa Indonesia adalah karena ayah saya dan keluarganya berbahasa Indonesia. Pada awalnya ayah saya selalu mengatakan dia akan berbahasa Indonesia pada anak-anaknya dan ibunya berbahasa Belanda," kata Shayne.
"Tapi karena kita keluarga besar, dengan lima anak, saya, kembaran saya dan tiga saudara lainnya membuat ayah saya berpikir jika berbahasa Belanda lebih baik untuk menertibkan anak-anaknya yang rewel," katanya.
Dia pun mengenang dengan baik bagaimana ayahnya kesulitan untuk mengatur dia dan saudara-saudaranya ketika mengomel pakai bahasa Indonesia sehingga akhirnya keluarganya menggunakan bahasa Belanda dengan sepenuhnya.




