Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i mengatakan pihaknya menyalurkan bantuan darurat bagi rumah ibadah dan pondok pesantren yang terdampak bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Tegal.
Bantuan diberikan menyusul kerusakan parah yang menimpa sekitar 900 rumah warga, termasuk masjid dan pondok pesantren yang hancur dan tak bisa lagi digunakan.
“Memang dalam setiap bencana yang terjadi, kalau skalanya itu agak luas, pasti akan berdampak juga pada pesantren dan rumah-rumah ibadah,” kata Syafi’i usai meninjau lokasi terdampak di Tegal, Senin (16/2).
Ia menyebut, di wilayah tersebut terdapat masjid, musala, serta dua pondok pesantren yang ikut terdampak bencana. Pemerintah melalui Kementerian Agama pun langsung menyalurkan bantuan pada tahap awal.
“Nah tadi di Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, ada masjid, ada musala, ada dua pesantren ya, yang terdampak oleh bencana. Maka kami di tahap awal, ada biaya Kemenag Peduli Bencana. Itu baik yang di Kakan (Kepala Kantor) karena mereka sudah segera menyumbang Rp 20 juta,” ungkap Syafi’i.
“Dan dari Kanwil, itu ada Rp 100 juta. Dan tadi kita dari Peduli Kemenag Pusat ada Rp 250 juta. Dan ada dari Direktorat Pondok Pesantren, itu ada Rp 100 juta. Selain proposal yang resmi mereka ajukan ke Kementerian Agama,” lanjutnya.
Menurut Romo, bantuan tersebut akan ditindaklanjuti sesuai dengan hasil kajian kebutuhan mendesak di lapangan agar pesantren yang terdampak dapat kembali beroperasi.
Selain bantuan darurat, Kementerian Agama juga berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk rencana pembangunan pesantren di lokasi yang lebih aman dari bencana.
“Yang kedua, tadi kita sudah berkoordinasi dengan Kementerian PU. Ternyata instruksi dari Menteri PU-nya, juga berniat untuk mendirikan pondok pesantren itu, tapi tentu di lokasi yang aman dari bencana,” kata Syafi’i.
Romo Syafi’i menjelaskan, pihak pengelola pesantren saat ini berupaya menyediakan lahan baru seluas tiga hektare yang bebas dari potensi bencana.
“Tadi Pak Kiai menyampaikan, dia ingin membebaskan ada 3 hektare tanah yang baru, yang bebas bencana, yang baru terealisasi seluas 5.000 meter. Jadi masih ada upaya 2.500 meter lagi,” jelasnya.
Ia menambahkan, apabila pembebasan lahan tersebut rampung, pembangunan pesantren akan mendapat dukungan dari Kementerian Agama dan Kementerian PU.
“Yang kalau itu nanti sudah terealisasi, maka pembangunan yang akan di-support oleh Kementerian Agama, dan juga pembangunan yang di-support oleh Kementerian PU, akan bisa dilaksanakan sebagaimana mestinya,” ujar Syafi’i.
Sementara itu, kegiatan belajar mengajar di pesantren masih dihentikan sementara karena kerusakan sarana dan prasarana.
“Selain itu, yang menjadi sorotan kami tadi adalah bagaimana kegiatan belajar dan mengajar di pesantren selama sarana dan prasarananya belum dipulihkan,” jelasnya.
Dalam masa tanggap darurat, santri diliburkan sambil menunggu kesiapan pesantren untuk kembali menjalankan aktivitas pendidikan.
“Tadi Pak Kiai membuat skema, bahwa sementara ini dalam situasi tanggap darurat, santrinya masih diliburkan. Dan nanti ketika mereka sudah bisa paling tidak me-recovery kesiapan untuk kegiatan belajar mengajar itu,” ungkap Syafi’i.
“Meski pun sarana prasarananya belum terbangun, mereka sudah menyiapkan cara untuk tetap membuat kelanjutan kegiatan belajar mengajar. Meskipun tidak sebagaimana mestinya di dalam pondok. Itu tadi yang kita lakukan,” tambah dia.





