Ramadan tahun lalu sebenarnya saya sempat membuat tulisan yang ditolak oleh editor kumparan karena sudut pandangnya terlalu umum, sehingga kali ini, setelah satu tahun kembali melihat draft tulisan itu, saya mencoba untuk memperbaiki dan memberikan sudut pandang yang baru.
Dalam tulisan kali ini, kembali membawa saya pada percakapan di Szeged, sebuah kota di Hungaria tempat saya melanjutkan studi S3, yang Mengubah Cara Pandangku tentang "Sudah Telanjur".
Sebagai seorang linguis, sebuah fenomena bahasa selalu menarik dan menggelitik saya.
Szeged di bulan Ramadan terasa seperti puasa yang panjang dan asing. Jauh dari keluarga, jauh dari suara azan yang menggema, jauh dari semua yang familiar. Mungkin karena itu, ketika sekelompok teman internasional mengajak saya ngobrol di kafe dekat Sungai Tisza, saya terlalu cepat bicara. Terlalu cepat menyerah.
"Korupsi di Indonesia?" saya memulai dengan nada pasrah. "Sudah telanjur, bos. Dari bawah sampai atas, semua kena virusnya. Seperti benang kusut, lebih mudah dibuang daripada diurai."
Saya pikir itu jawaban yang bijak. Realistis. Dewasa.
Tapi seorang teman, baru kembali liburan dari Georgia, menatap saya dengan cara yang sulit dilupakan. Bukan sinis. Bukan menghakimi. Tapi seperti sedang mengamati sesuatu yang ia coba pahami.
"Di Georgia," katanya perlahan, "Di sana juga punya kata 'sudah telanjur' dulu. Tapi mereka putuskan untuk berhenti menggunakannya."
"Sudah Telanjur" Sebagai Tameng.
Malam itu, saya pulang dan tidak bisa tidur. Kata-kata itu terus berputar. Sejak kapan saya mulai menggunakan "sudah telanjur" sebagai tameng bagi pembenaran akan segala ketidakjujuran atau kerusakan sistem kemanusiaan di sekeliling kita?
Saya ingat pertama kali mendengar frasa itu dari ibu saya, saat saya protes kenapa harus pakai sepatu warna hitam waktu SD. "Ya sudah telanjur seperti ini, Nak. Mau apa lagi?" Lalu dari guru saya di SMK, saat saya tanya kenapa tidak ada yang berani protes soal aturan jam masuk yang terlalu pagi, kasihan padahal untuk siswa yang tinggalnya jauh. "Sudah telanjur sistemnya, susah diubah." Lalu dari berita, dari obrolan warung kopi, dari kolom komentar media sosial. sebuah paduan suara kebangsaan yang terus meneriakkan, sudah telanjur, sudah telanjur, dan sudah telanjur.
Tanpa sadar, saya merekamnya sebagai kebenaran. Sebagai takdir.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, saya mendengar versi lain dari narasi yang sama. Georgia juga punya masa lalu yang bobrok. Polisi mereka juga seperti lirik lagu Sukatani "mau apa aja bayar polisi". Urus surat juga pakai calo. Pejabat juga korupsi. Mereka juga punya "sudah telanjur" versi mereka sendiri.
Lalu mereka memilih berhenti.Semakin saya renungkan, semakin saya sadar, "sudah telanjur" bukan sekadar frasa. Ini adalah mekanisme pertahanan diri yang canggih. Dengan mengatakan "sudah telanjur", kita membebaskan diri dari tanggung jawab. Dari rasa bersalah. Dari tuntutan untuk berbuat sesuatu.
Sudah telanjur artinya bukan salah saya. Sudah telanjur artinya saya korban keadaan. Sudah telanjur artinya tidak ada yang bisa saya lakukan.
Padahal, di balik setiap "sudah telanjur", selalu ada serangkaian pilihan kecil yang kita buat setiap hari. Pilihan untuk diam saat melihat ketidakadilan. Pilihan untuk menggunakan jasa calo karena "lebih cepat". Pilihan untuk tidak memilih pemimpin dengan teliti karena "pusing lihat berita". Pilihan untuk tertawa saat ada yang bercanda tentang korupsi, seolah itu hal lucu.
Kita menciptakan "sudah telanjur" kita sendiri, setetes demi setetes. Lalu kita kagum saat akhirnya wadah itu penuh.
Yang Dilupakan dari Revolusi MawarTeman saya bercerita lebih detail tentang Georgia. Tentang Revolusi Mawar 2003. Tentang presiden baru yang memecat 30.000 polisi dalam semalam hampir seluruh korps kepolisian. Tentang kekacauan yang terjadi minggu-minggu pertama. Tentang orang-orang yang mengira negara akan hancur.
"Tapi kenapa mereka berani?" tanya saya.
Jawabannya sederhana karena mereka lebih takut pada status quo daripada pada perubahan.
Mereka menghitung kalau begini terus, 20 tahun lagi kita masih begini. Mungkin lebih buruk. Jadi apa ruginya mencoba sesuatu yang radikal?
Di Indonesia, kita melakukan perhitungan sebaliknya. Kita takut pada risiko perubahan, tapi tidak pernah benar-benar menghitung biaya dari tidak berubah. Kita lihat Georgia berhasil memberantas korupsi drastis, tapi kita pikir "Ya itu kan mereka, beda budaya." Kita lihat Rwanda bangkit dari genosida, tapi kita pikir "Ya itu kan mereka, darurat." Kita lihat Estonia jadi macan digital, tapi kita pikir "Ya itu kan mereka, kecil."
Setiap contoh keberhasilan selalu kita balas dengan "ya tapi". Setiap cerita perubahan selalu kita hadapi dengan alasan.
Dan pada titik itulah saya sadar bahwa masalah terbesar kita bukan korupsi. Masalah terbesar kita adalah cara kita berpikir tentang korupsi.
Psikologi "Sudah Telanjur"Semakin dalam saya menggali, semakin saya temukan pola yang menarik. "Sudah telanjur" adalah saudara kandung dari "nrimo" dalam versi paling pesimisnya. Dalam budaya Jawa, nrimo bisa berarti menerima dengan ikhlas, itu kadang mulia. Tapi nrimo juga bisa berarti menyerah sebelum berperang.
Di Indonesia, kita sering mencampuradukkan keduanya. Kita bilang "sudah telanjur" dengan nada pasrah, tapi kita bungkus seolah itu kebijaksanaan. Kita sebut realis, padahal sebenarnya kita hanya takut kecewa.
Saya ingat momen di Szeged itu dengan jelas. Teman Georgia saya tidak mencoba meyakinkan saya dengan data atau argumen. Ia hanya membiarkan saya bergulat dengan kata-katanya sendiri. Dan semakin lama saya bergulat, semakin jelas saya melihat "sudah telanjur" yang saya pegang erat selama ini ternyata rapuh.
Di baliknya, hanya ada ketakutan.Takut kalau ternyata perubahan itu mungkin, lalu saya harus mengakui bahwa selama ini saya hanya mencari alasan. Takut kalau ternyata saya juga bagian dari masalah, bukan sekadar korban. Takut kalau ternyata yang salah bukan hanya mereka di atas, tapi juga kita yang diam.
Malam-Malam Ramadan yang PanjangSekarang, di malam-malam Ramadan yang panjang di kota asing ini, saya terus memikirkan hal itu. Puasa mengajarkan kita untuk menahan lapar dan haus, tapi mungkin tahun ini saya belajar menahan sesuatu yang lebih sulit menahan diri dari bersembunyi di balik "sudah telanjur".
Saya mulai dengan hal-hal kecil. Saat membaca berita korupsi, saya berhenti di kalimat "ya sudah biasa" dan bertanya siapa yang paling diuntungkan dari kebiasaan ini? Saat mendengar keluhan tentang sistem, saya bertanya langkah kecil apa yang bisa saya lakukan sekarang? Saat tergoda menggunakan koneksi untuk memotong antrean, saya bertanya apakah ini juga bagian dari "sudah telanjur" yang saya perkuat?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak nyaman. Lebih nyaman kembali ke "sudah telanjur" dan move on. Tapi saya ingat teman Georgia itu, dan 30.000 polisi yang dipecat dalam semalam, dan keberanian sebuah negara kecil untuk berkata cukup.
Bukan Optimisme ButaJangan salah. Saya tidak tiba-tiba optimis bahwa Indonesia akan bersih dari korupsi dalam waktu dekat. Saya juga tidak naif mengira perubahan itu mudah atau cepat. Revolusi Mawar Georgia bukannya tanpa kritik—ada banyak masalah lain yang muncul setelahnya. Tapi itu bukan poinnya.
Poinnya adalah mereka berhenti menggunakan "sudah telanjur" sebagai alasan.
Dan itu, saya mulai percaya, adalah langkah pertama yang sesungguhnya. Sebelum reformasi birokrasi, sebelum digitalisasi administrasi, sebelum pemecatan massal harus ada reformasi cara berpikir. Harus ada titik di mana kita, sebagai individu, memutuskan untuk berhenti bersembunyi di balik narasi pasrah.
Georgia bisa karena mereka memutuskan untuk bisa. Bukan karena mereka lebih hebat atau lebih pintar. Tapi karena mereka berhenti mencari alasan.
Di Szeged, Saya BelajarMalam ini, saya menulis ini di kamar kos yang sunyi. Di luar, Szeged tertidur. Kota kecil yang menjadi penghubung Hungaria dan Serbia ini mungkin tidak akan pernah tahu bahwa di salah satu kamarnya, seorang anak rantau sedang bergulat dengan kebiasaan berpikir yang ia bawa dari tanah air.
Saya tidak pulang dengan solusi. Saya tidak membawa resep ajaib untuk memberantas korupsi. Tapi saya pulang dengan satu pertanyaan yang akan saya bawa ke mana-mana:
Kapan saya akan berhenti mengatakan "sudah telanjur"?
Karena mungkin, mungkin saja, jawaban dari semua kekacauan ini dimulai dari sana. Dari keberanian satu orang untuk berkata cukup. Mulai sekarang, saya pilih untuk tidak menyerah.
Dan jika Georgia, negeri kecil di Kaukasus itu, bisa melakukannya secara kolektif, siapa bilang kita tidak bisa? Mungkin tidak sekarang. Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi kalau kita tidak mulai, kapan lagi?
Ramadan ini, saya belajar satu hal, menahan lapar itu mudah dibanding menahan godaan untuk pasrah. Tapi mungkin, justru di situlah letak puasa yang sesungguhnya.





