Banda Aceh: Penyintas bencana hidrometeorologi di Kabupaten Aceh Tamiang mengaku merogoh kocek hingga Rp6 juta untuk membiayai pembersihan rumah dari material banjir bandang berupa lumpur. Uang tersebut digunakan untuk upah pekerja.
"Saya membiayai sendiri dengan mengupah orang lain membersihkan rumah dari lumpur banjir bandang," kata Fauziah, penyintas bencana hidrometeorologi di Kabupaten Aceh Tamiang, dikutip dari Antara, Senin, 16 Februari 2026.
Ia dan keluarganya mengaku tidak mampu membersihkan rumah karena lumpur menutupi seluruh bagian rumah. Wanita paruh baya tersebut menjelaskan bahwa rumahnya tertimbun lumpur akibat bencana hidrometeorologi akhir November 2025 berada di Kampung Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang.
Baca Juga :
Warga Aceh Tamiang Diimbau Lapor Kondisi Lumpur Bekas Banjir"Rumah kami tenggelam dan tidak terlihat lagi atapnya saat banjir. Saat selesai banjir, tersisa lumpur dalam rumah dengan ketinggian lebih dari dua meter. Plafon di seluruh bangunan rumah rusak semua," ujar Fauziah.
Terkait bantuan stimulan untuk rumah rusak terdampak bencana hidrometeorologi, Fauziah mengaku belum menerimanya. Dia juga tidak mengetahui apakah terdaftar sebagai penerima atau tidak.
"Saat ini kami sekeluarga tinggal menumpang di rumah kerabat. Kami belum dapat kembali karena selain dalam rumah masih tertimbun lumpur, jalan menuju ke rumah juga masih berlumpur," ucapnya.
Bencana alam di Aceh. Foto: Antara
Fauziah berharap pemerintah dapat membantu membersihkan lumpur di permukiman agar masyarakat segera bisa kembali ke tempat asal. Dukungan tersebut sangat dibutuhkan karena warga terdampak bencana sudah kehilangan hampir semua harta mereka.
"Kami hanya berharap bisa segera pulang, sama dengan keinginan masyarakat yang terdampak bencana lainnya di daerah ini. Apalagi menjelang bulan suci Ramadan dan berharap menjalankan ibadah puasa di rumah sendiri," ungkapnya.




