Jakarta, ERANASIONAL.COM – Pengamat politik Jamiluddin Ritonga menilai peluang Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya untuk mendampingi Presiden Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 masih sangat terbuka. Bahkan, menurutnya, peluang tersebut bisa lebih besar dibandingkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dalam keterangannya kepada media, Jamiluddin mengatakan dinamika politik lima tahun ke depan masih sangat cair. Karena itu, berbagai kemungkinan soal kandidat calon wakil presiden (cawapres) belum dapat dipastikan sejak dini.
“Peluang itu tetap ada. Dalam politik, segala sesuatu bisa berubah tergantung pada kinerja, persepsi publik, dan strategi partai,” ujarnya, Senin (16/2).
Menurut Jamiluddin, salah satu faktor utama yang bisa menguatkan posisi Teddy adalah konsistensi kinerjanya sebagai Seskab. Jabatan tersebut dinilai strategis karena berada di lingkar inti pemerintahan dan berperan penting dalam memastikan program-program presiden berjalan efektif.
Ia menilai, apabila kinerja Teddy stabil dan mendapat apresiasi publik hingga 2028, maka hal itu dapat menjadi modal politik yang signifikan. Apalagi, pada periode tersebut partai-partai politik biasanya mulai aktif memetakan figur yang berpotensi diusung dalam kontestasi Pilpres 2029.
“Tahun 2028 akan menjadi fase krusial. Jika performa Teddy tetap positif sampai saat itu, peluangnya untuk dilirik partai koalisi tentu semakin besar,” jelasnya.
Meski demikian, Jamiluddin mengingatkan bahwa kinerja pemerintahan saja tidak cukup. Elektabilitas tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan siapa yang akhirnya dipilih sebagai pendamping calon presiden.
Ia menekankan, Presiden Prabowo akan lebih mudah meyakinkan partai koalisi untuk mendukung Teddy jika tingkat keterpilihannya di berbagai survei menunjukkan tren positif. Elektabilitas yang kuat akan memperkecil resistensi dari partai-partai pendukung.
“Dalam sistem politik kita, survei punya pengaruh besar. Partai cenderung realistis dan mempertimbangkan data elektoral sebelum menentukan sikap,” katanya.
Menurutnya, jika Teddy mampu menjaga citra positif sekaligus meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya, maka partai koalisi tidak akan memiliki alasan kuat untuk menolak pencalonannya sebagai cawapres.
Namun jalan menuju posisi tersebut tidaklah mudah. Peta persaingan menuju 2029 diprediksi akan diwarnai oleh sejumlah figur kuat yang sudah memiliki basis dukungan maupun tingkat pengenalan publik yang tinggi.
Nama Gibran Rakabuming Raka masih menjadi salah satu kandidat yang diperhitungkan. Sebagai wakil presiden, Gibran memiliki panggung politik nasional yang besar dan akses langsung pada kerja-kerja strategis pemerintahan.
Selain itu, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono juga diperkirakan akan menjadi figur yang diperhitungkan. Dengan pengalaman di kabinet serta posisi strategis di partai, AHY memiliki mesin politik yang relatif solid.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut disebut sebagai sosok yang berpotensi mengalami lonjakan elektabilitas apabila kinerjanya di sektor ekonomi menunjukkan hasil signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
“Bukan hal mudah untuk menjadi yang teratas dalam survei. Figur-figur seperti Gibran, AHY, maupun Purbaya bisa saja mengalami peningkatan elektabilitas yang tajam menjelang 2028,” ungkap Jamiluddin.
Selain elektabilitas, faktor konfigurasi koalisi partai juga akan sangat menentukan. Dalam sistem presidensial Indonesia, dukungan partai politik menjadi syarat mutlak untuk maju dalam Pilpres. Oleh karena itu, keputusan akhir tidak hanya ditentukan oleh preferensi presiden, tetapi juga hasil negosiasi politik di antara partai koalisi.
Prabowo, sebagai figur sentral koalisi, tentu memiliki pengaruh besar dalam menentukan calon pendampingnya. Namun, ia tetap harus mempertimbangkan aspirasi partai-partai pendukung agar soliditas koalisi tetap terjaga.
Pengamat menilai, jika Teddy berhasil membangun komunikasi politik yang baik dengan partai-partai serta memperluas jejaring dukungan, peluangnya akan semakin terbuka. Terlebih, latar belakangnya sebagai perwira militer dan pejabat strategis di pemerintahan dapat menjadi nilai tambah dalam membangun citra kepemimpinan yang tegas dan profesional.
Meski berbagai spekulasi mulai bermunculan, perjalanan menuju Pilpres 2029 masih cukup panjang. Banyak variabel yang dapat memengaruhi peta politik, mulai dari kondisi ekonomi, stabilitas nasional, hingga dinamika internal partai.
Jamiluddin menegaskan bahwa publik sebaiknya melihat dinamika ini sebagai bagian dari proses politik yang wajar. Menurutnya, kemunculan sejumlah nama potensial justru menunjukkan bahwa regenerasi kepemimpinan di tingkat nasional terus berjalan.
“Yang terpenting adalah bagaimana para kandidat potensial ini menunjukkan kapasitas, integritas, dan kinerja nyata. Pada akhirnya, publiklah yang akan menilai,” katanya.
Dengan waktu yang masih tersisa sekitar tiga tahun sebelum suhu politik benar-benar memanas, semua figur yang disebut-sebut memiliki kesempatan yang relatif sama untuk memperkuat posisi. Konsistensi kerja, kemampuan membangun komunikasi publik, serta strategi politik yang matang akan menjadi penentu siapa yang akhirnya mendapatkan tiket sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo pada 2029.





