Hujan gerimis pada Senin (16/2/2026) malam yang menjadi deras tak menyurutkan niat ribuan warga Manado untuk memadati pecinan di Kecamatan Wenang. Area itu sedang bersolek dengan untaian lampion merah yang silang menyilang di sepanjang jalan serta di halaman deretan kelenteng di kedua sisinya.
Begitulah pemandangan perayaan Tahun Baru Imlek dirayakan di ibu kota Sulawesi Utara itu setiap tahun. Di dalam kelenteng, umat Konghucu sekaligus etnis China di Manado menjalankan ibadah, sementara warga lain bergantian berfoto dengan patung dewa-dewi serta ornamen kuda api yang melambangkan tahun 2577 dalam kalender China.
Semakin malam suasana semakin meriah. Di kelenteng atau tempat ibadah Tridharma (TITD) Ban Hing Kiong kelompok musik bambu beransambel nyaring melagukan tembang-tembang Nusantara.
Tiba-tiba dari TITD Kong Zi Miao beberapa ratus langkah dari situ, tabuhan gendering bertalu-talu dan kelompok barongsai beratraksi.
Di tengah hiruk pikuk itu, mendadak perhatian semua orang terarah ke langit. Bunyi sumbu yang tersulut diikuti letusan demi letusan yang memekakakkan teling seiring dengan pijar warna-warni.
Kembang api dari atap TITD Ban Hing Kiong dan TITD Kwan Kong yang saling berseberangan melesat ke angkasa tanpa henti.
Tak ada satu pun orang yang tak mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan keindahan dari tarian kembang api itu terlepas dari latar belakang etnis, kultural, maupun keagamaan mereka.
Dunia pun resmi memasuki tahun kuda api. Harapan akan masa yang lebih baik pun mengambang, termasuk dari Andre G (31), warga Kecamatan Paal Dua.
“Harapannya, tahun ini rezeki saya bisa kuat, besar, dan tahan lama seperti kuda yang lagi berapi-api,” kata Andre yang setahun terakhir sedang merintis usaha binatu.
1Ia mengaku mengeluarkan modal besar untuk usaha itu setelah meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan swasta, tetapi situasi terasa mulai stabil.
Andre bilang, ibunya beretnis Tionghoa, tetapi keluarga besarnya sudah tidak merayakan Tahun Baru Imlek di klenteng. Tahun ini, ia datang ke pecinan untuk mengantar dua temannya.
“Kami sebenarnya tetap merayakan Imlek, tapi cuma di gereja karena keluarga saya semuanya sudah Kristen. Di gereja saya ada ibadah perayaan Imlek karena mayoritas umatnya keturunan Tionghoa,” kata Andre.
Pegiat budaya Tionghoa di Sulut, Sofyan Jimmy Yosadi, mengatakan Tahun Baru Imlek adalah perayaan yang inklusif dan universal bagi warga etnis Tionghoa di Sulut dan Indoensia, termasuk yang tak beragama Konghucu.
“Jika kami umat Konghucu memaknai perayaan Tahun Baru Imlek dari keyakinan iman sebagai hari raya keagamaan, maka yang dirayakan masyarakat Tionghoa bukan Konghucu dari sisi budaya saja tentu berbeda. Semua bebas merayakannya dalam sukacita dan keceriaan,” kata Sofyan.
Ia menambahkan, Tahun Baru Imlek dapat diperingati sebagai ajang introspeksi sekaligus memperbarui diri. Hal ini, lanjutnya, sejalan dengan kewajiban keagamaan Konghucu untuk membantu yang berkekurangan agar dapat turut bersukacita pada perayaan tahun baru.
Sementara itu, Jemmy Binsar, ketua TITD Ban Hing Kiong, mengatakan umat Tridharma di Manado mengucapkan Syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas berkat dan anugerah yang diberikan selama tahun 2576.
“Untuk memasuki tahun 2577, (kami harap) masyarakat tetap adil dan Makmur, negara bisa maju, sandang pangan tercukupkan, rakyat aman dan Sejahtera,” kata dia.
Jemmy menambahkan, hujan yang turun pada malam perayaan Imlek di Manado dapat dimaknai sebagai berkat bagi manusia serta seisi bumi. Namun, lebih dari sekadar rezeki, hujan pada malam pergantian tahun China itu melambangkan keselarasan alam karena ia mengimbangi panas dan kering di musim yang berbeda.
“Tanpa hujan, tidak mungkin tumbuhan tumbuh. Sandang pangan pasti tidak akan tercukupi kalau tidak ada hujan,” ujarnya.





