Animo SBN Ritel Lesu, ORI029 Sepi Peminat atau Pasar Lagi 'Tiarap'?

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Produk SBN Ritel sepanjang 2026 masih sepi peminat seiring dengan rendahnya serapan pasar dan sejumlah sentimen baik dari domestik maupun global.

Surat utang negara untuk ritel, SBN Ritel seri ORI029 masih tersisa lebih dari Rp13 triliun menjelang tiga hari penutupan penawaran 19 Februari 2026. Kalangan analis menilai, sederet sentimen dari dalam dan luar negeri membayangi penerbitan perdana ini.

Berdasarkan data PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit), Senin (16/2/2026) pukul 15.10 WIB, ORI029 bertenor 3 tahun masih tersisa Rp6,13 triliun atau 40,9% dari target. Sementara ORI029 bertenor 6 tahun masih tersisa Rp7,21 triliun atau 72,2% dari target. Dengan kata lain, serapan pasar terhadap ORI029 baru mencerminkan 53,36% dari target Rp25 triliun yang ditetapkan DJPPR.

Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana, menerangkan, kombinasi ketegangan geopolitik yang kian tidak menentu dan daya beli masyarakat dalam negeri yang lesu, membuat serapan pasar terhadap produk ini kian terbatas.

Laporan Mandiri Institute, misalnya, mengungkapkan populasi kelas menengah di Indonesia mengalami kontraksi signifikan pada 2025, yang mana sebanyak 1,2 juta masyarakat terlempar dari kategori ini dan turun ke level ekonomi yang lebih rendah.

”Hal yang juga perlu dilihat adalah daya beli masyarakat ya. Harusnya ORI atau SBN Ritel ditujukan untuk investor individu dalam negeri, yang biasanya menjadi target market-nya kan kelas menengah ya. Pada saat yang sama kita lihat kelas menengah kita jumlahnya makin berkurang juga,” katanya kepada Bisnis, Senin (16/2/2026).

Baca Juga

  • Ini Peluang Masuknya Investor Asing ke Pasar SBN Rupiah Dekati Rp17.000
  • Pelemahan Rupiah Tingkatkan Risk Premium Yield SBN
  • Prospek SBN 2026: Yield Terbatas, Ruang Cuan Kian Sempit

Fikri menilai, hal ini perlu menjadi perhatian utama pengurus negara. Sebabnya, pendanaan melalui SBN Ritel hanya dapat diakses melalui investor individu, dengan besaran yang terbatas. Dengan begitu, menurunnya kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok, bakal segera memberikan dampak terhadap serapan instrumen investasi ini.

”Jadi tidak hanya kondisi global saja. Saya pikir ini [menurunnya kelas menengah] perlu diwaspadai dan saya pikir ini hal utama karena memang daya beli masyarakat,” katanya. 

Selain tantangan dari kondisi daya beli masyarakat, Fikri menilai kondisi geopolitik antara AS—Iran membuat investor meminta risk premi yang lebih besar, sehingga ORI029 dengan tenor 5,45—5,80% memiliki spread yang cukup berjarak dengan yield acuan saat ini sebesar 6,4%.

Terlebih, emas sebagai safe haven tengah mengalami reli yang cukup signifikan belakangan. Investor dinilai lebih memilih instrumen investasi logam mulia itu lantaran imbal hasil yang cukup besar, dengan jaminan keamanan berinvestasi.

”Mungkin investor juga melihat bahwa ada instrumen investasi yang cukup menarik dan bebas risiko juga, bentuknya emas. Bahkan return-nya lebih tinggi dibandingkan ORI atau SBN sendiri,” katanya.

menilai dalam sisa waktu penjualan peluang penyerapan ORI029 masih dapat berasal dari aksi reinvestasi investor di pasar SBN. Namun, kontribusi tersebut dinilai tidak cukup signifikan untuk menyerap seluruh sisa penerbitan.

Data BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan sedikitnya terdapat empat Surat Utang Negara (SUN) yang jatuh tempo pada Februari 2026 dengan total Rp46,85 triliun. Kendati demikian, tidak terdapat produk SBN Ritel yang jatuh tempo pada periode tersebut.

”Hari Rabu akan ada lelang SUN juga. Mungkin investor juga melihat ini [lelang SUN] lebih menarik,” kata Fikri, Senin (16/2/2026).

Di satu sisi, Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto, menilai ketegangan geopolitik antara AS—Iran membuat investor meminta imbal hasil yang lebih atas ketidakpastian yang terjadi saat ini.

”Ketegangan geopolitik ini kan menyebabkan ketidakpastian meningkat. Kalau saya lihat juga, ritel akhirnya wait and see untuk masuk,” katanya kepada Bisnis, Senin (16/2/2026).

Hanya saja, peluang terserapnya produk perdana SBN Ritel ini masih terbuka, terutama dari aksi reinvestasi investor atas obligasi jatuh tempo. Data BRI Danareksa Sekuritas, menunjukan bahwa sedikitnya terdapat empat SUN yang jatuh tempo pada 2026, dengan total Rp46,85 triliun.

Hanya saja, peluang terserap penuh ORI029 dinilai kecil, meskipun kondisi makroekonomi dalam negeri dinilai tengah dalam fase yang solid. Ramdhan memprediksi penawaran ORI029 masih akan tersisa 10% di bawah target.

Bisnis telah berupaya meminta konfirmasi DJPPR mengenai prospek penjualan ORI029 di tengah penurunan outlook Moody's, tetapi hingga berita ini terbit, tidak ada jawaban dari lembaga tersebut.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bank Raya Umumkan Pemenang Program “Pesta Raya” Giatkan Inklusi Keuangan Digital di Masyarakat
• 2 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Prabowo Sempat Rapat Terbatas Sebelum Berangkat ke Amerika
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
Hilangnya Nama Tionghoa pada Era Orde Baru: Kecurigaan Politik dan Tekanan Sosial
• 4 jam lalukompas.com
thumb
OH MY GIRL Siap Comeback dengan Formasi Lengkap
• 7 jam lalubeautynesia.id
thumb
Pemkot Surabaya Kawal Tuntas Kasus Penganiayaan Anak di Lakarsantri
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.