Jet lag kerap menjadi momok bagi traveler saat menempuh penerbangan jarak jauh. Saat mengalami jet lag, tubuh rasanya lelah, sulit tidur, konsentrasi menurun, hingga membuat suasana hati terganggu.
Meski begitu, kamu tidak perlu khawati, karena ada cara paling ampuh untuk mengatasi jet lag. Para pakar sepakat, kunci utama untuk mengatasi jet lag bukanlah melatonin atau hormon alami yang diproduksi oleh kelenjar pineal di otak untuk mengatur siklus tidur-bangun (ritme sirkadian) tubuh, melainkan paparan cahaya yang tepat.
Dilansir New York Post, ahli saraf bersertifikat sekaligus dokter gaya hidup, Dr. Lynette Gogol, mengatakan jet lag terjadi karena jam biologis tubuh tidak sinkron dengan siklus terang-gelap di destinasi tujuan.
“Perjalanan ke arah timur biasanya lebih berat bagi tubuh dibanding ke barat, karena jam biologis harus dimajukan. Secara biologis, itu lebih sulit daripada memundurkannya,” ujar Gogol.
Menurutnya, saat bepergian ke arah timur, paparan cahaya pagi sangat membantu untuk memajukan jam tubuh sehingga lebih mudah tertidur dan bangun sesuai waktu setempat. Sebaliknya, cahaya terang di malam hari sebaiknya dihindari, terutama satu jam sebelum tidur.
Sementara itu, untuk perjalanan ke arah barat, cahaya di sore hingga awal malam justru membantu tubuh menyesuaikan diri, agar tidur lebih larut terasa alami. Paparan cahaya terang menjelang tidur tetap perlu diminimalkan.
“Tubuh akan lebih cepat beradaptasi jika mendapat sinyal cahaya yang jelas tentang arah perubahan jam biologis,” jelas Gogol.
Jika cahaya alami sulit didapat, penggunaan lampu terapi cahaya juga bisa menjadi alternatif. Gogol menyarankan paparan cahaya terang sekitar 10.000 lux selama 20-30 menit di pagi hari, khususnya setelah perjalanan ke arah timur, meski penggunaannya harus diatur dengan cermat.
Hal senada juga diungkapkan oleh perawat, sekaligus peninjau medis di Cerebral Palsy Center, Kelsey Pabst. Ia mengakui melatonin dosis rendah (0,5-3 mg) dapat membantu waktu tidur, namun menegaskan bahwa akar masalah jet lag tetap berkaitan dengan cahaya.
“Jet lag sebagian besar adalah masalah cahaya, bukan sekadar kurang tidur,” ujarnya.
Pabst juga menyarankan penggunaan penutup mata untuk menghindari paparan cahaya yang tidak diinginkan, terutama saat penerbangan semalam atau melintasi perbedaan zona waktu lebih dari enam jam.
Gogol menambahkan, jet lag tidak hanya memengaruhi tidur. Ketidaksinkronan jam biologis juga berdampak pada energi, suasana hati, pencernaan, hingga ketajaman mental.
“Cahaya adalah sinyal terkuat bagi pusat pengatur waktu di otak. Itulah sebabnya efek jet lag jauh melampaui sekadar rasa mengantuk,” tutupnya.





