Dari FOMO ke JOMO, Menuju GOMO: Kesadaran di Era Digital

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Di tengah derasnya arus informasi digital, manusia modern hidup dalam paradoks: semakin terkoneksi, semakin rentan merasa tertinggal. Fenomena ini dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out)—kecemasan sosial yang muncul ketika individu merasa kehilangan pengalaman, peluang, atau momen penting yang dinikmati orang lain. Media sosial menjadi katalis utama, membentuk realitas kurasi yang sering kali memicu perbandingan sosial tanpa henti.

Namun, evolusi kesadaran digital tidak berhenti pada FOMO. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul konsep JOMO (Joy of Missing Out), yaitu kebahagiaan yang dirasakan ketika seseorang memilih untuk tidak ikut dalam arus informasi yang berlebihan. JOMO menjadi bentuk resistensi terhadap tekanan sosial digital—sebuah sikap menerima bahwa tidak semua hal harus diikuti.

Kini, kita memasuki fase berikutnya yang lebih matang: GOMO (Growth Over Missing Out). Jika FOMO didorong kecemasan dan JOMO menekankan penarikan diri, maka GOMO adalah fase transformasi aktif—sebuah paradigma baru yang mengajak individu menciptakan peluang hidup secara sadar, produktif, dan bermakna.

Evolusi Psikologis di Era Digital: Dari FOMO menuju GOMO

Perjalanan dari FOMO menuju GOMO bukan sekadar perubahan istilah populer, tetapi mencerminkan transformasi psikologis masyarakat dalam menghadapi realitas digital yang semakin intens. FOMO lahir dari ekosistem media sosial berbasis algoritma yang memprioritaskan engagement dan visibilitas, sehingga mendorong individu untuk terus terhubung dan memantau kehidupan orang lain.

Sherry Turkle dalam kajiannya tentang relasi manusia dan teknologi menunjukkan bahwa konektivitas digital menciptakan paradoks baru: alone together—terhubung secara virtual namun rentan terhadap isolasi psikologis. Sementara itu, penelitian Andrew Przybylski dan koleganya (2013) memperkenalkan FOMO sebagai kecemasan sosial yang muncul dari persepsi bahwa orang lain menjalani pengalaman yang lebih memuaskan.

Timeline yang dipenuhi narasi kesuksesan, perjalanan eksotis, gaya hidup ideal, atau pencapaian karier membentuk constructed social reality, yakni realitas yang telah melalui proses seleksi dan kurasi. Dalam perspektif teori social comparison (Festinger), paparan berulang terhadap representasi ideal ini memicu upward comparison—perbandingan dengan individu yang dianggap lebih berhasil—yang berpotensi menurunkan kesejahteraan psikologis. Akibatnya, perhatian menjadi terfragmentasi, fokus menurun, dan individu mengalami tekanan untuk selalu hadir secara digital. Fenomena doomscrolling, kecanduan notifikasi, hingga multitasking digital menjadi manifestasi dari attention economy, di mana perhatian manusia diperlakukan sebagai komoditas utama.

Sebagai respons terhadap kelelahan digital, muncul JOMO. JOMO mencerminkan kesadaran untuk menetapkan batasan teknologi dan memilih ketenangan dibanding keterlibatan konstan. Namun, fase ini masih bersifat defensif; menghindari arus digital tidak otomatis menghasilkan makna hidup yang lebih dalam.

Di sinilah GOMO menjadi tahap evolusi berikutnya. GOMO menandai pergeseran dari konsumsi sosial menuju penciptaan peluang secara sadar. Individu tidak lagi sekadar menghindari distraksi, tetapi mengelola perhatian sebagai sumber daya strategis dan mengarahkan energi pada tujuan personal yang bernilai. Evolusi ini menunjukkan bahwa adaptasi manusia di era digital bukan hanya soal konektivitas, tetapi kemampuan merebut kembali kendali atas perhatian dan menjalani kehidupan secara lebih intentional.

GOMO: Dari Konsumen Konten menuju Pencipta Kesempatan

Jika FOMO menjerat individu dalam kecemasan sosial dan JOMO menawarkan ruang jeda dari kebisingan digital, maka GOMO menandai tahap kesadaran yang lebih matang dalam evolusi manusia digital. Ia bukan sekadar reaksi terhadap tekanan teknologi, melainkan pergeseran cara hidup: dari reactive living menuju intentional living.

Selama bertahun-tahun, budaya media sosial membentuk individu sebagai konsumen konten yang terus merespons arus informasi. Algoritma mengarahkan perhatian, tren viral membentuk percakapan, dan validasi publik perlahan menjadi ukuran nilai diri. GOMO hadir sebagai koreksi. Individu tidak lagi sibuk membandingkan diri dengan kehidupan orang lain, tetapi mulai mengambil alih narasi hidupnya sendiri. Media sosial digunakan secara selektif sebagai alat strategis, bukan sebagai sumber legitimasi identitas.

Pada fase ini, proaktivitas menjadi kunci. Individu GOMO menciptakan peluang, bukan menunggu pengakuan eksternal. Keputusan hidup didasarkan pada nilai dan tujuan personal, bukan sekadar mengikuti tren. Keberhasilan tidak lagi diukur dari visibilitas digital, tetapi dari kualitas pengalaman dan makna yang dihasilkan.

Fenomena ini mulai terlihat dalam berbagai praktik nyata. Di kalangan profesional muda global, muncul tren creator-preneurship, di mana individu tidak lagi sekadar menjadi konsumen media sosial tetapi membangun komunitas belajar, platform edukasi, atau usaha berbasis passion yang berangkat dari nilai personal. Banyak kreator yang secara sadar mengurangi frekuensi unggahan demi menjaga kualitas hidup dan fokus pada proyek jangka panjang. Demikian pula gerakan slow productivity yang dipopulerkan oleh sejumlah pemikir produktivitas modern menekankan pentingnya fokus mendalam dibanding sekadar tampil aktif secara online.

Di Indonesia, praktik GOMO juga mulai terlihat pada generasi muda yang menggunakan media sosial sebagai sarana kolaborasi nyata—misalnya komunitas edukasi digital, gerakan literasi, hingga pengembangan UMKM berbasis konten autentik. Alih-alih mengejar viralitas sesaat, mereka memanfaatkan platform digital untuk membangun relasi, mengembangkan keterampilan, dan menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan.

Kesadaran ini menuntut pengelolaan perhatian (attention management). Dalam ekonomi perhatian, fokus menjadi sumber daya yang langka. Individu belajar memilih apa yang layak diperhatikan, kapan perlu terkoneksi, dan kapan perlu mengambil jarak dari layar. Dalam perspektif komunikasi digital, GOMO mencerminkan pergeseran dari audience-driven identity menuju self-authored identity—identitas yang dibentuk oleh refleksi diri, bukan semata reaksi publik.

Pada akhirnya, GOMO mengajak kita melampaui sekadar hadir di dunia digital: bukan lagi takut tertinggal, tetapi berani menciptakan arah hidup yang bermakna.

Mindful Living, Etika Kehadiran, dan Jalan Menuju GOMO

Di era ketika perhatian menjadi komoditas paling berharga, manusia modern menghadapi paradoks baru: semakin terhubung, semakin sulit untuk benar-benar hadir. Kita hidup dalam dunia yang menuntut respons cepat, keterlibatan tanpa jeda, dan visibilitas yang terus-menerus. Notifikasi berbunyi, timeline bergerak tanpa henti, dan algoritma bekerja diam-diam mengarahkan fokus kita. Dalam situasi ini, pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar bagaimana menggunakan teknologi, tetapi bagaimana tetap menjadi manusia yang utuh di tengah arus digital yang tak pernah berhenti.

GOMO menawarkan perspektif baru yang melampaui FOMO dan JOMO. Ia tidak hanya mengajak individu menjauh dari kecemasan sosial atau menarik diri dari kebisingan digital, tetapi mendorong lahirnya kesadaran hidup yang lebih disengaja (intentional living). Pada titik ini, konsep mindful living menjadi fondasi penting—kemampuan untuk hadir sepenuhnya dalam pengalaman hidup tanpa terpecah oleh distraksi yang terus bersaing memperebutkan perhatian.

Ironisnya, teknologi yang dirancang untuk mempermudah hidup justru sering menciptakan fragmentasi perhatian. Dalam kerangka attention economy, perhatian manusia diperlakukan sebagai sumber daya yang diperebutkan oleh platform digital. Notifikasi tanpa henti menciptakan rasa urgensi semu, seolah setiap pesan harus segera dijawab. Kita berpindah dari satu layar ke layar lain, dari satu percakapan ke percakapan berikutnya, tanpa pernah benar-benar tenggelam dalam satu pengalaman.

Di sinilah mindful living memperkenalkan apa yang dapat disebut sebagai etika kehadiran—kesadaran untuk memilih kapan harus terkoneksi dan kapan perlu kembali kepada diri sendiri. Ini bukan gerakan anti-teknologi, melainkan praktik menempatkan teknologi dalam proporsi yang sehat. Gerakan slow living dan praktik deep work yang menekankan fokus mendalam menjadi contoh nyata upaya manusia modern untuk merebut kembali kendali atas perhatian.

Digital detox, waktu tanpa layar, serta kebiasaan membangun kembali interaksi tatap muka bukan sekadar tren gaya hidup, tetapi kebutuhan psikologis untuk memulihkan keseimbangan. Dalam konteks ini, GOMO mengajak individu melampaui sekadar konsumsi informasi menuju penciptaan pengalaman yang bermakna.

Salah satu perubahan paling signifikan dari GOMO adalah redefinisi produktivitas. Dalam budaya “selalu online”, produktivitas sering disalahartikan sebagai visibilitas—seberapa sering kita terlihat aktif atau responsif. Padahal, banyak proses transformasi justru terjadi dalam ruang yang tidak terlihat: refleksi personal, pembelajaran mendalam, atau kerja kreatif yang membutuhkan keheningan. GOMO menggeser fokus dari tampil produktif menjadi benar-benar produktif.

Lebih dari itu, GOMO mengajak kita untuk menghidupi kehidupan, bukan sekadar menyaksikannya melalui layar. Menghabiskan waktu bersama keluarga tanpa distraksi digital, mendalami pekerjaan tanpa multitasking berlebihan, atau mengejar tujuan personal tanpa terus membandingkan diri dengan orang lain menjadi bentuk keberanian baru di era hiper-konektivitas.

Transformasi dari FOMO ke JOMO, dan kini menuju GOMO, pada akhirnya adalah perjalanan kolektif manusia untuk menemukan kembali makna di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat. Pertanyaan yang dulu mendominasi—“Apa yang saya lewatkan?”—perlahan bergeser menjadi pertanyaan yang lebih reflektif: “Apa yang ingin saya ciptakan?”

Pada akhirnya, masa depan bukan milik mereka yang selalu hadir di setiap percakapan digital, tetapi mereka yang mampu memilih dengan sadar di mana energi dan perhatiannya ditanamkan. Di tengah dunia yang terus meminta kita untuk melihat ke luar, mungkin keberanian terbesar adalah kembali ke dalam—menemukan arah, menciptakan peluang, dan menjalani hidup bukan sebagai reaksi terhadap arus, tetapi sebagai pilihan yang utuh dan bermakna. Karena hidup yang baik bukan tentang mengikuti semua kemungkinan, melainkan tentang menghadirkan diri sepenuhnya pada hal-hal yang benar-benar penting.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penetapan Awal Ramadan Berpotensi Beda, Ini Penjelasan MUI
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
65 Warga di Purworejo Diduga Keracunan Usai Makan di Acara Ruwahan
• 10 jam laludetik.com
thumb
Brimob Gagalkan Tawuran Dini Hari di Ciracas, 4 Sajam Diamankan
• 23 jam laludisway.id
thumb
Ini Alasan Pesan Denada Tak Kunjung Dijawab oleh Ressa Rossano, Kuasa Hukum Singgung Pihak Lain
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Tujuh Sumur Vihara Gayatri, Ritual Pembersihan Diri yang Terbuka untuk Semua Umat
• 3 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.