JAKARTA, KOMPAS.com - Perayaan hari besar seperti Tahun Baru Imlek menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu umat Tionghoa untuk berkumpul bersama keluarga.
Salah satunya warga Pademangan, Jakarta Utara, bernama Buntoro (62), yang mengawali perayaan Imlek dengan sembhayang bersama keluarga di Vihara Dharma Bhakti Ancol.
Selesai beribadah, Buntoro akan berkunjung ke rumah saudara-saudaranya untuk bersilahturahmi.
"Iya, kita habis ini kita punya keluarga kakak-kakak. Saya kan paling kecil, kita ke kakak, ke mana-mana gitu ya, ya gitulah kayak Lebaran gitu, silahturahmi," kata Buntoro ketika diwawancarai Kompas.com di Vihara Dharma Bhakti, Selasa (17/2/2026).
Selain bersilahturahmi, ada tradisi khusus yang akan dilakukan Buntoro bersama keluarga setiap kali Imlek, yakni makan bakmi atau mi panjang umur.
"Mi itu paling penting, bakmi panjang umur," tutur dia.
Selain rasanya yang gurih dan lezat, kata Buntoro, makan bakmi panjang umur merupakan simbol harapan agar rezeki, kesehatan, dan usaha yang dijalani terus panjang dan tak pernah terputus.
Warga Klender, Jakarta Timur, Bong (68), juga merayakan Imlek dengan makan mi panjang umur.
"Iya makan mi panjang umur juga pasti itu udah jadi budaya," kata dia.
Baca juga: MBG Disetop Sementara Saat Imlek, Awal Ramadhan, dan Lebaran
Selain makan mi secara bersama-sama, budaya lain yang tak bisa ditinggalkan ketika Imlek adalah bagi-bagi angpao.
Bong mengaku selalu menyediakan beberapa angpao untuk keponakan-keponakannya. Tapi, Bong enggan menyebutkan berapa uang yang ia siapkan.
Bagi Bong, nominal uang dalam angpao tidak terlalu penting. Terpenting adalah merawat budaya.
"Itu budaya dari dulu nenek moyang itu, kalau kita-kita kasih angpao ke anak-anak seumpamanya gitu, kalau orang tua biasa kan anak kasih orang tua budayanya dulu nenek moyang itu," tegas dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang