Mahakarya Pictures telah menyiapkan blueprint yang lebar bagi film karya terbaru mereka, Pelangi Di Mars. Film ini diproyeksi tidak sekadar tontonan layar lebar sekali habis, melainkan sebagai sebuah ekosistem Intellectual Property (IP) yang berkelanjutan.
Produser Pelangi Di Mars, Dendi Reynando, menegaskan pihaknya menyiapkan peta jalan panjang bagi semesta film ini.
Dendi mengungkap kegelisahannya terhadap dominasi produk luar negeri di pasar kreatif lokal. Ia menyoroti karakter-karakter dari mancanegara menguasai rak toko mainan di Indonesia, sementara produk karakter lokal masih sangat minim.
"Jadi, kalau kita bisa lihat saat ini di toy store enggak ada IP Indonesia. Harapan saya, lebih dari film. Setelah film ini hit di seluruh Indonesia, karakter yang ada di film ini hidup di berbagai bentuk," ujar Dendi Reynando dalam jumpa pers di Thamrin, Jumat (13/2).
Dendi memimpikan karakter Pelangi Di Mars nantinya dapat ditemukan masyarakat dalam keseharian mereka.
"Baik itu baju, atau tas, atau apa pun itu seperti bagaimana IP yang kita kenal. Mungkin kita tahu anak-anak mau beli mainan Star Wars, sebelum filmnya tayang," tutur Dendi.
Lebih lanjut, Dendi menyampaikan kritik sekaligus motivasi bagi industri kreatif lokal agar tidak terus-menerus menjadi penonton di rumah sendiri.
"Tanda kutip, kita dijajah sama IP asing. Enggak salah. Tapi kita mau film ini jadi alternatif, bahwa Indonesia juga bisa," tegas Dendi.
Perkembangan Sekuel, Prekuel, dan Spin-OffDengan potensi cerita yang luas, produser mengungkap pengembangan cerita di masa depan. Dendi membocorkan, kerangka besar ekspansi cerita sudah ada.
"Kami sudah siapkan sekuel, prekuel, spin-off ke depan. Tapi kami mau tunggu feedback pasar dari penonton," ungkap Dendi.
Meski begitu, Mahakarya Pictures ingin melihat seperti apa tren di penonton Indonesia.
"Apa yang mereka suka, mungkin itu yang menentukan mau ceritakan apa. Blueprint sudah kami siapkan, jadi mohon doa dari teman-teman semua," tutup Dendi.
Film Pelangi Di Mars tayang pada Lebaran 2026.





